Gema Mitra – Kota Tasik
Fakta bahwa semua sampah yang diangkut oleh Truk Kuning di Kota Tasik berakhir di Ciangir. Akan tetapi di Ciangir pun sampah tidak serta merta “finish”. Buktinya sampah (terutama plastik) yang telah menahun semakin menggunung sedangkan ketersediaan lahan semakin terbatas.

Solusi harus dimulai dari kita sendiri, mulai saat ini juga. Bukan hanya membuang sampah pada tempatnya tapi juga belajar memilah, mengolah sampah secara mandiri dan mengurangi plastik sekali pakai.

Maka dari itu, lembahpustaka dan ngulisik.id mengadakan “Wisata Sampah” ke TPA Ciangir Kota Tasikmalaya dalam rangka “Road to World Clean Up Day 2019”, 21 September nanti.

Acara ini berjalan dari hari Kamis 5 September 2019 di Lembah Pustaka, Sudimara RW08 Kelurahan Karikil, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, diawali dengan workshop tentang mengubah sampah anorganik menjadi ekobrik, yang di pimpin oleh Anton dari Komunitas Rumah Sampah. Warga di ajarkan bagaimana sampah organik menjadi pupuk kompos. Dengan harapan adanya penyuluhan ini warga lebih menyayangi lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan dan berakhir di TPA Ciangir.

Selanjutnya, Jum’at 6 September 2019, warga di ajak WISATA SAMPAH dengan menggunakaan bis NGULISIK. Tujuannya adalah, agar warga di beritahu kalau warga buang sampah sembarangan, dan menitipkan sampah ke truk kuning itu bukan solusi akhir tentang sampah, itu berakhir di TPA Ciangir dan bisa menjadi pencemaran buat warga yang dekat dengan TPA Ciangir.

Menurut Neneng Mutmainah ketua Lembah Pustaka, bahwa program ini sangat penting buat warga kami, dan program ini akan kami terus kami kampanyeukan agar warga untuk tidak gegabah dalam hal sampah. “Dengan diadakannya penyuluhan tentang pengelolaan sampah plastik menjadi ekobrik, ini menjadi solusi sederhana untuk warga kami dalam hal mengelola sampah yang ada di lingkungan,” ungkapnya.

Sementara Morsa Sambas pengelola Lembah Pustaka mengatakan, bahwa malu sekali jika kita harus menghitung berapa kilo, kuintal, ton sampah yang sudah kita buang, dan entah kemana sampah itu? Apakah menjadi pencemaran buat lingkungan kita atau orang lain,? Dan berapa lama sampah itu bertahan.

“Untuk itu, kami akan terus mengkapanyeukan tentang Kota Tasik adalah Kota Resik, dengan di mulai dari kampung halaman kami. Literasi adalah titik awal untuk solusi ini”, ujarnya.
Morsa juga berjanji Lembah Pustaka akan mengadakan program-program mengelola sampah agar tidak menjadi pencemaran lingkungan. Dan semua masyarakat, ibu-ibu, Bapak-bapak, Remaja, pemuda bahkan anak-anak harus ikut berperan.

“Sudah saatnya semua elemen masyarakat berperan aktif dan mengkampanyekan tentang pengelolaan sampah supaya sesuai dengan apa yang diharapkan,” pungkasnya. (Kesit)***