Santri Al-Munawwar Hidupkan Ramadan dengan Pengajian Pasaran Intensif

Suasana khidmat santri mengikuti ngaji pasaran Ramadan, menimba ilmu dengan penuh kesungguhan dan harap keberkahan, Kamis malam, 19/02/2026.
Suasana khidmat santri mengikuti ngaji pasaran Ramadan, menimba ilmu dengan penuh kesungguhan dan harap keberkahan, Kamis malam, 19/02/2026.

Tasikmalaya – Gemamitra.com| Bulan suci Ramadan selalu menjadi momentum istimewa bagi kalangan pesantren untuk menghidupkan tradisi keilmuan Islam. Salah satu tradisi yang tetap terjaga hingga kini adalah ngaji pasaran, sebuah kegiatan pengajian intensif yang dilaksanakan khusus selama Ramadan.

Pondok Pesantren Al-Munawwar Jarnauziyyah Pusat Pasirbokor kembali menyelenggarakan Pengajian Pasaran Ramadan 1447 H/2026 M sebagai bagian dari komitmen menjaga tradisi keilmuan pesantren. Kegiatan ini dimulai pada 26 Sya’ban 1447 H/14 Februari 2026 dan akan berlangsung hingga 20 Ramadan 1447 H/9 Maret 2026.

Ngaji pasaran merupakan sistem pembelajaran kitab kuning secara intensif dalam waktu relatif singkat. Para santri dan peserta dari berbagai kalangan mengikuti pengajian dengan penuh kesungguhan, memanfaatkan momentum Ramadan sebagai bulan penuh keberkahan untuk memperdalam pemahaman agama.

Dalam kegiatan ini, peserta dibagi ke dalam tiga kelas. Kelas 1 mengkaji kitab-kitab dasar seperti Akhlaqul Banain, Akhlaqul Banat, Sy’ubul Iman, hingga Tijan Ad-Daruri. Kelas 2 mempelajari kitab Lathaiful Isyarat, Uqudulujain, Durrotunnasihin, dan Tafsir Yasin. Sementara Kelas 3 secara khusus mendalami Tafsir Al-Jalalain.

Pimpinan Pondok Pesantren Al-Munawwar Jarnauziyyah Pusat, Dr. H. Pepep Puad Muslim, M.SI, menegaskan bahwa ngaji pasaran bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bagian dari ikhtiar membangun karakter santri yang berilmu, berakhlak, dan istiqamah dalam menuntut ilmu.

“Ramadan adalah bulan pendidikan ruhani. Melalui ngaji pasaran, santri tidak hanya memperdalam pemahaman kitab, tetapi juga melatih kedisiplinan, kesabaran, dan kekhusyukan dalam belajar,” ujarnya.

Salah satu santri, Agus Mikdarul Falah, mengatakan bahwa pengajian pasaran memberikan pengalaman belajar yang berbeda dibandingkan hari-hari biasa. Menurutnya, suasana Ramadan membuat semangat belajar semakin meningkat.

“Pengajian ini sangat membantu kami dalam memahami kitab secara lebih mendalam karena waktunya lebih fokus dan intens. Selain itu, kebersamaan dengan teman-teman selama Ramadan menambah motivasi untuk terus istiqamah dalam belajar,” ungkapnya.

Selain penguatan materi keilmuan, tradisi ngaji pasaran juga menjadi ruang silaturahmi dan mempererat ukhuwah antarsantri. Suasana belajar yang khas, mulai dari sorogan hingga bandongan, menghadirkan nuansa klasik pesantren yang sarat nilai keberkahan.

Dengan biaya partisipasi sebesar Rp450.000, kegiatan ini terbuka bagi santri maupun masyarakat umum yang ingin mengisi Ramadan dengan kegiatan yang produktif dan bernilai ibadah.

Tradisi ngaji pasaran membuktikan bahwa pesantren bukan hanya lembaga pendidikan, tetapi juga benteng peradaban yang menjaga kesinambungan transmisi ilmu dari generasi ke generasi. Di tengah dinamika zaman, pesantren tetap teguh merawat tradisi, sekaligus menjawab kebutuhan umat akan pendalaman ilmu agama yang otoritatif dan berkesinambungan. (Pakesit)**

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *