ANDAI NEGARA BERPIHAK PADA RAKYAT!

Sebuah Opini Naratif tentang Krisis Pendidikan di Indonesia

Oleh: Silmi El Kaffah (Mahasiswa INU Tasikmalaya)

Bacaan Lainnya

Pendidikan adalah jantung bagi kemajuan sebuah bangsa. Ia bukan sekadar ruang kelas, buku pelajaran, atau angka-angka dalam rapor. Pendidikan adalah proses panjang membentuk manusia—menumbuhkan nalar, mengasah empati, dan menyiapkan masa depan. Namun, di negeri ini, jantung itu seakan berdetak tak beraturan.

Di balik megahnya gedung-gedung sekolah dan gencarnya program pemerintah, masih banyak anak-anak yang harus berjuang sekadar untuk tetap belajar. Di pelosok, ruang kelas yang nyaris roboh menjadi saksi bisu mimpi yang nyaris runtuh. Di perkotaan, biaya pendidikan yang kian melambung pelan-pelan menyingkirkan mereka yang tak mampu. Pendidikan, yang seharusnya menjadi hak, perlahan berubah menjadi privilese.

Negara memang hadir—setidaknya di atas kertas. Anggaran pendidikan digelontorkan, kurikulum diperbarui, dan berbagai program diluncurkan. Namun, pertanyaannya: apakah semua itu benar-benar menyentuh mereka yang paling membutuhkan?

Realitas di lapangan sering berkata lain. Guru honorer masih bergulat dengan kesejahteraan yang jauh dari layak. Sekolah-sekolah di daerah tertinggal kekurangan fasilitas dasar. Sementara itu, kebijakan pendidikan kerap berubah arah, seolah kehilangan kompas yang jelas. Yang menjadi korban adalah peserta didik—generasi yang seharusnya kita siapkan untuk menghadapi masa depan.

Lebih jauh lagi, pendidikan kita juga menghadapi krisis nilai. Sistem yang terlalu menekankan pada capaian angka membuat esensi belajar menjadi kabur. Anak-anak didorong untuk mengejar nilai tinggi, bukan memahami makna. Kreativitas sering kali kalah oleh standar, dan karakter kalah oleh target.

Andai negara benar-benar berpihak pada rakyat, pendidikan tidak akan menjadi beban. Ia akan menjadi jalan terang bagi siapa pun, tanpa memandang latar belakang ekonomi. Negara akan memastikan setiap anak mendapatkan akses yang setara, setiap guru hidup dengan layak, dan setiap sekolah menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk tumbuh.

Berpihak pada rakyat berarti mendengar—bukan sekadar merumuskan kebijakan dari balik meja. Berpihak berarti hadir secara nyata, terutama bagi mereka yang selama ini terpinggirkan. Pendidikan tidak bisa diselesaikan dengan slogan, tetapi dengan keberpihakan yang konkret.

Harapan itu masih ada. Di setiap anak yang tetap berangkat ke sekolah meski dengan keterbatasan. Di setiap guru yang mengajar dengan hati meski dalam kekurangan. Mereka adalah alasan mengapa pendidikan harus terus diperjuangkan.

Karena pada akhirnya, masa depan bangsa ini tidak ditentukan oleh seberapa canggih kurikulumnya, tetapi oleh seberapa adil negara memperlakukan pendidikan bagi seluruh rakyatnya.**

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *