“Project Based Learning” dalam Pembelajaran IPA di Kelas V SDN Panunggulan

Oleh : A. Yuli Susanti, S.Pd. (Guru Kelas V SDN Panunggulan Kota Tasikmalaya)

Wabah Covid 19 yang melanda dunia, tentu saja berdampak pula pada dunia Pendidikan di Indonesia khususnya di Kota Tasikmalaya. Selama 2 tahun, pembelajaran berlangsung secara daring. Begitu pula di SDN Panunggulan. selaku guru kelas V, saya merasakan ketidakpuasan dalam proses pembelajaran selama Covid tersebut. Sehubungan dengan kebijakan Kemdikbud mengenai konsep merdeka belajar, saya menyambut baik hal tersebut dan berusaha mempersiapkan pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum merdeka. Hal tersebut saya yakini, bahwa untuk mencegah Learning Lose, kita harus merancang pembelajaran dengan menerapkan konsep kurikulum merdeka. Kurikulum merdeka itu sendiri menitikberatkan pada student centered Learning.

Read More

Kurikulum merdeka belajar merupakan konsep kurikulum pembelajaran yang mengacu pada pendekatan bakat dan minat peserta didik dan memperhatikan potensi daerah. Perlu persiapan yang harus kita lakukan untuk menerapkan kurikulum merdeka belajar. Langkah awal yang saya lakukan di kelas V SDN Panunggulan, yakni dengan merancang pembelajaran dengan menganut konsep kurikulum merdeka, salah satunya pembelajaran berbasis proyek atau lebih dikenal dengan Project Based Learning. Goodman dan Stivers (2010) mendefinisikan Project Based Learning (PjBL) “merupakan pendekatan pengajaran yang dibangun di atas kegiatan pembelajaran dan tugas nyata yang memberikan tantangan bagi peserta didik yang terkait dengan kehidupan sehari-hari untuk dipecahkan secara berkelompok”.

Dalam Project Based Learning, pembelajaran dirancang untuk menghasilkan sebuah produk melalui proses pembelajaran bermakna dan adanya kolaborasi atau kerjasama diantara peserta didik. Hal yang saya coba terapkan dalam pembelajaran IPA di kelas V SDN Panunggulan untuk menciptakan pembelajaran berbasis proyek adalah sebagai berikut :

Langkah pertama, menentukan materi pelajaran dalam hal ini berkaitan dengan perubahan sifat benda. Saya merancang pembelajaran perubahan sifat benda melalui praktek berkelompok untuk menghasilkan sebuah produk yakni membuat es tanpa kulkas. Permasalahan membuat es tanpa kulkas, menarik rasa ingin tahu peserta didik, saya hanya memberikan LKS yang di dalamnya berisi perintah pemanfaatan perubahan wujud dan sifat benda, sehingga peserta didik mempelajari lebih dalam mengenai materi tersebut untuk memecahkan permasalahan yang diajukan tadi.

Langkah kedua, saya mengkondisikan peserta didik untuk berdiskusi di dalam kelompok membahan perencanaan untuk membuat proyek termasuk mempersiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan.

Langkah ketiga, saya membuat kesepakatan dengan peserta didik mengenai jadwal pengerjaan proyek tersebut dan waktu penyelesaianny, agar proyek tersebut berjalan lancar dan sesuai rencana, saya ikut terlibat membimbing peserta didik yang masih kesulitan.

Langkah keempat, Saya ikut terlibat memantau dan memonitor peserta didik dalam bekerja termasuk melakukan penilaian proses, serta memberikan masukan dan saran kepada kelompok peserta didik yang kesulitan atau bahkan mengalami permasalahan ketika proses pengerjaan proyek belangsung.

Langkah kelima, Peserta didik mendemonstrasikan pengerjaan proyek tersebut di depan kelas secara berkelompok. Dalam hal ini, peserta didik melalui pemanfaatan konsep perubahan sifat dan wujud benda membuat es tanpa kulkas, yakni dengan cara memasukan minuman yang sudah dikemas dalam plastic ke dalam wadah atau toples yang didalamnya berisi es batu kemudian mencampurkan garam pada es batu tersebut lalu menutup toples dengan rapat dan menggoyang-goyangkannya. Peserta didik lainnya memperhatikan setiap perubahan yang terjadi lalu mencatatnya sebagai bahan untuk menyusun laporan. Demonstrasi tersebut dilakukan oleh masing-masing kelompok dan melaporkan hasilnya pada diskusi kelas. Langkah terakhir, peserta didik menyusun laporan dari pengerjaan proyek yang sudah dilakukan, kemudian mempresentasikannya di depan kelas. Kelompok peserta didik lain memberikan komentar, tanggapan, saran bahkan pertanyaan. Saya hanya bertugas sebagai fasilitator dan memberikan koreksi serta penguatan terhadap kegiatan peserta didik. Setelah itu pembelajaran disimpulkan dengan mereview kegiatan yang sudah dilakukan serta menganalisis nilai-nilai karakter selama pembelajaran berlangsung. Penilaian yang saya lakukan dalam pembelajaran berbasis proyek di kelas V SDN Pangunggulan tersebut yakni penilaian proses selama pengerjaan proyek dan penilaian hasil berupa proyek yang tercipta dan laporannya.

Semoga kita sebagai seorang guru, senantiasa berinovasi dalam pembelajaran untuk menggali potensi dan kreativitas peserta didik agar mampu memecahkan permasalahan melalui kolaborasi dengan peserta didik lain, tidak hanya menunggu penyelesaian yang diberikan oleh guru.***

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *