Kota.Tasikmalaya.gemamitra.com | Konsistensi Five Thousand Net Work (FTN) merealisasikan pemberdayaan masyarakat yang dikelolanya kian mengakar kuat, terutama perekonomian dan kebudayaan.
Salah satu bentuk bakti terhadap pemajuan ekonomi masyarakat, FTN telah membentuk beberapa kelompok usaha, baik bidang ekonomi kreatif, pertanian dan industri rumahan bidang bordir dan konveksi.
H. Pepen Supriatna yang nota bene nakhoda FTN, pernah mengklaim dalam sebuah pidatonya bahwa FTN bukan institusi politik, tapi organisasi sosial yang konsen terhadap kemajuan ekonomi masayarakat. Tapi tak harus alergi, jika satu saat FTN dibutuhkan secara politik, maka dengan sendirinya akan bergeser ke canal politik.
FTN telah membentuk Kelompok Usaha Bersama, yakni Kelompok Usaha Bersama Citra Lestari. Meski masih dalam proses pembenahan di beberapa bidang, KUB tersebut telah memiliki alat produksi untuk kebutuhan garment. Namun sampai detik ini belum beroperasi, karena kendala teknis terkait prosedural kedinasan.
“Dalam giat budaya, FTN telah menyelenggarakan beberapa event kebudayaan dan kesenian. Diantaranya Ngaruat yang diselenggarakan bersama Komunitas Cermin, Republik Air dan Sanggar Golewang Awie, yang berlangsung pada tanggal 17 Juli 2019 di Bukit Lestari,” paparnya.
Lebih lanjut H Pepen menuturkan bahwa Ngaruat merupakan ritual permohonan kepada Tuhan untuk keselamatan masyarakat Kota Tasikmalaya dengan konsepsi kesenian, bertalian dengan beragam persoalan yang nelikung kehidupan, salah satunya wabah covod-19.
“Dan yang paling utama keselamatan para abdi negara, khusus para dinas di Kota Tasikmalaya tidak terlibat perbuatan yang mengarah pada pengenaan ” Rompi Orange”. Sebab pada waktu itu, Kota Tasikmalaya tengah genting dan tegang dengan “diringkidnya” berkas dokumen dari PUPR, RSUD Soekarjo dan lainnya,” ungkapnya.
Selain itu, pada tahun 2021 FTN telah menghelat sebuah event lomba karaoke bertajuk Pesona Suara, yang diikuti peserta dari berbagai usia. Mayoritas anak muda yang berdomisili di wilayah Kecamatan Kawalu.
Menyambut keagungan bulan suci Romadhon, FTN tidak menyia-nyiakan moment keberkahan bulan special ini. Festival Lagu Religi pun dehelatnya, bekerjasama dengan Disporabudpar Kota Tasikmalaya.
“Event ini, cukup magnetic, menyedot peserta didominasi kalangan muda dari berbagai pelosok daerah Kota dan Kabupaten Tasikmalaya. Bahkan ada peserta dari Garut,” pungkas H Pepen.
Dewan pembina FTN, Ridwan Nurfaozan, S.Pd. menyampaikan dalam sambutannya,
“Kami akan terus melakukan penggalian potensi Sumberdaya Manusia maupun Sumberdaya Alam semaksimal mungkin, hingga menemukan ruang manfaat bagi kehidupan. Tanpa proses penggalian serius segala potensi di sekitar kita akan menguap sia-sia.” Ubgkap Angleg Komisi 4 ini.
Dalam obrolan di sela sidang Dewan Juri, H. Yusran menegaskan, visi dari Fstival Lagu Religi ini.
“Disamping menggali bakat, Festival Lagu Religi ini adalah upaya edukasi terhadap genarisi muda. Dengan adanya perlombaan ini, kita mencoba membangun katakter anak muda untuk berani tampil dan bertarung. Siap menang tapi tidak jumawa, dan lapang dada menerima kekalahan. Bukankah hidup kerap dikalkulasikan banyak orang, sebagi perlombaan yang berujung pada kalah dan menang?” papar H. Yusran, nota bene merupakan strutural FTN bidang pendidikan dan kebudayaan.
H Yusran menuturkan, Fastival Lagu Religi diikuti peserta dari kalangan anak muda. Puluhan peserta Mengikuti audisi di Kafe Bukit Lestari setiap hari dari pukul 15.30 sampai pukul 17.30 dengan auditor Edi Agil dan H. Yusran.
Dari puluhan peserta yang ikut audisi, ditetapkan 15 orang lolos ke babak final yang dihelat pada Sabtu tanggal 8 Mei 2021, mulai pukul 14.30. Sedang Grand final yang rencana semula pada hari Minggu 9 Mei 2021, dipercepat dan dilangsungkan pada hari Sabtu malam itu juga dengan menyisakan 7 peserta.
“Cukup ketat persaingan untuk melahirkan para juara, karena perbedaan kemampuan mereka cukup tipis dan imbang. Kemampuan para peserta, baik teknik vocal dan perform sangat ketat. Mereka hanya berbeda soal jam terbang, persiapan yang baik yang menentukan hasil akhir,” paparnya.
Akhirnya Dewan Juri memutuskan hasil akhir, walau dengan berat hati. Tapi pilihan harus ditetapkan, maka hasilnya, adalah:
Juara 1. Rama ( Tanjung, Kawalu), Juara 2. El-Zapran (Trio dari Singaparna), juara 3. Siti Madinah ( Cibeureum), Juara Harapan 1. Nazwa ( Cisumur), Juara Harapan 2. Alif Ichwan ( Talagasari, Kawalu), Juara Harapan 3. Gina (Jatiwaras) dan terakhir, Juara Favourit diraih oleh Fatma (Mangkubumi).
Dasar sikap dari acara Grand Final Yang bergeser waktunya, H Yusran nenegaskan di sela istirahat sidang juri, bahwa;
“Ini pertimbangan waktu dan moment. Ini soal strategi jualan. Jika dilangsungkan besok hari, resikonya berat. Disamping waktu tidak efektif, moment malam ini lebih bagus. Malam ini adalah aura klimaks dari acara ini. JIka besok, ini akan menjadi anti klimak dan kontra produktif, baik secara psikologis maupun komersial. Dengan antusiasme penonton yang membanjir, ini akan menambah gempita grand final itu sendiri. Semangat para finalis akan berlipat, tampil maksimal mengeluarkan kemampuannya. Bila grand final dihelat esok hari, saya tak menjamin, penonton akan seperti sekarang dan semeriah ini.”
Sementara Ridwan Nurfaozan Dalam podato penutupnya manyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat, baik tenaga pikiran dan financial. Tanpa dukungan para pihak, acara ini mustahil bisa terselenggara dan sukses.
“Kami akan tetap konsisten membangun masyarakat dengan segala bisa. Semoga lain waktu, event ini lebih besar. Karena jalan ke sana sudah terbuka lebar. Bulan depan, di Bukit Lestari akan dihelat event Nasional, yakni pertemuan penyair se nusantara. Sekitar 100 penyair, akan hadir dalam acara launching antologi puisi ” Kebaya Bordir Untuk Umayah”. Tapi tanggalnya masih dipertimbangkan, terkait kesiapan panitia dan proses pencetakan buku Antologi,” pungkasnya. (Red/Yus)***


















