(Oleh : Kendra Rodiyansah, S.Pd.)

Musibah yang sedang melanda kehidupan hampir di seluruh Negara di dunia begitu juga di Indonesia yaitu tentang wabah Virus Corona (Covid 19). Wabah ini dengan cepat menyebar ke Indonesia, sehingga Pemerintah mengambil kebijakan sesuai saran WHO yaitu “Physical Distancing” kebijakan tersebut dimaknai lebih detail dengan anjuran Presiden Republik Indonesia yaitu “bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah. Hal tersebut langsung ditindaklanjuti oleh pemerintah tiap daerah dengan berbagai keputusan, salah satunya di Kota Tasikmalaya, berdampak pada kebijakan di dunia Pendidikan. Dari situasi tersebut, pihak Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya atas perintah dari Walikota Tasikmalaya, menghentikan sementara proses belajar mengajar secara tatap muka di kelas diganti dengan siswa belajar di rumah. Kebijakan tersebut disikapi dengan berbagai cara oleh para guru di Kota Tasikmalaya khususnya jenjang Sekolah Dasar.

Sebagian besar guru di kota Tasikmalaya banyak menggunakan media sosial untuk memantau atau berkomunikasi dengan peserta didiknya, ada yang menggunakan fasilitas Whats App, Class Room, dll. Hal tersebut sah-sah saja bahkan terkesan lebih modern atau milenial. Metode yang digunakan oleh guru tersebut, saya kira efektif jika digunakan di komunitas peserta didik yang memang sudah mengenal gadget sebelumnya, bahkan lebih bijaksana lagi sebelum kejadian ini, penggunaan gadget telah diajarkan bahkan masuk pada kurikulum Sekolah. Lantas permasalahannya dimana? Permasalahanya tidak semua peserta didik di Kota Tasikmalaya memiliki bahkan terbiasa dengan budaya gadget tersebut, alhasil di sebagian Sekolah pinggiran Kota Tasikmalaya hal ini menjadi polemik orang tua siswa, karena banyak anak yang menuntut orang tuanya untuk memberikan mereka Gadget dengan alasan untuk menerima dan mengirimkan tugas kepada gurunya.

Dua fenomena tersebut terjadi di Kota Tasikmalaya, lantas apa yang harus kita lakukan sebagai seorang guru agar menjadi guru yang bijak di tengah musibah virus Covid 19 ini. Beberapa hal yang saya sarankan terkait permasalahan tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Analisis keadaan peserta didik kita masing-masing atau lebih akrabnya kenali karakteristik peserta didik kita, mulai dari karakter pribadinya, latar belakang keluarganya bahkan status sosialnya di masyarakat.
  2. Analisis keadaan fasilitas sekolah kita, terutama yang ada hubungannya dengan teknologi informatika termasuk ketersediaan akses internet, lab komputer dll.
  3. Refleksikan diri kita selama kita membingbing dan mendidik anak didik kita, apakah kita sudah mengajarkan skill menggunakan gadget atau tidak, sudah masuk ke dalam kurikulum sekolah atau tidak.
  4. Mengambil keputusan yang tepat terkait hasil pertimbangan point 1, 2 dan 3 apakah kita akan menggunakan pembelajaran berbasis daring atau tidak.

Semua keputusan ada di tangan kita selaku guru, akan tetapi di sini saya mengingatkan agar lebih bijak dalam mengelola pembelajaran berbasis daring tersebut dengan memperhatikan faktor-faktor yang tadi sudah dibahas, alangkah lebih baiknya di tengah sistuasi sekarang ini, kita melakukan kerja sama dengan pihak keluarga untuk memantau anaknya masing-masing dalam mengaplikasikan pembelajaran yang selama ini dilaksanakan di sekolah. Kita jangan kaku dengan konten materi pelajaran yang ada di buku paket, akan tetapi kita lebih konsen agar peserta didik melaksanakan pendidikan karakter yang selama ini kita didik untuk dibiasakan di rumah, contoh sederhana kita melakukan kerjasama dengan orang tua untuk mengawasi anaknya melakukan kegiatan bermanfaat khususnya dalam merawat kesehatan tubuhnya masing-masing dengan mandi teratur, makan teratur, melaksanakan olah raga pagi, malaksanakan ibadah secaara teratur ditambah lagi dengan menyisipkan materi pencegahan penularan covid 19. Saya rasa hal itu akan lebih bermanfaat daripada dengan menjejali peserta didik oleh berbagai materi pembelajaran berbasis buku teks yang harus dilaporkan bahkan difotokan dan dikirim secara daring setiap hari. Marilah kita lebih bijak dalam menyikapi pembelajaran terhadap peserta didik di tengah wabah Covid 19 ini dan mari kita ingat kembali bahwa amanat dari kurikulum 2013 itu bukan terhadap koginitif siswa akan tetapi lebih menekankan dan mengutamakan perubahan positif sikap dan karakter siswa.