Gemamitra.com – Kota Tasikmalaya

Upaya lestarikan kaulinan tradisional dan pupuh, Komunitas Icikibung pimpinan Abah Irwan bersama Komunitas Katara Badranaya yang digawangi Andi Deblenk gelar Workshop dengan tema “Ngaguar Piwuruk Sepuh Anu Ampuh” di MTs Darul Ulum Kp. Legok Ringgit, Kel. Setiawargi, Kec. Tamansari Kota Tasikmalaya, Sabtu 15/02/2020.

Hal itu dilakukan untuk membekali dan mendukung peningkatan kinerja Pendidikan terkait kaulinan tradisional dan pupuh.

Kepala Sekolah MTs Darul Ulum Sopyan Asyari mengatakan bahwa kegiatan ini terlaksana berkat ide dari Abah Irwan, apalagi sekolah tersebut sedang menghadapi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini. “Tujuannya kami ingin sekolah ini mempunyai ciri yang khas yaitu Kaulinan Tradisional dan Pupuh,” terang Sopyan.

Ketua Komunitas Icikibung, Abah Irwan mengatakan, Jenis permainan yang sering dibawa Icikibung mempunyai ciri khasnya tersendiri seperti Kaulinan Gumbira yaitu kaulinan yang tidak memakai alat, Kaulinan Saigel yaitu Kaulinan yang memakai alat dan Kaulinan Tanding yaitu Kaulinan yang dituntut untuk belajar bersaing dan solidaritas.

“Kebetulan saya mengisi materi kaulinan tradisional, yang memang perlu khususnya untuk guru-guru tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), yang memang sebetulnya di kurikulumnya ada tentang permainan sehingga menjadikan bekal untuk mereka dan dapat dipraktekkan kembali ke siswa-siswanya bahwasannya permainan tradisional itu harus dijaga, dilestarikan,” tutur Abah Irwan.

Lebih lanjut dikatakan, program icikibung lebih kepada roadshow dari sekolah ke sekolah. Dan lumayan banyak yang merespon guru-gurunya yang pernah mengikuti.

“Diharapkan, ke depan penyelenggaran ini bisa jadi wadah untuk kaulinan tradisional, karena sangat jarang sekolah yang konsen akan budaya. Dan mudah-mudahan rencana menjadi laboratorium kaulinan di madrasah ini bisa terwujud, sehingga kaulinan bisa menjadi tradisi yang dipertahankan,” Pungkas Abah Irwan.

Ketua Komunitas Katara Badranaya, Andi Deblenk mengungkapkan, bahwa selain kaulinan tradisional, bekal ilmu yang diperoleh dari workshop tersebut bisa menjadikan para pendidik mampu menanamkan ajaran-ajaran dan nilai-nilai moral budi pekerti yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak bangsa melalui Tembang pupuh budaya sunda.

“Untuk itulah, kegiatan semacam ini sangat penting. Jangan sampai anak usia dini di Tasikmalaya memiliki karakter yang tidak mengenal budaya sunda dan kesenianya. Peran penting para guru dalam hal ini sangatlah penting,” kata Aki Deblenk sapaan akrabnya

Disamping itu, dikatakan Aki Deblenk, dengan kegiatan seminar tersebut juga sebagai langkah untuk melestarikan budaya dan kesenian tradisional yang hampir punah.

Selain itu, melestarikan tembang pupuh sebagai warisan nenek moyang yang mempunyai nilai-nilai luhur.

“Makanya, kami memberikan perhatian penuh kegiatan Workshop dalam rangka untuk melestarikan adat budaya sunda dan kesenian tradisional peninggalan nenek moyang,” terangnya.

Memang, diakui Aki Deblenk, ditengah era modernisasi dan globalisasi yang semuanya serba digital dewasa ini adat budaya sunda dan kesenian tradisional nenek moyang bisa ditinggalkan dan dilupakan oleh para milenial.

Mereka cenderung banyak menerima dan mengikuti budaya dari luar negeri yang tersebar melalui dunia maya dan dinilainya lebih maju.

Oleh karena itu, dibutuhkan berbagai kegiatan secara terus menerus untuk mengenalkan adat budaya sunda dan kesenian tradisional yang tidak kalah dengan adat budaya asing kepada generasi muda sejak usia dini.

“Marilah kita semuanya sadar untuk terus melestarikan adat budaya sunda dan peninggalan nenek moyang. Karena adat budaya sunda selalu menonjolkan kepribadian yang santun dan saling menghormati serta menjunjung tinggi kebersamaan yang harus dimiliki para generasi muda sekarang ini,” tutur Aki Deblenk.

Sementara itu, Workshop lestarikan kaulinan tradisional dan pupuh sendiri diikuti oleh sekitar 60 orang peserta yang terdiri dari unsur Guru PAUD, Guru SD, Siwsa Siwsi SMK Pancatengah Kab. Tasikmalaya, Siswa  Siswi MTs Darul Ulum dan para Seniman yang peduli terhadap budaya.

Sementara Kasubag TU Kementerian Agama Kota Tasikmalaya Yayan Herdiyana M. Ag, mengatakan, kegiatan tersebut jarang sekali digelar di sekolah atau di pesantren manapun.

“Jadi saya atas nama Kementrian Agama mengapresiasi yang setinggi-tingginya atas gagasan untuk kegiatan seperti ini. Selain kegiatan seperti ini jarang sekali diadakan, juga sebagai upaya untuk menghidupkan kembali budaya-budaya yang sudah ditinggalkan oleh anak-anak yang memiliki nilai edukasi tinggi,” ungkap Yayan.

Pendiri Pondok Pesantren Darul Ulum H. Aep Saepudin pun merespon positif dengan hadirnya kegiatan tersebut.  

“Saya berterima kasih kepada semua pihak yang sudah mengadakan acara ini, terutama dari Kemenag Kota Tasikmalaya. Saya sebagai pendiri Ponpes, baru kali ini dikunjungi perwakilan dari Kemenag, dan semoga kemenag dapat mengevaluasi keadaan yang ada di sini,” tutur H. Aep.

Penulis: M. Rizky Arbianto

Editor : Varikesit