Tasikmalaya – Gemamitra.com | Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Kecamatan Purbaratu digelar di SDN Angkasa dengan meriah, Sabtu (11/4/2026).
Kegiatan tahunan yang diinisiasi oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikdasmen ini menjadi ajang strategis dalam merevitalisasi sekaligus melestarikan bahasa dan sastra daerah, khususnya bahasa Sunda.
FTBI tahun ini diikuti oleh 196 peserta dari 14 sekolah dasar/sederajat se-Kecamatan Purbaratu. Para peserta berkompetisi dalam berbagai cabang lomba berbasis bahasa daerah, mulai dari pidato (biantara), mendongeng, hingga menulis cerita pendek (carpon).
Ketua Panitia, H. Yaya Nirwan, S.Pd., M.Pd., mengatakan pelaksanaan kegiatan pada hari Sabtu bertujuan agar tidak mengganggu proses belajar mengajar di sekolah.
“Walaupun dilaksanakan di hari libur, Alhamdulillah seluruh kepala sekolah hadir dan memberikan dukungan penuh. Kegiatan ini juga menghadirkan dewan juri dari luar untuk menjaga objektivitas penilaian,” ujarnya.
Ia menambahkan, terdapat tujuh mata lomba yang dipertandingkan, yaitu carpon berbasis digital, aksara Sunda (menulis dan membaca), mendongeng, borangan (ngabodor sorangan), pupuh, sajak, dan biantara.
H. Yaya berharap melalui kegiatan ini, para siswa tidak hanya meraih prestasi akademik dan non-akademik, tetapi juga dapat melangkah ke jenjang kompetisi yang lebih tinggi, baik di tingkat kota maupun provinsi.
“Kami dari K3S Purbaratu akan terus membimbing dan mengembangkan potensi anak-anak, khususnya dalam bidang bahasa dan sastra daerah,” katanya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa tujuan utama FTBI adalah menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap bahasa dan budaya daerah sebagai bagian dari identitas nasional.
“Melalui lomba ini, kami berharap anak-anak semakin mencintai budaya Sunda yang menjadi akar budaya bangsa,” ungkapnya.
Berikut beberapa pemenang dalam ajang FTBI Kecamatan Purbaratu 2026:
Biantara Wanoja
Juara 1: Sivi Novitasari (SDN Singkup)
Juara 2: Adinda Yasmini Saeful Rohman (SDN Purbaratu 4)
Juara 3: Sidny Alia (SDN 1 Angkasa)
Biantara Jajaka
Juara 1: Abiyan Safhan (SDN Saripin)
Juara 2: Azzam Padilah (SDN 5 Sukamenak)
Juara 3: Naofan Ali (SDN 4 Purbaratu)
Maca Sajak Wanoja
Juara 1: Salvina Nabilah (SDIT Idrisiah)
Juara 2: Sherly Earlita (SDN 3 Sukamenak)
Juara 3: Lutvia Jahra (SDN Sukamenak Indah)
Maca Sajak Jajaka
Juara 1: Rajik Jahran (SDN 1 Purbaratu)
Juara 2: Pasha Zahyan (SDN Saripin)
Juara 3: Moch Mirja (SDN Syekh Tubagus Abdullah)
Pupuh Wanoja
Juara 1: Aqila Talita (SDN 1 Angkasa)
Juara 2: Aulia Nur Latipah (SDN 5 Sukamenak)
Juara 3: Diajeng Risachi (SDN 2 Sukamenak)
Pupuh Jajaka
Juara 1: Kafka Sefta Pratama (SDN 1 Purbaratu)
Juara 2: Muhamad Aqbil (SDN 3 Sukamenak)
Juara 3: Muhamad Rafif (SDN Syekh Tubagus Abdullah)
Ngabodor Sorangan Wanoja
Juara 1: Fita Pebriani (SDN Saripin)
Juara 2: Sania Hotun Nada (SDN 1 Purbaratu)
Juara 3: Helena Jasmine (SDN 4 Purbaratu)
Ngabodor Sorangan Jajaka
Juara 1: Alif Aprizal (SDN Singkup)
Juara 2: Arkan Muhamad (SDN 1 Purbaratu)
Juara 3: Muhamad Riziq (SDN Syekh Tubagus Abdullah)
Carpon Wanoja
Juara 1: Zahra Nur Padilah (SDN Syekh Tubagus Abdullah)
Juara 2: Neli Yulyana (SDN 4 Purbaratu)
Juara 3: Nheisya Sachi (SDN 1 Purbaratu)
Carpon Jajaka
Juara 1: Malka Syarif (SDN Syekh Tubagus Abdullah)
Juara 2: Zaidan Hilmi (SDN 4 Purbaratu)
Juara 3: Raihan Alpatih (SDN 1 Purbaratu)
Aksara Sunda Wanoja
Juara 1: Jihan Talita Ulpa (SDN 2 Purbaratu)
Juara 2: Mikalya Alya (SDN 3 Sukamenak)
Juara 3: Natasya Apika Jahra (SDN Saripin)
Aksara Sunda Jajaka
Juara 1: Krisna Martin (SDN Pasir Jaya)
Juara 2: Muhamad Alqais (SDN 2 Purbaratu)
Juara 3: Muhamad Rafa (SDN 4 Purbaratu)
Dongeng Wanoja
Juara 1: Aliya Rahma (SDN 4 Purbaratu)
Juara 2: Dafitha Nizza (SDN Sukamenak Indah)
Juara 3: Ashilla Ahsanul (SDN 1 Purbaratu)
Dongeng Jajaka
Juara 1: Abdul Aziz (SDN 4 Purbaratu)
Juara 2: Muhamad Rassya (SDN 1 Purbaratu)
Juara 3: Muhamad Restu (SDN Pasir Jaya)
Kegiatan ini menjadi bukti nyata komitmen dunia pendidikan di Kecamatan Purbaratu dalam menjaga eksistensi bahasa daerah di tengah arus modernisasi. FTBI tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang pembinaan karakter dan pelestarian budaya bagi generasi muda. (Asep M)**


















