Mengembalikan Ruh Pendidikan di Tengah Pencitraan Sekolah

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Gemamitra.com

Kebijakan pemerintahan daerah mengadakan rotasi jabatan pimpinan sekolah di lingkungan pendidikan memberikan hal yang positif. Para pejabat baru yang memimpin sekolah berusaha memberikan hal terbaik. Banyak sekolah yang disulap menjadi sekolah yang berbeda dari sebelumnya. Perwajahan sekolah mengalami perubahan yang pesat. Kepiawaian pimpinan sekolah dalam memanajemen sekolah dicurahkan untuk perbaikan bangunan sekolah. Sehingga tak jarang pimpinan sekolah menggiring warga sekolah untuk berbuat dan bertindak seperti apa yang ada di benak pimpinan. Intinya adalah perubahan wajah sekolah.

Para pemimpin sekolah yang baru dirotasi langsung terjun bebas melihat kondisi bangunan fisik yang akan dijadikan target perubahan dalam masa jabatannya. Selain itu untuk menaikan pencitraan sekolah tidak segan-segan para pemimpin sekolah mencoba peruntungan dengan mengikutkan sekolahnya ke berbagai even kejuaraan. Di antaranya even lomba kebersihan yang diadakan oleh instansi di luar dinas pendidikan. Bak gayung bersambut. Walau harus merogoh saku agak dalam, sekolah berusaha mempersiapkan diri mengikuti kegiatan tersebut. Berbagai sarana yang diperlukan dipenuhi secara pasti. Al hasil, kegiatan yang diadakan dinas di luar pendidikan tersebut berhasil mengubah perwajahan sekolah menjadi sekolah yang layak dipandang.

Namun sayang, dibalik keberhasilan mengubah perwajahan sekolah-sekolah, ada hal yang tertinggal yaitu banyak pimpinan sekolah dan juga pihak dinas pendidikan hanya fokus pada fhisical building, tetapi kurang memperhatikan capacity building. Hal ini tentunya menjadi kekhwatiran, akan hilangnya ruh pendidikan. Padahal amanat permen 13 tahun 2015 tentang Standar Nasional pendidikan ada 8 standar antara lain standar SKL, standar isi, standar proses, strandar penilaian, standar tenaga kependidikan, standar sanpras, dan sandar pembiayaan. Keseimbangan pelaksaan kedelapan standar tersebut harus menjadi perhatian para pemimpin sekolah dan khususnya dinas pendidikan sebagai pengawal terlaksananya pendidikan di lingkungannya.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan harus dikembalikan pada tujuan utamanya yaitu tempat menampung peserta didik sebagai tempat kegiatan belajar. Ketercapaian hasil pembelajaran yang baik salah satunya adalah ketercapaianya kurikulum pendidikan. Kurikulum sebagai jantungnya pendidikan tentunya perlu mendapat perhatian yang utama. Kegagalan menjalankan kurikulum akan membuat generasi yang gagal pula. Hal ini tentunya menjadi kekhawatiran juga. Jika pembangunan di sekolah hanya diarahkan pada pembangunan fisik saja. Sementara kebutuhan guru sebagai pengawal kurikulum tidak mendapat sentuhan.

Guru sebagai pendidik sekaligus sebagai pelaksana kurikulum tentu perlu kompetensi yang mumpuni dalam melaksanakan kurikulum di sekolah. Empat standar pendidikan yang meliputi standar SKL, standar isi, standar proses, dan standar penilaian harus benar benar dikuasai guru. Apa yang mau disampaikan, bagiamana cara menyampaikan, serta bagaimana cara melaksanakan penilaian.

Tentulah seorang guru harus sudah piawai dalam membuat perencanaan, bagaimana metode dan model pembelajaran yang digunakan, serta jenis penilaian bagaimana yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Sayangnya, kegiatan-kegiatan yang mengarah kepada capacity building sering luput dari program pimpinan sekolah. Tak heran jika guru di lapangan banyak kehilangan arah dalam membimbing peserta didik. Guru sepertiya kehilangan visi dan misi dalam pembelajaran.

Jarang terdengar adanya kegaiatan yang meng-Upgrade guru dalam masalah standar Penilaian, bagaimana membuat RPP yang benar, metode, bahan bagaimana membuat penilaian. Apalagi kalau kita lihat perubahan kurikulum revisi hanya dipahami oleh sekolah–sekolah yang baru mendapatkan bimtek kurikulum karena merupakan angkatan terakhir. Sementara angkatan sebelumnya tidak tersentuh. Sehingga tidak heran perkembangan dan implementasi kurikulun di lapangan tidak merata. Guru merasa kehilangan arah bagaimana cara mengimplementasikan kurikulum yang mengalami revis. Semetara mereka harus terus bertahan dalam metode dan cara pembelajaran yang lama.

Melihat perkembangan yang terjadi sudah saatnya kita kembalikan ruh pendidikan pada lingkungan sekolah sebagai tempat menuntut ilmu peserta didik. Sehingga keberadaan sekolah akan kembali menggelora dengan terciptanya kemampuan yang dimiliki guru sebagai pengawal kurikulum.

Dilain pihak, keberadaan musrembang yang diadakan sebaiknya tidak terlalu terfokus pada pembangunan fisik saja, tetapi adanya keseimbangan dengan pembangun sumber daya manusianya sehingga tercitanya keseimbangan.
Adanya keseimbangan pembangunan antara phisical building dan capacity building akan menciptakan pendidikan yang kuat sesuai dengan yang diamanatkan permen dan Undang-Undang Pendidikan Nasional. Sehingga dapat terciptanya sekolah dengan menekankan pada pola sikap, pola hidup, dan pola kondisi yang akan membawa perubahan yang signitifikan. Semoga.***

Oleh: Toni Suryaman
Penulis adalah Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 5 Tasikmalaya. Menulis artikel di media massa. Kini menjadi Ketua MGMP Bahasa Indonesia Kota Tasikmalaya, menjadi Instrukktur Kota Kurikulumm 2013, serta menjadi Guru Mitra Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Tinggal di Kota Tasikmalaya.

Leave a Reply