Literasi Teknologi Sebagai Jembatan Untuk Memperbaiki Kualitas Pelaku Pendidikan

[et_pb_section admin_label=”section”] [et_pb_row admin_label=”row”] [et_pb_column type=”4_4″][et_pb_text admin_label=”Text”]

Oleh: Daniaty SR Danial

Pada 3 November 2019 Menteri Nadiem menghadiri rilis hasil Programme for International Student Assesment (PISA) oleh The Organitation for Economic Co-operation Development (OECD). PISA adalah salah satu organisasi yang melakukan studi tentang kualitas pendidikan di dunia secara rutin. Hasil PISA menunjukkan kemampuan membaca siswa tanah air meraih skor 371. Jauh di bawah rata-rata yakni 487. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa siswa Indonesia darurat literasi. Keinginan siswa Indonesia untuk maju masih kurang sehingga program-program literasi yang telah disiapkan sedemikian rupa pun kurang bisa dilaksankan dengan baik.

Pada survei PISA kemampuan membaca, hanya 30 persen dari total responden siswa Indonesia yang mencapai kemahiran level dua. Level kemampuan mengidentifikasi ide utama dalam teks sedang dan panjang. Mampu mencari informasi berdasarkan kriteria yang eksplisit, meskipun terkadang rumit. Serta dapat merefleksikan tujuan dan bentuk teks ketika diarahkan untuk melakukannya.

Menteri Nadiem mengatakan, pola pikir anak Indonesia untuk berkembang dan maju lebih baik masih kurang. Bisa jadi hal ini terjadi karena tolok ukurnya adalah suatu angka (nilai) di dalam mata pelajaran yang mungkin bukan bakatnya. Hal tersebut membuat siswa kehilangan rasa percaya diri. Oleh sebab itu optimisme kaum muda tentu sangat diperlukan untuk kemajuan bangsa. Berdasarkan pandangan Menteri Nadiem tersebut, pengembangan SDM di Indonesia dipercaya masih terpaku pada hal-hal yang bersifat teori dan kurangnya mempelajari ilmu-ilmu terapan yang lebih berguna dalam bermasyarakat.

Akhir-akhir ini literasi digadang-gadang sebagai proyek penting yang harus ditingkatkan dalam dunia pendidikan. Literasi pula yang digadang-gadang akan memperbaiki kualitas pelaku pendidikan. Oleh karena itu, muncullah program-program pendidikan yang akan menggalakkan kegiatan literasi di sekolah demi mengangkat harkat martabat dunia pendidikan dengan literasi. Bahkan program literasi sudah include dalam Kurikulum 2013 dan wajib dilaksanakan.

Kehadiran Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) pada hakikatnya bertujuan untuk meningkatkan peradaban kehidupan manusia. Dalam hal ini, semua aspek yang melingkupinya akan terdampak dari kehadiran TIK tersebut. Sebelum merambah bidang pendidikan, TIK juga telah mempengaruhi berbagai aspek dalam bidang ekonomi. Hal ini semakin jelas terlihat dalam memasuki era pasar bebas, khususnya dalam menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Kondisi ini tentu akan mengubah paradigma negara-negara berkembang dalam strategi pembangunannya, dari pembangunan industri menuju era informasi (Juditha, 2011).
Beralih ke dunia pendidikan, pengaplikasian teknologi ke dalam pendidikan dan pembelajaran merupakan salah satu bentuk inovasi. Inovasi dilakukan dengan tujuan untuk mengimbangi dan mengikuti perkembangan zaman. Pertimbangan lain yang melatarbelakanginya adalah faktor siswa yang telah jauh berbeda karakteristiknya jika dibandingkan dengan sebelumnya. Generasi milenial merupakan pribadi unik dan berbeda yang harus ditangani secara unik pula dalam proses pendidikannya. Dewasa ini, siswa-siswa tidak lagi tertarik dengan proses pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered). Mereka lebih tertarik dengan sesuatu hal yang baru dengan berorientasi pada proses penemuan dari mereka sendiri. Proses tersebut lebih dikenal dengan pendekatan pembelajaran berbasis student centered learning.

Namun permasalahannya, tidak semua orang merespons dengan baik keberadaan teknologi informasi dan komunikasi tersebut. Bahkan, bagi sebagian pendidik masih menganggap TIK sebagai hal yang tidak memegang peranan penting dalam pendidikan. Hal ini tentu tidak sejalan dengan tugas profesi pendidik yang harus menyesuaikan dirinya dengan perkembangan zaman. Meski kita pahami bersama bahwa TIK tidak dapat menggeser fungsi vital pendidik dalam pembelajaran, namun kehadiran TIK seharusnya digunakan secara maksimal dalam mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran.

Sebuah riset menunjukkan bahwa ada tingkat kesenjangan digital yang erjadi pada guru-guru di tingkat Sekolah Dasar (SD). Kesenjangan tersebut disebabkan oleh faktor kapabilitas dalam penggunaan alat-alat teknologi bagi guru-guru tersebut yang sebagian besar belum menguasainya dengan baik (Zulham, 2014). Kita sebagai garda terdepan dalam perubahan bidang pendidikan dituntut untuk melek Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Artinya, sudah tidak ada alasan lagi bagi pendidik untuk gaptek atau gagap terhadap teknologi.

Literasi TIK (Teknologi Informasi & Komunikasi)

Salah satu program pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia adalah dengan menggalakkan program literasi. Program ini diwujudkan dengan memberlakukan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) pada tiap-tiap satuan pendidikan dasar dan menengah. Gerakan ini dilakukan dengan aktivitas membaca buku-buku non-pelajaran selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Literasi yang dimaknai dengan kegiatan membaca dan menulis inilah yang disebut sebagai literasi tradisional. Berdasarkan definisinya, kemampuan literasi disebut juga sebagai kemampuan membaca dan menulis yang merupakan kemampuan penting dalam proses perkembangan peserta didik.

United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menyebutkan bahwa literasi merupakan bentuk integrasi dari kemampuan menyimak, berbicara, menulis, membaca, dan berpikir kritis (Baynham 1995).
Pada perkembangannya, literasi mengalami perluasan arti dan menjangkau berbagai aspek. Seperti yang telah dikemukakan di depan, literasi tidak dibatasi hanya pada aktivitas membaca dan menulis, tetapi juga meluas kebidang lain seperti literasi TIK, literasi finansial, literasi numerik, dan lain-lain.

Salah satu konsep baru literasi adalah literasi digital atau literasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Literasi ini diartikan sebagai kemampuan dalam menggunakan dan memanfaatkan media baru seperti computer, laptop, projektor, aplikasi software, internet, wifi, infranstrukur jaringan setempat (local networkinginfrastructure dan teleconverence) untuk mengakses, menyebarkan, dan mengomunikasikan informasi secara efektif. Literasi TIK dimaknai juga sebagai literasi media yang memposisikan manusia yang memiliki kemampuan untuk memahami, menguasai, dan memanfaatkan konten media massa (Syarifuddin, 2014).

Kualitas Pelaku Pendidikan

Kualitas atau mutu adalah tingkat baik buruknya atau taraf atau derajat sesuatu. Sedangkan Kualitas Pendidikan adalah filosofi perbaikan terus-menerus di mana lembaga pendidikan menyediakan seperangkat sarana atau alat untuk memenuhi bahkan melampaui kebutuhan, keinginan dan harapan pelaku pendidikan saat ini dan di masa mendatang.

Guru adalah tokoh pelaku pendidikan bahkan dari keluarga semenjak orang masih dalam kandungan. Manusia belajar dari orang terdekatnya dan lingkunganya terutama keluarga. Terlebih jika sudah masuk dunia pendidikan di samping keluarga dan lingkunganya, maka yang menjadi pilot pendidik di sekolah adalah guru.

Guru sangat berperan untuk menyampaikan pengetahuan, menjelaskan dan memotivasi anak didik akan arti pentingnya pelajaran yang dilakukan. Di sinilah semua guru baik yang di lembaga formal maupun non formal memiliki peran penting dan sangat kuat untuk memberikan contoh teladan, semangat dan kreatifitas yang tinggi bagi anak didiknya masing-masing di negeri ini. Sehingga siswa sebagai penerus bangsa ini berdedikasi, berpendidikan dan berkebudayaan yang kuat melekat dan tidak tergoyah oleh arus informasi global untuk menjadi generasi berkepribadian yang baik dan bermartabat.
Supaya arus informasi global tidak tergoyahkan maka guru harus terampil dalam meamnfaatkan Literasi Teknologi pada setiap kegiatan pembelajarannya. Sehingga siswa sebagai generasi milenial terarahkan untuk siap menghadapi arus informasi global yang tetap menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsanya sendiri.

Banyak cara yang dilakukan agar guru terampil dalam mensukseskan program literasi Teknologi di sekolah, yaitu dengan cara mengikuti pelatihan atau workshop pemanfaatan Teknologi dalam pembelajaran, bisa juga dengan bimbingan oleh teman sejawat yang memiliki kemampuan lebih dalam penggunaan teknogi. Atau bisa juga melibatkan lembaga dari luar yang lebih kompeten di bidangnya untuk ikut serta mensukseskan program literasi teknologi di sekolah. Salah satu diantaranya adalah membuat Memorandum Of Understanding (MOU) atau Nota Kesepahaman dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang memiliki jursan Teknik Komputer Jaringan (TKJ).

Guru-guru jurusan TKJ bisa melakukan sharing atau bisa juga membimbing langsung guru Sekolah Dasar agar mereka terampil dalam menggunakan Teknologi dalam Pembelajaran. Selain itu siswa dari jurusan TKJ bisa memantapkan ilmu yang sudah mereka terima di sekolah dengan cara membimbing siswa sekolah dasar dalam penggunaan Teknologi dan pemanfaatan aplikasi yang terdapat di dalamnya. Siswa SMK Jurusan TKJ akan mendapatkan pengalaman kerja lapangan sebagai tambahan penilaian dari pihak sekolah. Sehingga kerjasama ini berlandaskan asas saling menguntungkan.

Dari paparan diatas sangat tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Literasi Teknologi sebagai jembatan untuk meningkatkan kualitas pelaku pendidikan. Dalam penerapannya guru yang kreatif dan memiliki kemauan yang tinggi tetap sebagai tokoh utama mensukseskan Program Pendidikan di Negeri kita ini. ***

[/et_pb_text][/et_pb_column] [/et_pb_row] [/et_pb_section]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar