Gema Mitra – Kota Tasikmalaya

Sedikitnya tiga ruang kelas Madrasah Tsanawiyah (MTs), Darul Ulum, Kelurahan Setiawargi, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya dalam kondisi memprihatinkan. Bangunan sekolah rusak di berbagai bagian.

Lantai kelas terbongkar serta dinding ruangan berbahan kayu lapis lapuk dimakan usia. Selain itu, ruang kelas juga tidak mempunyai plafon, hanya bambu sebagai penyangga.

Saat musim penghujan tiba, tidak jarang aktivitas belajar mengajar di sekolah ini sangat terganggu. Sebab, ruang kelas kebanjiran akibat atap ruangan banyak yang bolong.

Sejak dibangun pada tahun 2014, ruang kelas yang rusak parah itu belum pernah mendapat perbaikan. Kondisi itu membuat proses belajar mengajar berlangsung dalam kondisi yang tidak nyaman, bahkan dibayangi rasa takut,

“Kalau dilihat kondisinya seperti ini, pastilah sudah tidak nyaman, anak-anak juga belajar tidak nyaman,” ujar Sopyan Asyari Kepala MTs Darul Ulum, Senin, 17/02/2020.

Sopyan berharap pemerintah memberikan perhatian agar ruang kelas yang rusak parah segera diperbaiki. Dia mengatakan ruang kelas itu sudah tidak layak untuk belajar mengajar.

“Berharap ada pemerintah yang bisa datang ke sini, melihat kondisi sekolah secara langsung, apalagi sarana WC juga kami masih numpang ke Pesantren,” ungkapnya.

Sekolah ini memiliki 78 murid, terdiri dari kelas I sampai kelas IIII. Ditambah Santri Pondok Pesantren Darul Ulum yang berjumlah kurang lebih 50 santri.

Sementara Kasubag TU Kantor Kementerian Agama Kota Tasikmalaya Yayat Herdiyana, menuturkan, bahwa untuk anggaran sarana dan prasarana Kemenag masih terbatas. Saat ini lebih konsen terhadap operasional kegiatan.

“Kemenag diberikan anggaran masih terbatas untuk sarana prasarana. Lebih ke orientasi operasional kegiatan,” ungkap Yayat.

Sebenarnya, terang Yayat, anggaran pendidikan itu sisa dari kegiatan-kegiatan yang lain. Pasalnya di Kemenag itu ada haji, bimas islam, penyelenggara syariah dan kegiatan kesekretariatan. Makanya sebagian dari anggaran agama yang ada di Kemenag itu salah satunya digunakan untuk kegiatan pendidikan.

Nah sekarang ini untuk sarana prasarana belum diserahkan sepenuhnya ke daerah, masih terpusat di Kementerian Agama Pusat. Oleh karena itu aksesnya memang pusat, mungkin melihat orientasi yang lebih diprioritaskan misalnya daerah bencana, kemudian daerah yang kena musibah, jadi diorientasikan ke arah sana, makanya daerah-daerah seperti kita ini belum optimal, karena mungkin diorientasikan ke daerah-daerah itu.

Yayat berharap, ke depan walaupun madrasah di bawah binaan Kementerian Agama,  tetapi fokusnya itu ada di daerah. Kemudian yang dibina itu justru masyarakat daerah.

“Makanya kita akan berupaya bargaining dengan pihak Pemerintah Kota supaya bisa juga membantu sarana prasarana, bukan hanya sekolah yang ada di Dinas Pendidikan, tetapi justru juga madrasah-madrasah yang ada di Kementerian Agama,” terang Yayan.

Penulis: M. Rizky Arbianto

Editor: Varikesit