Strategi Literasi Numerasi di Abad XXI

Pada tahun 2015, Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum menegaskan bahwa penguasaan 6 literasi dasar merupakan salah satu kompetensi abad XXI yang diperlukan semua warga dunia. Keenam literasi tersebut adalah literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, dan literasi budaya kewargaan. Literasi numerasi merupakan salah satu kecakapan hidup abad XXI. Berdasarkan sejumlah penelitian lembaga nasional maupun internasional, indeks literasi numerasi peserta didik Negara Indonesia masih berada di peringkat rendah di dunia. Dilihat dari skor Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang menjadi tolak ukur kualitas sumber daya manusia di sebuah Negara, Indonesia berada di level yang tidak menggembirakan jika dibandingkan dengan Negara di kawasan Asia Tenggara.

Literasi numerasi adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan berbagai macam angka dan simbol-simbol yang terkait dengan matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai konteks kehidupan sehari-hari dan menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai bentuk (grafik, table , bagan dsb) lalu menggunakan interpretasi hasil analisis tersebut untuk memprediksi dan mengambil keputusan. Literasi numerasi dibutuhkan dalam dalam semua aspek kehidupan, baik di rumah, di pekerjaan, maupun di masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, ketika mengajar, belajar, berbelanja, merencanakan liburan, memulai usaha, maupun membangun rumah, semuanya membutuhkan keterampilan numerasi.

Read More

Sebagai sebuah lembaga yang berwenang dalam pendidikan, Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi melalui Direktorat Sekolah Dasar berupaya untuk melakukan peningkatan kapasitas dan kompetensi warga sekolah dengan tujuan kecakapan literasi dasar warga sekolah terutama peserta didik akan meningkat. Strategi peningkatana kecakapan numerasi perlu dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan seluruh warga sekolah, keluarga, dan semua komponen masyarakat.

Literasi numerasi berbeda dengan matematika. Pengetahuan matematika hanya terpaku pada penyelesaian masalah dengan rumus atau pemahaman konsep semata. Sedangkan literasi numerasi mencakup keterampialn mengaplikasikan konsep dan kaidah matematika dalam situasi nyata sehari-hari.Sebagai bagian dari sistem pendidikan, dengan mengacu pada panduan literasi dari Kemdikbud, maka penulis selaku guru memandang perlu adanya stategi dalam mengembangkan literasi numerasi di Sekolah Dasar. Berikut adalah strategi yang menurut penulis perlu diupayakan agar literasi numerasi bisa tercapai di tingkat Sekolah Dasar :

1. Dalam pembelajaran matematika menggunakan konteks yang dekat dengan pengalaman sehar-hari peserta didik dan senantiasa menghubungkan berbagai topik matematika dengan situasi dunia nyata. Misalnya, dalam pembelajaran pecahan, guru bisa mengupayakan pembagian benda-benda yang biasa digunakan siswa seperti makanan pizza, buha-buhan dll.

2. Menekankan pembelajaran pada pemahaman konsep terutama penalaran dalam konteks, bukan keterampilan menghitung saja. Misalnya, berikan anak kegitan menghitung KPK atau FPB dalam bentuk cerita yang biasa dilakukan anak-anak seperti kegiatan berenang, bermain, dll.

3. Memunculkan atau menyisipkan unsur numerasi di dalam pembahasan mata pelajaran lain sehingga peserta didik memilki banyak kesempatan untuk melatih keterampilan matematika. Sebagai contoh melakukan tepuk pancasila menggunakan hitungan jari tangan.

4. Sebelum memulai pembelajaran, guru bisa mengaitkan kegiatan peserta didik sebelum sampai di sekolah dengan penguatan literasi. Sebagai contoh, guru bisa menanyakan jam berapa kalian berangkat ke sekolah, berapa waktu yang dibutuhkan untuk ke sekolah dsb.

5. Menampilkan informasi yang memunsulkan numerasi dalam berbagai konteks. Misalnya, di dekat kran cuci tangan tampilkan informasi waktu mencucci tangan 20 detik dengan sabun.

6. Menampilkan tampilan informasi yang biasanya hanya dalam teks dapat diperkaya dengan unsur numerasi. Misalnya, staf perpustakaan menampilkan jumlah pengunjung tiap bulannya dalam bentuk tabel, diagram atau grafik.

7. Pemanfaatan fasilitas sekolah dengan tampilan numerasi. Misalnya, menyediakan alat pengukur badan yang menarik, nomor ruangan kelas yang menarik dll

8. Menyediakan tampilan numerasi di taman sekolah. Misalnya, membuat permainan loncatan katak di dekat air mancur taman sekolah menggunakan bilangan 1-10, dll.

Sebagai salah satu kecakapan abad XXI, literasi numerasi perlu dikembangkan di Sekolah Dasar. Cara untuk menggerakan literasi dapat dilakukan melalui berbagai strategi. Stategi yang bagus adalah strategi yang disesuaikan dengan keadaan dimana dia berada dan dapat menyelesaikan masalah dengan tepat. Dengan adanya strategi yang penulis ungkapkan, penulis berharap literasi numerasi peserta didik dapat meningkat sekaligus dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia menuju Negara Indonesia yang maju.***

Penulis: Yunia Rahmawati, S.Pd.
(Guru Kelas IV SDN Sukarindik Kota Tasikmalaya)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *