Gema Mitra – Kab. Tasikmalaya

Cangklong atau padud layaknya pusaka, tak hanya sekedar sebuah alat untuk menikmati tembakau. Namun tampilannya harus memukau siapapun yang memandangnya. Hingga seorang yang saat ‘madud’ akan terihat gaya.

Adalah Ali Abdul Jabar (34) nama lengkapnya. Dia seniman cangklong atau pipa tembakau asal Kabupaten Tasikmalaya. Cangklong hasil karyanya sukses menembus pasar dunia.

Lelaki yang akrab disapa Ali ini kali pertama mengenal cangklong dari seorang pipe maker, Wandi. Karyanya sudah terlebih dahulu tembus ke mancanegara. Ilmu meracik cangklong yang ia serap dari kawannya tersebut telah menjadi sumber rezeki. “Dulu belajar lebih serius (buat cangklong) dari teman,” kata Ali di kediamannya, Kp. Sangali Desa Pasir Salam Kecamatan Mangunreja.

Cangklong ternyata tak sederhana mulai dari bahan dan pembuatannya. Sebuah padud yang baik, bukan hanya bahannya memenuhi syarat, akan tetapi dalam pembuatannya pun harus teliti dan serius.

Alt

Ali Abdul Jabar serius menekuni bisnis cangklong sejak 2017. (Foto: Varikesit/gemamitra.com)

Ibaratnya padud adalah sebuah tungku pembakaran, maka ruang (bowl) harus pas besarannya ketika diisi tembakau. “Ruang harus pas, jangan sampai lubang padud terlalu kecil atau terlalu besar. Juga tidak terlalu dalam dan tak terlalu dangkal ke dalamannya”, ungkap Ali.

Pada tahun 2017, Ali terjun langsung membuat cangklong dengan bahan-bahan lokal seadanya, seperti dari kayu pohon asem. nangka, sawo, dengan modal mesin bor tangan, gurinda dan hampelas. Hasil karya itu dijual di lingkungannya saja.Dia manfaatkan ruangan kecil di bagian halaman rumahnya sebagai studio.

“Berawal dari mesin bubut pemberian orang dan alat lainnya untuk pembuatan cangklong. Passion saya akhirnya di situ. Saya pelajari luar dalam (pembuatan cangklong) hingga sekarang,” ucap Ali

Guna menjaga kualitas cangklong buatannya, Ali mengimpor langsung bahan baku berupa kayu briar dan ujung cangklong tempat menempelkan mulut. Ia membeli bahan itu dari Italia.

Alt

Cangklong made in Tasikmalaya ini berbahan kayu briar. (Foto: Istimewa)

“Briar ini kayu tungku. Sebelum jadi bahan cangklong, kayu Briar sudah melalui proses perebusan selama 24 jam kemudian ditiriskan selama 3 tahun. Jadi awet dipakai puluhan tahun. Saya ambil (impor) kayu briar ini yang grade satunya. Jadi tenang berani olah dan menjual padud (cangklongnya) karena terjamin bagus,” tuturnya.

Cangklong buatan Ali sudah dikenal banyak orang. bahkan dikoleksi pecinta cangklong di berbagai negara. Seperti, Amerika, Malaysia, Vietnam, Inggris, Yunani, Cheko dan Jerman. “Pemesannya banyak, ada yang dari Indonesia, ada juga dari luar negeri hampir 80%, ” ucap Ali.

Ali menjual cangklongnya itu mulai dari Rp  800 – 1 Juta di Indonesia dan 150$ untuk luar negeri, tergantung tingkat kesulitan dan kerumitan cangklong yang dibuat. Dari hasil penjualannya itu, pendapatan bersih sudah mencapai di atas 500$.

Kesehariannya dalam membuat cangklong tak sedikit orang menggapnya seorang pengangguaran. “Mungkin paradigma masyarakat menganggap bahwa pekerjaan saya ini “pangedulan” membuang waktu percuma,” ucap Ali.

Ali mengaku untuk mempertahankan kualitas Cangklong harus total, jangan sampai turun naik kalau bisa ditingkatkan. Karena itu penting untuk menjaga kepercayaan konsumen. “Saya sih, kalau mood lagi gak bagus, mending istirahat jangan dipaksakan. Jadi harus fresh,” pungkas Ali. (Red/Cbug)***