Oleh : Fitri Najayanti
Bullying (perundungan) bukanlah fenomena baru yang terdengar di telinga kita. Bahkan hampir setiap saat beritanya selalu muncul baik di media cetak, televisi maupun media sosial. Meskipun tidak seheboh berita tentang virus corona yang tengah menggemparkan hampir seluruh belahan dunia, faktanya “virus” bullying tidak kalah mematikan. Tercatat banyak penderita atau korban perundungan mengalami tekanan mental yang sangat berat sehingga nekad memilih mengakhiri hidupnya.

Ironisnya, peristiwa perundungan justeru banyak terjadi di lingkungan pendidikan, tempat yang idealnya menjadi lingkungan paling aman untuk setiap anak dapat berkembang dan membentuk pribadi/akhlak mulia sehingga meraih masa depan yang lebih baik. Lantas mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya tentu akan beragam, tergantung siapa dan latar belakang orang yang berbicara.

Seorang akademisi bisa berpendapat bahwa alasannya karena lemahnya sistem pendidikan yang ada sehingga memberikan ruang terhadap potensi perilaku – perilaku yang menyimpang. Menurut seorang sosiolog, penyebabnya bisa saja karena kurangnya kesejahteraan yang diterima oleh para tenaga pendidik sehingga mereka kurang maksimal dalam menjalankan tugas pengawasan dan pembinaan di luar kegiatan belajar mengajar. Atau bisa juga disebabkan karena kurangnya perhatian dari orang tua yang lebih sibuk dengan pekerjaannya. Sementara seorang sosiolog atau kriminolog mengatakan bahwa pengaruh lingkungan, medsos dan pergeseran nilai – nilai budayalah yang mendorong seseorang, dalam hal ini siswa, untuk melakukan tindakan – tindakan yang bertentangan dengan norma.

Semua alasan tersebut tentu bisa diterima, tergantung dari sudut pandang mana kita mau melihatnya. Namun dalam hal ini saya akan memberikan pandangan dari perspektif seorang praktisi pendidikan dalam pengalamannya selama kurang lebih 5 tahun menjadi pengajar di berbagai jenjang dan satuan pendidikan baik formal maupun non-formal.

Menurut pengamatan saya, penyebab utama yang mendorong anak untuk berbuat perilaku – perilaku yang menyimpang salah satunya perundungan, adalah karena ketidakmampuan atau lemahnya kompetensi yang dimiliki anak baik akademik maupun non akademik. Bila kita perhatikan, rata – rata siswa yang berbuat perilaku – perilaku tidak terpuji, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah, bukan dari kalangan siswa yang berprestasi secara akademik maupun non akademik. Tetapi berasal dari kelompok siswa yang minim prestasi dan kompetensi. Misalnya, sangat jarang ditemukan ada siswa yang rajin, pintar, juara kelas yang sekaligus juga suka bolos atau anggota geng motor. Dengan kata lain, biasanya siswa yang suka melanggar aturan – aturan sekolah berasal dari kelompok yang secara kemampuan akademik ada di bawah rata – rata.

Hal ini tentu bukan karena kebetulan. Dengan kemampuan yang sangat rendah, siswa akan kesulitan untuk mengikuti materi di kelas sesuai dengan kurikulum. Sehingga dipastikan mengalami kesulitan memperoleh pengakuan dalam hal akademik baik di sekolah, dalam hal ini dari teman – teman dan gurunnya. Begitupun di rumah, dia akan kesulitan mendapat pengakuan dari orang tuanya. Sementara dalam ilmu psikologis kita ketahui bahwa kebutuhan dasar manusia bukan hanya sandang, pangan dan papan akan tetapi selain itu setiap orang juga membutuhkan pengakuan. Dan ketika seseorang tidak bisa memperolehnya dari hal – hal yang positif, dia akan berusaha mencarinya dalam hal – hal yang kontra produktif. Cara mengekspresikannya macam – macam. Ada yang tidur saat kegiatan belajar mengajar, ada yang bolos dan ada yang membuli teman – temannya. Bahkan yang lebih menghawatirkan ada yang berusaha mencari pengakuan di luar sekolah dengan cara masuk geng motor, mengkonsumsi obat – obat terlarang, miras dan melakukan tindakan – tindakan kriminal lainnya.

Dengan demikian perilaku bullying akan tetap ada selama penyebabnya utamanya tidak ditangani secara akurat. Penanganan yang harus dilakukan adalah memperbaiki atau memulihkan kemampuan akademis anak. Hal yang sangat sulit untuk dilakukan oleh kami selaku guru di sekolah. Namun bukan karena semata – mata kami tidak mampu melakukannya. Hanya saja berdasarkan tuntutan kurikulum yang berlaku, memang tidak memungkinkan bagi kami untuk menangani masalah – masalah seperti itu mengingat alokasi waktu yang disediakan sangat terbatas. Disamping tugas tambahan dan administrasi guru sudah sangat banyak. Selain itu, guru – guru hanya dibekali kompetensi untuk mengajar di kelas sesuai dengan amanat kuruikulum. Sementara secara kemampuan, kondisi sebagian besar anak saat ini tidak siap untuk mengikuti pembelajaran/materi di kelas. Dengan kata lain mereka dapat dikatakan “sakit” secara akademik. Maka dari itu, untuk penyembuhannya pihak sekolah perlu bermitra dengan lembaga yang concern dan ahli dalam menangani masalah serupa hingga mereka dinyatakan sembuh dan siap untuk mengikuti pembelajaran di kelas sesuai dengan kurikulum.

Dengan demikian, kebutuhan siswa terhadap pengakuan bisa diperolehnya dari hal akademik sehingga perilaku mencari pengakuan dari hal – hal yang negatif dapat diminimalisasi atau bahkan dicegah.