Ngopi Ramadan di Pesantren: Merawat Tradisi Intelektual dan Ukhuwah Santri

Santri mengikuti pengajian kitab kuning dalam suasana pesantren pasaran Ramadan di Ponpes Darul Anba Bantargedang cibeureum Kota Tasikmalaya. Di sela-sela kajian, tradisi ngopi menjadi ruang diskusi dan mempererat ukhuwah, Kamis malam 19/02/2026.
Santri mengikuti pengajian kitab kuning dalam suasana pesantren pasaran Ramadan di Ponpes Darul Anba Bantargedang cibeureum Kota Tasikmalaya. Di sela-sela kajian, tradisi ngopi menjadi ruang diskusi dan mempererat ukhuwah, Kamis malam 19/02/2026.

Oleh: Pakesit 

Bulan Ramadan selalu menghadirkan denyut kehidupan yang berbeda di lingkungan pesantren. Selain kajian rutin dan ibadah yang kian intens, ada satu tradisi sederhana namun sarat makna: ngopi bareng di sela-sela kegiatan pesantren pasaran.

Bacaan Lainnya

Pesantren pasaran sendiri merupakan tradisi khas kalangan santri di berbagai daerah di Tasikmalaya dan wilayah Priangan pada umumnya. Selama Ramadan, para santri baik mukim maupun kalong, mengikuti pengajian kitab kuning secara maraton, mulai selepas Subuh hingga menjelang berbuka, bahkan dilanjutkan malam hari usai Tarawih. Ritme belajar yang padat itu melahirkan ruang-ruang jeda yang diisi dengan kebersamaan, salah satunya melalui tradisi ngopi.

Ngopi Bukan Sekadar Minum Kopi

Di teras asrama, serambi masjid, atau sudut dapur pesantren, secangkir kopi panas menjadi teman setia diskusi. Ngopi di pesantren bukan sekadar mengusir kantuk selepas sahur atau menjaga stamina hingga sahur berikutnya. Ia menjadi medium perjumpaan gagasan.

Para santri mendiskusikan syarah kitab yang baru dikaji, memperdebatkan makna ibarah, atau sekadar berbagi kisah kampung halaman. Tak jarang, ustaz atau ajengan ikut nimbrung, meluruskan pemahaman, bahkan melempar canda yang mencairkan suasana.

Di situlah ilmu menemukan ruang hidupnya—tidak kaku, tidak formal, tetapi mengalir bersama uap kopi.

Kopi dan Tradisi Intelektual

Dalam tradisi keilmuan Islam klasik, diskusi informal di luar majelis resmi bukanlah hal asing. Di banyak pusat peradaban Islam, budaya minum kopi telah lama menjadi bagian dari tradisi intelektual. Jika di Timur Tengah kopi dikenal luas sejak era Kekaisaran Utsmaniyah, di Nusantara ia menyatu dengan kultur pesantren.

Di pesantren pasaran, kopi menjadi simbol egalitarianisme. Santri senior dan junior duduk melingkar tanpa sekat. Tidak ada jarak sosial. Yang ada hanya semangat thalabul ‘ilmi (mencari ilmu) dan kebersamaan.

Ruang Silaturahmi dan Penguatan Emosional

Ramadan juga menjadi momentum reuni para alumni. Banyak santri lama yang sengaja kembali ke pesantren untuk mengikuti pasaran. Momen ngopi menjadi ajang temu kangen, bertukar kabar, sekaligus memperkuat jaringan silaturahmi.

Di tengah kesederhanaan gelas enamel atau cangkir plastik, tersimpan kehangatan ukhuwah. Kopi yang mungkin pahit justru menguatkan rasa manis kebersamaan.

Tradisi yang Perlu Dirawat

Di era serbacepat dan digital, tradisi ngopi di pesantren pasaran mengajarkan nilai perlambatan. Duduk bersama tanpa gawai, berbincang tatap muka, dan mendengarkan dengan saksama adalah kemewahan tersendiri.

Tradisi ini bukan hanya soal minuman, tetapi tentang merawat budaya diskusi, menjaga adab, dan memperkuat solidaritas. Ramadan menjadi ruang penggemblengan spiritual sekaligus sosial, dan secangkir kopi menjadi saksi bisu lahirnya pemahaman serta persaudaraan.

Seperti disampaikan Baehaki Mufti, santri di Pondok Pesantren Darul Anba Bantargedang Kecamatan Cibeureum Kota Tasikmalaya yang tengah mengkaji Alfiah Ibnu Malik, kegembiraan yang hakiki justru ia rasakan di lingkungan pesantren. “Di sini kami bukan hanya belajar ilmu, tetapi menjadi satu keluarga besar santri. Kebersamaan itulah yang membuat Ramadan terasa lebih hidup dan bermakna,” ujarnya.

Di pesantren, ngopi bukan sekadar gaya hidup. Ia adalah bagian dari laku hidup yang sederhana, hangat, dan penuh makna.**

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *