Menggali Sabda Kauniah: Satu Jam di Tanjung Puting

Di setiap jengkal bumi yang kita tapaki, dan di setiap sudut langit yang kita junjung, di situ sabda hadir sebagai petunjuk, penerang dari kegelapan, penghancur kebekuan, penembus hutan belantara, pengarung gelombang di lautan, pereda gejolak emosi dan amarah.

Di situ, kegelapan tak sanggup menghentikan langkah tulus kita untuk berjalan dan berlari untuk mencapai cita-cita. Di sana, kebekuan tak sanggup membendung derasnya aliran ide-ide kreatif untuk menembus kokohnya keangkuhan birokrasi.

Read More

Di situ hutan belantara melantunkan nyanyian indah tentang ajaibnya keberagaman, gelora gelombang laut mengalirkan semangat menghacurkan batu karang yang bersandar pada keegoisannya, gejolak amarah untuk saling membenci—hancur berantakan sambil mengembuskan angin perdamaian yang menyejukkan jiwa.

Itulah negeriku tercinta yang tiap pojoknya selalu ada sabda yang senantiasa bercerita tentang kedamaian, kemakmuran, kesejahteraan, dan keagungan-Nya. Alam terkembang menjadi guru. Semoga di waktu yang tersisa, masih cukup kesadaran kita untuk memaknai cerita yang tidak pernah usai ini.

Tulisan singkat tersebut merupakan catatan perjalanan di awal tahun 2018. Namun, perjalanan seharian di hari Minggu (23/4/2023) saat menyusuri Sungai Sekonyer, Pangkalan Bun, mengingatkan saya pada catatan tiga tahun lalu itu.

Tepat pukul 09.30 pagi dan di bawah payung lagit nan cerah, terpaan sinar mentari ikut menghangatkan suasana. Kapal Klotok segera mengantarkan rombongan ke Taman Nasional penangkaran Orang Utan di Tanjung Puting, Sungai Sekonyer, Pangkalan Bun. Bismillah, hari itu pasti banyak ilmu yang akan diperoleh.

Duduk di samping nakhoda, dan ditemani bocah kelas 2 SD, perjalanan pun dimulai.

“Ini untung-untungan, Pak. Jika nasib baik, nanti kita akan ketemu Orang Utan. Sekarang ini lagi musim buah dan daun-daunan muda lagi banyak. Biasanya mereka enggan turun, sekalipun sudah disiapkan makanan. Mereka enggan ketemu kita karena mereka sudah kenyang,” ungkap nakhoda di tengah perjalanan.

Ada sedikit rasa kecewa, jika nanti tidak ketemu Orang Utan, bagaimana? Soalnya tujuan utama dari perjalanan seharian itu untuk ketemu leluhur. He-he-he.

Anak dan Nakhoda
Begitu cermatnya si Anak memperhatikan sang Ayah saat mengendalikan jalannya kapal Klotok menyusuri Sungai Sekonyer.

Rupanya, sang Nakhoda Klotok sudah paham betul sikap dan perilaku Orang Utan. Luar biasa.

Namun, kekecewaan itu sirna karena menikmati lukisan alam yang indah di sepanjang perjalanan. Inilah sabda Ilahi. Masih adakah nikmat-Nya yang sanggup kita dustai? Di tengah bising suara kapal Klotok, kami merasakan ketenangan saat menikmati sabda Allah Swt yang terbentang di sepanjang mata memandang. Inilah negeriku, surga yang terkadang kita sendiri tidak mengerti soal mengapa justru orang asing yang pertama kali menemukan semua ini. Dan, mengapa mereka jugalah yang pertama kali merintis taman nasional ini?

Beberapa ekor Beruk Bekantan asyik berayun-ayun di pepohonan, pinggir Sungai Sekonyer, sambil menikmati daun muda. Mereka begitu terampil memainkan jari-jarinya saat memetik dedaunan dan memakannya. Terampil benar memilih makanan yang enak, sambil tangan yang satu berpegang erat, dan terus berayun-ayun. Mereka kelihatan sangat bergembira. Hidup bahagia bersama keluarga dan kerabatnya di rumah sendiri.

Sepuluh jam perjalanan pulang-pergi menyusuri Sungai Sekonyer serasa tengah belajar di kelas. Di sepanjang perjalanan ini, kami belajar IPA, IPS, Agama, Matematika, dan PPKn dari alam nyata. Seandainya, anak-anak sejak dini diperkenalkan dengan alam di sekitranya, mereka akan merasakan nikmat dan keberkahan karunia Allah Swt yang terbentang di hadapannya. Di masanya nanti, tentunya kita akan mendapatkan anak-anak yang mencintai alamnya, mencintai negerinya, mencintai belajar, mencintai dirinya, dan mencintai Sang Pencipta. Alangkah hebatnya bangsa ini kelak.

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengannya Dia menghidupkan bumi setelah mati (kering), dan Dia menebarkan di dalamnya semua jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkannya.” (QS. Al Baqarah: 164).

Ada pesan penting, terkait pendidikan dalam ayat ini, yaitu frasa terakhir, ”Bagi orang yang memikirkannya. Artinya, kita tidak akan menemukan apa-apa jika kita tidak memikirkannya. Inilah makna literasi yang sesungguhnya, menemukan makna dan rahasia serta keteladanan dari semua ciptaan Allah Swt. Pikir itu pelita hati, pelita itu cahaya yang menerangi. Dengan cara itulah kita menyadari sepenuhnya bahwa ilmu pengetahuan adalah jembatan untuk menuju pribadi sebagai hamba Allah yang beriman. Semoga.

Mari kita dorong pembelajaran yang lebih kontekstual, mengembangkan bahan-bahan ajar lokal, menggali rahasia di balik alam dan semua fenomena yang terjadi. Mari kita lakukan terobosan agar kemampuan anak-anak membaca alam dengan mata hati mereka. Sehingga, mereka menemukan hal-hal yang menakjubkan dengan rasa bahagia yang mendalam. Di dalam diri mereka akan tumbuh semangat belajar yang tak pernah padam. Kemampuan literasi dan numerasi merupakan perangkat dasar (fondasi) bagi kita sebagai makhluk yang berpikir untuk menemukan makna, hikmah, berkah, ilmu pengetahuan di balik hamparan seisi jagat raya ini. Membiasakan anak mengelola, mengolah, dan menggunakan pikirannya sejak dini akan membuka mata hati mereka untuk Indonesia.

Semoga Bermanfaat.

Salam Pendidikan. Sungai Sekonyer, Minggu, 23 April 2023. Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *