Gemamitra.com

Sebagaimana kita tahu, dongeng bisa berpengaruh pada perkembangan fisik, intelektual, bahkan mental seorang anak. Dongeng juga bisa dijadikan cara lain orang tua untuk mendekati anak karena rutinitas kesibukan kerja yang padat. Tetapi, banyak sekali orangtua yang mengaku tidak punya waktu mendongeng untuk anaknya. Padahal, mendongeng tidak perlu terlalu rumit. Hanya saja, cerita yang disajikan dengan hati akan sampai pula ke hati.

Bagi orang-orang yang gemar membaca, pasti mengenal H.C. Andersen. Ia dikenal sebagai salah satu sastrawan Eropa abad ke-19. Di negara kita, ia lebih dikenal sebagai penulis cerita anak dengan kisah-kisahnya yang indah dan populer hingga saat ini.

Kehebatannya membentuk sebuah cerita tidak akan lepas dari serangkaian pengalaman batin masa kecilnya. Terutama saat-saat di mana ia bersinggungan dengan sang ayah, Hans Andersen. Dalam otobiografinya, The True Story Of My Life (1846), Hans menulis, “Seolah ayah hanya hidup untukku. Setiap minggu ia membuat gambar-gambar dan menceritakan dongeng-dongeng.” Dalam pada itu, ibunya banyak mengenalkan cerita-cerita rakyat.

Andersen dilahirkan bukanlah dari sebuah keluarga yang modern dan harmonis. Ia lahir pada 1805 di kawasan kumuh Kota Odense, Denmark. Ayahnya seorang pembuat sepatu yang buta huruf, sedangkan ibunya hanyalah seorang buruh cuci yang kemudian menjadi pemabuk. Andersen sendiri malah tidak bersekolah.

“Hanya pada saat-saat seperti itulah aku melihat ia begitu riang, karena sesunguhnya ia tidak pernah bahagia dalam kehidupannya sebagai pembuat sepatu.” Tutur Andersen tentang kebiasaan mendongeng ayahnya. Dari kekayaan batinnya, kini dunia mengenang Andersen lewat karya-karya abadi seperti The Thin Brave Soldier ( Prajurit Kecil Berkaki Satu), The Ugly Duckling (Itik Kecil Buruk Rupa), atau Little Match Seller (Gadis Penjual Korek Api).

Tujuan orangtua mendongeng tentu saja bukan untuk mencetak anak-anaknya menjadi sastrawan. Kisah yang baru saja penulis ceritakan hanyalah sebuah contoh bahwa mendongeng bisa menjadi aktivitas berkomunikasi dengan anak secara mudah dan murah, secara efektik dalam menyampaikan pesan kepada anak. Hanya saja bermodal usaha, imajinasi dan kemauan dari orangtua.

Ada pula berbagai penelitian menyebutkan, bahwa dongeng dapat mengembangkan kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan ketahanan mental anak. Kisah-kisah yang didengar anak dari mulut orangtua akan mengaktifkan simpul saraf dan membuat otak lebih aktif, hingga berimbas pada kecerdasannya kelak.

Mendongeng tidak perlu dibuat susah dan tidak harus dibacakan menjelang tidur. Mendongeng bisa kapanpun dan di manapun orangtua lakukan. Selain akses yang bisa dengan mudah kita dapatkan di toko buku terdekat, saat ini marak pula Taman Bacaan Masyarakat yang bisa dijadikan alternatif untuk mengajak anak membaca sambil bermain atau dipinjam untuk dibawa pulang.

Tapi jika benar-benar kita, sebagai orangtua sulit mendapatkan bahan, segala hal yang bersinggungan dan ada di sekitar anak, bisa kita jadikan bahan cerita. Jangan hanya terpaku pada cerita-cerita yang ada dalam buku atau cerita-cerita yang terus didadarkan orangtua zaman dulu. Segala benda atau manusia di sekeliling kita sesungguhnya bisa dijadikan sumber bahan yang tiada habisnya.

Misalnya, kita membuat cerita seperti ini: Ada sebuah mangkuk yang cantik sekali. Dia selalu senang bangun pagi untuk dicuci lalu amat bahagia ketika bubur tersaji di atasnya. Setelah terhidang dan ditambahkan segala macam bahan yang ditaburi di atas bubur panas pada mangkuk cantik itu, aromanya akan mengharumkan seisi ruangan dapur. Membuat seluruh gelas, teko, dan piring jadi iri melihatnya. Orang-orang jadi senang menyantap bubur yang tersaji di mangkuk cantik itu.

Cerita tersebut menyampaikan pesan, bahwa bangun pagi hari dan mandi, membuat semua orang senang. Sebuah pesan tentang kedisiplinan dan kerajinan yang disajikan dengan sangat mudah. Jika sedang buntu ide, orangtua bisa bercerita tentang pekerjaannya di kantor atau cerita pengalaman ibu yang baru pulang dari salon, arisan, atau sepulang dari belanja ke pasar. Banyak hal positif yang bisa diceritakan dalam bahasa anak yang mudah.

Meskipun banyak hal yang dapat kita ceritakan, perlu kita hindari kata-kata atau penceritaan yang tidak pantas. Misalkan, kekerasan, atau hinaan kepada objek tertentu. Permasalahan yang akan didapatkan oleh seorang anak, ketika mendapatkan cerita yang dianjurkan penulis untuk dihindari, ia akan berimajinasi dan membuat gambaran tentang tokoh-tokoh yang diceritakan. Misalkan, menjadi sosok mangkuk yang cantik yang hidup dalam kisah tadi, perlahan-lahan seorang anak akan mengidentifikasi diri sebagai mangkuk yang dimaksud. Saat mereka memahami, pesan dari orangtua akan tersampaikan.

Dalam pada itu, yang sangat fatal ketika bercerita, orangtua dimohon untuk tidak menyampaikan pesan dengan cara menuntut. Si anak harus begini atau begitu, kebanyakan anak akan cepat bosan dalam mendengarkan cerita, dan yang lebih parah, jika mereka merasa digurui atau dipermalukan oleh orangtuanya sendiri.

Mendongeng akan lebih menarik dengan sedikit sentuhan atraktif dari sang pendongeng. Misalkan, dari ekspresi wajah, gerakan badan, atau memainkan intonasi suara. Walhasil, dongeng akan terkesan memukau dan seakan hidup. Anak akan tertarik dan menyimak menggunakan seluruh inderanya untuk larut ke dalam cerita.

Bagi yang belum terbiasa, mungkin akan sedikit sulit. Tapi hal tersebut bukanlah momok yang perlu dipikirkan. Kebutuhannya hanya akting sederhana. Dengan akting sederhana tersebut maksud sang pendongeng akan lebih tertangkap dan mudah dicerna oleh anak-anak dari pada hanya sekedar membacakan buku cerita dengan intonasi suara yang datar-datar saja.

Ketika menceritakan tokoh badak melompat karena menghindari lubang, misalnya, pendongeng bisa melompat. Ditambah ekspresi yang mendukung dan suara yang tersengal atau sedikit ngos-ngosan. Niscaya anak akan masuk dalam imajinasi tokoh badak tersebut. Agar lebih menarik lagi, upayakan membedakan suara-suara tokoh dalam sebuah dongeng. Hal tersebut akan mengaktifkan indera pendengaran anak.

Satu formula utama yang harus diperhatikan dalam mendongeng yaitu suasana hati. Semua harus disampaikan dengan kasih sayang, karena anak dapat merasakan seandainya kita mendongeng dengan kesal hati atau hal-hal yang membuat ketidakmenarikkan mendongeng bagi anak. Jadi, kapan kita akan memulai mendongeng untuk anak kita?

Yudi Damanhuri adalah pengajar di SMA Pesantren Unggul Al Bayan Anyer. Menulis Puisi dan Naskah Drama. Bergiat di Kubah Budaya.***

Oleh Yudi Damanhuri