Kota.Tasikmalaya.gemamitra.com | Permainan apapun bentuknya, seperti sangat dekat dengan kericuhan karena kerap ada dugaan main curang. Atau karena salah persepsi, atau beda tafsir dalam menyimpulkan gerakan atau tindakkan lawan.
Tapi ada juga, bahwa yang dianggap tidak fair oleh lawan, malah kita mengistilah dengan trik atau strategi.
Kuatnya keinginnan mendorong seseorang, seringkali ia melakukan langkah “mahiwal” alias over lap. Algoyah tubarir alwasilah (tujuan menghalalkan cara) kerap dilakukan demi memenuhi syahwatnya, terutama berkait dengan kekuasaan (politik).
Hal yang lumrah, atau boleh jadi semacam dihalalkan dengan anomali framing, teori putar balik kemasan. Curang bisa saja digantikan istilah kecerdikan.
Tak heran kita kerap menyaksikan sebuah pertunjukan kotor, kala bersentuhan dengan sebuah kontastasi terutama dengan kontes pertarungan politik.
Tapi, kebanyakan di permainan ini, bagaimana meneliti kecurangan lawan, bagai mana serapatnya menyembunyikan kecurangan sendiri. Intinya, kita harus pandai memelototi orang dan kilat menyembunyikan nakal kita.
Seperti halnya pemilihan ketua KNPI kecamatan Kawalu yang dihelat Minggu, 30 Mei 2021, berlangsung di Aula Ponpes Manarul Huda, Kel Gunung Tandala, Kec. Kawalu, terjadi kericuhan. Penyebabnya, panitia dipandang tidak trasnparan dan dianggap tidak jujur, hingga mengundang reaksi yang agak panas.
Dugaan adanya dengdek topi disampaikan oleh Ketua PAC PP Kawalu, yang nota bene merupakan mobilisator kekuatan H. Ginanjar S. Pd. Salah satu kandidat dari Pemuda Pancasila.
“Undangan datang terlambat dan harus jemput bola. Soal tempat penyelenggaraan juga tidak netral. Kenapa tidak di kantor kecamatan? Memang tidak secara masif ada yang diuntungkan atau dirugikan. Tapi tercium bau tidak sedap dan kurang elok.”
Ujar Erik Robani.
“Ngadadu” untuk memilih ketua KNPI kecamatan Kawalu menggantikan Cepi Restiadi yang jabatannya telah rampung di ikuti 2 kandidat. H. Ginanjar dari Pemuda Pancasil satunya lagi Dikdik Ahmad dari pewakilan Nahdatul Ulama.
Dengan terjadinya ketegangan, sehingga hampir terjadi keributan fisik, panitia yang dipertua oleh Endang Rusyanto menskorsing ngadadu ini, dengan waktu dan tempat masih akan dibicarakan.
Muscam yang diagenda mulai pukul 9.00 terlambat karena persoalan kehadiran peserta yang terlambat.
Saat verifikasi berlangsung terjadi adu argumen antara pimpinan sidang dengan sebagian peserta yang melihat gelagat tidak benar.
Disamping banyak surat mandat yang ganda, adanya pembiaran dari pimpinan sidang terkait peninjau yang hadir di persidangan tapi tidak dijelaskan. Sedang peserta sidang tidak tahu apakah peninjau punya hak pilih atau tidak? Jika peninjau memilih itu akan ada yang dirugikan. Senyatanya peninjau tidak punya hak pilih.
“Kami menghimbau kepada panitia pelaksana, agar pelaksanaan musyawarah ini tidak main-main. Segala hal yang akan mengakibatkan kecurigaan dan kecemburuan mesti dihindari.” Pungkas Erik. (Yusr)


















