Krisis Komunikasi Pemimpin Kota Tasik

Oleh: Orok Kapas (Seniman Tasikmalaya)

Di warung kopi, di lini masa, hingga di sudut-sudut percakapan warga, pertanyaan itu terus berulang: sebenarnya apa yang sedang terjadi di kota ini? Bukan karena tak ada kerja, tetapi karena kerja itu tak terasa hadir dalam komunikasi. Yang muncul justru kegelisahan yang pelan-pelan mengendap menjadi ketidakpercayaan.

Bacaan Lainnya

Teori sederhana dari Garin Nugroho sebenarnya sudah cukup menjadi cermin: 30% komunikasi untuk mempertahankan kepercayaan, 30% untuk menjelaskan program, dan 40% untuk memandu arah publik. Tiga hal itu jika disederhanakan menjadi 3M: Mempertahankan, Mendeskripsikan, Memandu.

Namun yang terjadi hari ini, komunikasi itu seperti kehilangan ruhnya.

Kota Tasikmalaya di bawah kepemimpinan Viman Alfarizi Ramadhan, gelombang ketidakpuasan publik tidak lagi bisa dianggap riak kecil. Ia sudah menjadi arus. Kritik berseliweran di media sosial, bergulir di media online, bahkan merembes ke percakapan warung kopi. Ini bukan sekadar bising, ini adalah tanda.

Tanda bahwa ada jarak antara pemimpin dan yang dipimpin.

Tanda bahwa ada ruang kosong yang tidak terisi.

Dan dalam politik, ruang kosong tidak pernah benar-benar kosong, ia akan diisi oleh tafsir, kecurigaan, bahkan serangan.

Ketika komunikasi tidak hadir sebagai penjelas, ia akan digantikan oleh spekulasi.

Ketika pemimpin tidak memandu, publik akan berjalan sendiri tanpa arah.

Dan ketika kepercayaan tidak dirawat, ia akan runtuh tanpa perlu dijatuhkan.

Pemimpin adalah nakhoda. Tapi hari ini, publik seperti penumpang yang kehilangan kompas. Gelisah, bertanya-tanya, dan mulai meragukan ke mana kapal ini akan berlabuh.

Lebih berbahaya lagi, ketika kegelisahan ini dibiarkan berlarut. Sebab di situlah lawan politik, kelompok berkepentingan, bahkan sekadar pemburu momentum akan masuk. Mereka tidak perlu bekerja keras, cukup memanfaatkan diamnya komunikasi resmi.

Dan kita tahu, di era digital, diam bukan lagi netral. Diam adalah celah.

Media sosial dan media online hari ini bukan hanya ruang berbagi informasi. Ia telah menjelma menjadi ruang pengadilan publik_cepat, liar, dan sering kali tanpa banding. Di sana, citra bisa runtuh dalam hitungan jam. Di sana pula, karakter bisa “dihukum” tanpa proses panjang.

Pertanyaannya sederhana:

Apakah komunikasi kepemimpinan kita masih bekerja?

Apakah publik benar-benar dipandu, atau sekadar dibiarkan?

Jika kembali pada konsep 3M, maka kegagalan komunikasi hari ini bisa jadi karena salah satu—atau bahkan semua—tidak berjalan. Kepercayaan tidak dijaga, program tidak dijelaskan, arah tidak dipandu.

Padahal masyarakat tidak selalu menuntut yang muluk-muluk. Mereka hanya ingin tahu:

Apa yang sedang dikerjakan?

Untuk siapa?

Dan akan dibawa ke mana kota ini?

Orang tua kita dulu sudah mengajarkan dengan sangat sederhana:

“prak pék pok—prak gawé, pék béré, pok ngomong.”

Bekerja nyata.

Memberi bukti.

Lalu berbicara secukupnya.

Bukan sebaliknya: banyak bicara tanpa arah, atau lebih buruk—diam tanpa makna.

Kini pertanyaan itu kembali ke para pemimpin Kota Tasikmalaya:

Kalian sedang memimpin… atau sekadar berjalan tanpa komunikasi?

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *