Gema Mitra – Kota Tasik

Tahun 2019 adalah tahun yang membahagiakan sekaligus mengharumkan nama Teater Daun Ngora dan SMK Sukapura Kab. Tasikmalaya yang beralamatkan di Jl. Dalem Wirawangsa KM 3 Cikapa, Tanjungjaya, Kec. Tanjungjaya, Kab. Tasikmalaya, karena telah membuat sebuah prestasi yaitu menjadi Pinunjul Ka II/ Juara ke II dalam Festival Drama Basa Sunda Ka XX Tingkat Pelajar Se- Jawa Barat Tahun 2019. Tak hanya itu Daun Ngorapun menyabet 2 piala sekaligus yaitu Aktor Pinujul/ Aktor Terbaik Soni kelas X Rekayasa Perangkat Lunak, Aktris Pinunjul/ Aktris Terbaik Vilna Diana kelas X Tata Kelola Perkantoran, juga masuk 3 nominasi antaranya Nominasi Panata Musik Pinunjul Andra Adhari, Nominasi panata Artistik Pinunjul Dani Firmansyah, dan Nominasi Sutradara pinunjul Salman Faris dengan naskah drama bahasa sunda yang berjudul Nu Jaradi Korban Karya R. Hidayat Suryalaga yang menceritakan tentang kegetiran sebuah keluarga di antara himpitan ekonomi, membuat tokoh euis harus menjadi tuna susila, juga tokoh Nyai yang tuna netra lebih mengurusi tokoh Emak yang pasrah di atas kursi rodanya ketika tokoh ujang yang rela membanting tulang demi memenuhi kebutuhan keluarga dan kesehariannya juga pengganti Tokoh Bapak/ Kepala Keluarga yang pergi entah ke mana.

Di antara 45 kelompok teater sekaligus mengharumkan Kabupaten Tasikmalaya di kancah Jawa Barat. Selama diwawancarai redaksi di ruang eksul kelompok teater tersebut menyampaikan rasa tak menyangka kepada redaksi gema mitra, mengikuti Festival Drama Basa Sunda/ FDBS tingkat Pelajar Se-Jawa Barat bukan pertamaklinya tetapi sudah 2 kali, memulai berpartisipasi sejak 2017 dan 2019 inilah efek dari proses selama kurang lebih 4 bulan yang dimulai bulan januari pertengahan sampai acara dimulai pada april, senin (01/04/19) lalu yang diselenggarakan oleh Teater Sunda Kiwari yang bertempat di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Kosambi, Bandung sekaligus menjadi tempat festival. Dengan nomor undian kelompok lomba 45 adalah nomor paling akhir hingga sampainya pada pengumuman yang digelar hari sabtu (13/04/19) lalu mereka melebarkan sayap dan mendapat spirit baru khususnya di Teater Sekolah atau Teater yang berada di lingkungan sekolah.

Di ekstra kulikulerpun siapapun menghadapi berbagai kendala, dan daun ngorapun mengalami berbagai kendala seperti hapalan naskah, disiplin waktu, juga mengikuti kemauan sutradara dalam berakting “kalau kendala, pasti setiap proses ada kendalanya, namun yang saya alami adalah ketika sutradara menyuruh saya untuk seperti ini dan seperti itu dan tidak cukup sekali untuk mengulangtapi harus mengulang lagi dan lagi” Vilna Diana salahsatu yang berperan sebagai euis dalam naskah tersebut, “dan pada saat kita main paling kendala saya saat mau tampil adalah suara saya serak tapi tidak apa-apa karena berkat bantuan dan dukungan teman-teman pementasan kami lancar dan bagi saya pribadi mengikuti FDBS ini merupakan pertamakali sejak saya masuk di teater” tambahnya vilna, adapun soni salah satu aktor yang berperan sebagai Ujang. Soni mengatakan hal yang sama bahwa FDBS adalah kegiatan yang pertamakali diikuti olehnya dan tak ketinggalan Dini dari Kelas XI 2 Multimedia yang berperan sebagai Nyai yang mana ketika awal proses harus mencari referensi tentang karakter yang mempunyai fisik tuna netra/ buta, yang sama seperti teman-teman lainnya yang pertamakali mengikuti kegiatan tersebut, dan mereka semua sangat tidak menyangka sekali bisa menyumbangkan sejarah membawa harum daerahnya itu.

Potensi-potensi inilah yang dipunyai Kabupaten Tasikmalaya khususnya Tanjungjaya dan SMK Sukapura. Meski perdana, mereka menggeluti seni peran dengan ikhlas, lapang dada dan setia kepada proses sampai memberanikan diri mengikuti feestival yang dinilai orang bergengsi di jenjang Jawa Barat hingga membawa pulang 3 piala sekaligus.

Sementara itu Sutradara dalam garapan nu jaradi korban ialah Salman Faris yang juga sebagai guru Bahasa Indonesia di SMK Sukapura tersebut, salman mengutarakan bahwasannya proses tersebut sudah dimulai setelah siswa-siswi menyelesaikan kegiatan study tour ke Yogyakarta dan selama perjalanan ketika menggarap naskah tersebut saya banyak konsultasi dengan Abah Ageung S. Noor sekaligus Dramaturgi kami ketika proses yang dimulai pada semester 2 tahun 2019. “Kalau konsep garap saya terinspirasi dari garapannya kang abuy waktu festival putu wijaya, saya juga dari mulai 2018 selalu mengikuti Olah Tubuh di Kelas Minggunya kang abuy. Setelah mengikuti kegiatan tersebut saya mencoba meng-aplikasikannya ke anak-anak Teater Daun Ngora, dan tidak menyangka juga kami mendapat pinunjul dan nominasi” ujarnya kepada Gema mitra saat ditemui di sekolahnya, Senin 22/04/2019.

Lebih lanjut dikatakan, kerabat pentas yang kami bawa ke Bandung ada sekitar 40 orang meskipun yang ada dalam naskah tokoh itu ada 7 orang, karena agar mereka mendapat pengalaman yang lebih tapi dengan catatan selama proses berjalan mereka melakukan sesuai denga tugas yang diakomodir pimpro sampai saat pengumuman dan sampai hari inipun saya tidak percaya bahwa kami membawa piala. Tidak hanya itu niat mereka berangkat menuju Bandungpun ada banyak yang mendukung, terutamanya adalah sekolah yang memberi materi seperti uang transport, uang makan, dan lain sebagainya, di luar sekolah juga memdapat sponsorship dari mulai Bank BRI, dari kantor cabang dinas terkait, STT YBSI, Ngaos Art, UPK Tanjungjaya, Koperasi Mangunreja, dan Hamba Allah/ Donatur.

Harapannya kedepan mereka berharap untuk kegiatan-kegiatan selanjutnya, sekolah, khususnya pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dikarenakan membawa nama baik sekolah dan daerah juga vilna dan kawan-kawan, mereka berharap agar di Tasikmalaya khususnya Kabupaten mempunyai Gedung Kesenian dan sanggar agar mempunyai tempat untuk latihan juga fasilitasnya dilengkapi dan tahun depan pentas keliling yang dimulai tour dari desa ke desa lainnya. “Kami akan mudah berkarya dan memanfaatkannya dengan lebih bergairah lagi”, pungkasnya. (M. Rizky Arbianto)