Gemamitra.com

“Saya percaya bahwa di kampunglah terdapat jiwa sejati orang Indonesia. Di dalam labirin gang-gang sempit itulah mengalir darah Indonesia sesungguhnya. Hidup seperti memiliki dimensi yang lebih lambat. Saya bisa diam berjam-jam melihat orang-orang yang tinggal dengan aktivitas, ritual, dan kebersahajaan keseharian.” – Stefano Romano.

Itulah alasan Rumpaka Percisa mengangkat tema “Kampungku dalam Puisi” dalam rangka memperingati Hari Puisi Nasional yang diperingati setiap tanggal 28 April. Dimulai dengan mengajak anak-anak bernyanyi yang dipandu Wanti Susilawati (Moderator), kakak pemateri, relawan, beserta ibu-ibu dari anak-anak. Dilanjutkan senam anak-anak “Baby Shark” dan “Senam Penguin”. Sedangkan senam KPK urung dilaksanakan karena tidak ada proyektor.

Kak Intan Puspitasari (Save the Children) menjelaskan tentang kegiatan yang diawali dengan berkeliling kampung. Anak-anak dan yang terlibat berdoa terlebih dahulu agar diberikan keselamatan selama berkeliling. Anak-anak diajarkan untuk tertib dengan berbaris sesuai urutan anak-anak yang tinggi di belakang dan paling kecil di depan. Di bantu oleh Ibu Sri (Anggota PKK) penduduk asli sekitar balai yang bertugas sebagai petunjuk arah.

Selama perjalanan, anak-anak dijelaskan perihal lokasi yang mereka lihat dan lewati. Jalan, rumah warga, masuk gang, melewati sekolah, hewan, dan banyak lagi. Selain berkeliling, anak-anak diajak ke sebuah jembatan gantung Sungai Citanduy. Jembatan yang menghubungkan perbatasan Tasikmalaya sebelah utara dengan Ciamis sebelah selatan, tepatnya daerah Cihaurbeuti.

Perjalanan berkeliling kampung cukup menguras energi, tapi anak-anak tetap semangat karena dibantu oleh kakak-kakak relawan dari Kebon Buku. Mengajak anak-anak bernyayi sepanjang jalan adalah strategi untuk melupakan lelah sejenak. Sebelum menuju jembatan gantung anak-anak melewati jalan menurun. Harus berhati-hati agar penyeberangan aman untuk anak-anak. Tiba di jembatan gantung, anak-anak berjalan perlahan. Termasuk para pembimbing melakukan hal yang sama. Meskipun Ibu RW menjelaskan bahwa jembatannya aman untuk diseberangi. Ada beberapa anak yang biasa menyeberangi, tapi ada juga yang belum pernah dan gemetaran ketika berjalan di atas jembatan. Salah seorang tua dari anak-anak Gali Nagari dibuat kagum, ternyata ada jembatan indah di sekitar balai.

Setelah anak-anak melewati jembatan, terdapat sebuah jalan menanjak yang terhampar sawah dan kebun luas. Di sana, anak-anak istirahat sambil bernyanyi melepas lelah di bawah pohon rindang. Mereka senang sekali dengan perjalanan berkeliling kampung ini. Setelah cukup istirahat, anak-anak pun melewati jembatan untuk kembali ke balai.

Anak-anak menuliskan puisi dari hasil pengamatan, pengalaman, dan perjalanan selama keliling kampung. Menuangkan hasil tangkapan seluruh indera mereka dalam bentuk kata, kalimat, larik, dan bait. Anak-anak menulis puisi dibantu arahan dari Kak Inggri Dwi Rahesi (Duta Perpustakaan Jabar 2018), relawan Kebon Buku, dan Konde Sartika. Setelah selesai menulis puisi, anak-anak diberi pencerahan dalam mengilustrasikan puisi ke dalam komik strip oleh Kak Citoel (Komikus Yogyakarta). Mereka belajar memvisualisasikan pengalaman mereka dalam melihat, mencium, dan menyerap peristiwa selama berkeliling kampung. Mulai dari pohon, jembatan, sekolah, sawah, mobil hingga tukang bakso. Suasana begitu tenang, mereka benar-benar memperhatikan dan takjub dengan kelihaian Kak Citoel dalam membuat komik. Anak-anak diminta untuk menyebut apa yang dilihat dan divisualisasikan oleh Kak Citoel. Acara diakhiri pembacaan puisi oleh anak-anak.

“Anak-anak melihat keajaiban karena mereka mencarinya.” – Christopher Moore.

Oleh : Vudu Abdul Rahman