Gema Mitra – Kota Tasik
Bertepatan dengan hari buku dunia yang diperingati setiap tanggal 23 April, telah dilangsungkan launching buku antologi puisi tunggal karya penyair Agus Salim Maolana, bertempat di Pergola Coffee and Corner, Selasa malam 23/04/2019.

Penyair kelahiran Tasikmalaya 21 tahun silam ini merupakan seorang mahasiswa tingkat 3 Universitas Siliwangi Tasikmalaya program studi Bahasa Indonesia.

Acara yang dikemas dengan hangat dan kekeluargaan itu diisi dengan Pembacaan Puisi dan Musikalisasi Puisi yang juga tak ketinggalan diskusi dari para tamu undangan.

Nampak hadir pada kesempatan tersebut Sastrawan Bode Riswandi, Seniman Ashmansyah Timutiah, para pegiat kesenian Tasikmalaya, Wartawan dan para relawan literasi.

acara tersebut didukung oleh Forum TBM Kota Tasikmalaya, Mata Rumpaka, Kolecer Kota Tasikmalaya, dan Langgam Pustaka.

Meski acara sempat tertunda akibat cuaca hujan, yang semula dijadwalkan pukul 18.30 WIB menjadi pukul 20.00 WIB. Namun tidak mengurangi kemeriahan dan kekhidmatan acara yang di pandu oleh Jojo dari Mata Rumpaka.

Karya Agus dibedah oleh Syepul Millah, dan H. Egi Azwul Fikri didampingi Mutia sebagai moderator.

Ketika memasuki ranah pembedahan banyak sekali dalam puisi-puisi yang termaktub ditulis oleh penyairnya merupakan puisi-puisi referensial/ puisi yang merujuk dari hasil pengalaman batin penyair ketika membaca karya novel atau cerpen dan jenis karya tulis lainnya sebagai entry point penulisan untuk memancing si penulis untuk membuat karya/karya apapun itu, dalam diskusi puisi agus mengutarakan hal itu “puisi-puisi yang saya tulis banyak mengandung referensial karena efek dari baca novel dan cerpen, sejak kuliah saya banyak sekali membaca tulisan-tulisan dari mulai Ahmad Tohari sampai ke Agus Noor” ungkapnya.

Agus yang sejak duduk dibangku kelas 3 SMA termotivasi untuk menulis ketika membaca karya-karya penulis terkenal, sejak saat itu ia keluar dari kamarnya untuk sekedar berkumpul, berkomunitas, dan berdiskusi. Dan dari sanalah muncul dalam dirinya untuk menulis sampai hari ini sejak 2016.

“Di setiap momen apapun saya menulis dan semakin tertarik di dunia puisi”, ungkapnya.

Kedepan Agus juga ingin mencoba menulis selain dari puisi, yaitu cerpen, novel dan lain sebagainya.

H. Egi Azwul Fikri selaku pembedah mengapresiasi dan merasakan gairah dari puisi si penulis. “Saya seolah sedang membaca peta karena di setiap tulisannya kadang-kadang saya merasakan atmosfir di eropa dan kadang di sebelah timur, dan si penulis sendiri cukup liar karena kosakatanya beda dengan lainnya sekaligus bagi saya menemukan puisinya itu ada klimaks di sana”, tukasnya.

Sementara itu pihak penerbit Langgam Pustaka yang diwakili Mufidz At-Thoriq mengatakan sepak terjang proses pembuatan buku ini beda dari yang lainnya karena diseleksi/dikurasi. “Mentalnya bukan mental karet dan tulisan-tulisannya unik karena referensial namun tidak terdapat Tohari dan Agus Noor di puisinya tapi Agus itu sendiri”, ujarnya.

Launching yang diselenggarakan di momen Hari Buku Dunia tersebut memang penuh dengan makna yang direnungkan dalam diri, contohnya Syaepul Millah atau yang akrab disapa Epul memaknai buku adalah suatu aktifitas untuk menghilangkan bias-bias dalam diri kita dan dengan buku kita lebih maju dari orang yang tak pernah membaca buku. Sementara itu Mutia sebagai moderator, memaknai dengan buku membuatnya bahagia karena dalam buku terdapat hal-hal yang tidak kita dapat di dunia nyata. (M. Rizky Arbianto)