Komunitas Cermin Tasikmalaya Sukses Gelar Dinasti Literasi, Hidupkan Sastra dan Kebudayaan

Tasikmalaya, Gemamitra.com – Literasi tidak selalu berhenti pada kata-kata yang tertulis di halaman buku. Di tangan para seniman, puisi dapat menjelma nada, esai menjadi gerak, sementara kata-kata menghadirkan rupa dan pertunjukan yang menghidupkan kebudayaan. Semangat itulah yang terasa dalam perhelatan Dinasti Literasi yang digagas Komunitas Cermin Tasikmalaya (KCT) pada 10–17 Oktober 2026, bertempat di Buleud Galery Tasikmalaya.

Mengusung slogan “Mewariskan Pengetahuan, Menghidupkan Kebudayaan”, kegiatan yang berlangsung selama delapan hari ini menjadi ruang perjumpaan antara sastra, seni, dan masyarakat. Lebih dari sekadar agenda peluncuran buku, Dinasti Literasi menghadirkan upaya merawat tradisi intelektual sekaligus mempertemukan kreativitas seniman lintas generasi di Kota Tasikmalaya.

Bacaan Lainnya

Ketua Komunitas Cermin Tasikmalaya, Adi Ardiansyah Soetisna Sendjaya, mengaku bangga dan bersyukur karena seluruh rangkaian kegiatan Dinasti Literasi dapat berjalan lancar dan kondusif.

Adi menyampaikan terima kasih serta apresiasi kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dan berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan tersebut. Menurutnya, keberhasilan perhelatan ini tidak terlepas dari semangat kebersamaan, kolaborasi, dan kepedulian berbagai pihak terhadap perkembangan literasi serta kebudayaan di Kota Tasikmalaya.

Ia berharap semangat yang terbangun melalui Dinasti Literasi dapat terus berlanjut, sehingga ruang kolaborasi bagi sastrawan, seniman, komunitas, dan generasi muda semakin terbuka untuk melahirkan karya-karya kreatif yang memperkaya khazanah kebudayaan daerah.

Ketua Komunitas Cermin Tasikmalaya memberikan cendramata kepada Budayawan Acep Zamzam Noor. Dok Foto Istimewa.
Ketua Komunitas Cermin Tasikmalaya memberikan cendramata kepada Budayawan Acep Zamzam Noor. Dok Foto Istimewa

Salah satu daya tarik utama Dinasti Literasi adalah peluncuran dan pembahasan tiga buku dari keluarga sastrawan Acep Zam Zam Noor. Ketiga karya tersebut menghadirkan corak pemikiran dan ekspresi yang berbeda, sekaligus menggambarkan keberlanjutan tradisi literasi dalam satu keluarga.

Buku pertama, Remang Jalan ke Surau, merupakan kumpulan haiku karya Acep Zam Zam Noor. Buku kedua, Menyudahi Patah Hati di Akhir Pekan, adalah kumpulan puisi karya Imana Tahira, putri Acep. Sementara itu, Musim Dingin di Cipasung merupakan kumpulan esai reflektif karya Diwan Masnawi, putranya.

Ketiga buku tersebut menjadi pintu masuk untuk membicarakan sastra dari beragam sudut pandang, mulai dari kepekaan terhadap kehidupan sehari-hari, pergulatan perasaan, hingga perenungan atas pengalaman dan realitas sosial.

Rangkaian diskusi buku dimulai pada 10 Oktober 2026 melalui pembahasan Menyudahi Patah Hati di Akhir Pekan bersama penulis asal Jakarta, Dzulkifli Songyanan, dengan Hilmi Mubarok sebagai moderator. Selanjutnya, pada 12 Oktober 2026, buku Musim Dingin di Cipasung dibedah bersama akademisi Dr. Fauz Noor, M.Ag., dan Dr. Maulana Janah, dengan Wulan Safira Permata sebagai moderator.

Pembahasan berlanjut pada 15 Oktober 2026 melalui bedah buku Remang Jalan ke Surau karya Acep Zam Zam Noor, menghadirkan Nizar Machyuzaar sebagai pembicara dan Rika Johara sebagai moderator. Ruang diskusi tersebut tidak hanya menjadi kesempatan untuk memahami isi buku, tetapi juga membuka percakapan mengenai bagaimana karya sastra dapat dibaca, ditafsirkan, dan dihubungkan dengan kehidupan masyarakat.

Hal yang membuat Dinasti Literasi terasa berbeda adalah penerapan konsep alih wahana, yakni proses menerjemahkan karya dari satu bentuk seni ke bentuk seni lainnya. Melalui pendekatan ini, teks puisi, haiku, dan esai tidak hanya dibacakan atau didiskusikan, tetapi juga diolah menjadi pertunjukan yang menghadirkan pengalaman artistik secara lebih luas.

Kelompok Larasika dari SMAN 5 Kota Tasikmalaya turut menerjemahkan gagasan dan suasana karya sastra melalui pertunjukan tari. Gerak tubuh menjadi medium untuk menyampaikan pesan, emosi, dan imajinasi yang terkandung dalam teks.

Di bidang musik, Tjepi, musisi sekaligus Direktur LSMI Cabang Tasikmalaya, bersama para musisi pendukung menghadirkan musikalisasi puisi dan esai. Perpaduan kata dan bunyi tersebut memperlihatkan bahwa karya sastra dapat dinikmati melalui pengalaman pendengaran yang berbeda dari kebiasaan membaca.

Eksplorasi seni juga hadir melalui monolog, dramatisasi puisi, seni instalasi, dan pameran lukisan. Beragam bentuk ekspresi itu menjadikan Dinasti Literasi sebagai ruang pertemuan antardisiplin seni, sekaligus memperluas kemungkinan masyarakat dalam menikmati dan memahami karya sastra.

Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa karya tulis memiliki ruang hidup yang luas. Sebuah puisi dapat menemukan tafsir baru ketika diwujudkan dalam gerak, sementara esai dapat menghadirkan pengalaman berbeda saat diterjemahkan menjadi pertunjukan.

Puncak kegiatan Dinasti Literasi berlangsung pada 17 Oktober 2026. Acara penutupan diwarnai berbagai pertunjukan seni, pembacaan puisi, serta pembagian doorprize berupa buku-buku karya penulis. Suasana tersebut menjadi penanda berakhirnya rangkaian kegiatan sekaligus perayaan atas proses kreatif yang telah dibangun bersama.

Keberhasilan kegiatan ini tidak terlepas dari keterlibatan para perupa, seniman pertunjukan, musisi, komunitas, dan masyarakat yang memberikan dukungan melalui karya serta partisipasi mereka.

Sejumlah perupa yang terlibat di antaranya Hj. Rukmini Afandi Yusuf, Jamal Mural, Leo Penatap Bulan, Ken Adhisti, Oyok Japarulloh, Fitri Mayasari (Triya), Zia Salsabila, Gita Fadzilatus Sa’baniyah, Agam Muhammad Husen, Eki Naufal, Rifqi Abdul Jabbar, dan Fauzi Bachtiar.

Sementara itu, keterlibatan kelompok dan pelaku seni pertunjukan meliputi Larasika, UKM Teater 28, Teater Elips, Kuluwung, Tjepi, Harmoni Loka, Rere, Opi, Amang Bolon, Ales Vika, Pongkir, Naya Zidni Niama, Wawan, Agus AW, Sopi, dan Sesep, serta para seniman lainnya.

Keterlibatan berbagai komunitas tersebut memperlihatkan pentingnya gotong royong dalam membangun ekosistem kebudayaan. Ruang berkesenian tidak hanya membutuhkan karya dan gagasan, tetapi juga perjumpaan, keberanian bereksperimen, serta kesediaan untuk saling mendukung.

Melalui Dinasti Literasi, Komunitas Cermin Tasikmalaya menghadirkan pesan bahwa kebudayaan akan terus hidup ketika pengetahuan tidak berhenti pada satu generasi. Sastra menjadi jembatan yang menghubungkan pengalaman, gagasan, dan kreativitas, sedangkan seni membuka jalan agar pesan-pesan tersebut dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Pada akhirnya, Dinasti Literasi bukan sekadar perayaan buku atau panggung pertunjukan. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa literasi merupakan bagian dari denyut kebudayaan yang perlu dirawat bersama, diwariskan melalui karya, dan dikembangkan dengan semangat keterbukaan. Dinasti Literasi, diwariskan bukan dikuasai.**

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *