Oleh : Irvan Mulyadie
Budayawan Muda Tasikmalaya
Saya bukanlah seorang “PEMELUK TEGUH NU”. Persentuhan saya dengan NU hanyalah sebagai seorang Irvan Mulyadie yang dibesarkan di lingkungan NU kultural yang sama sekali tidak pernah mengenal hirarki NU secara struktural. Meski pernah ngaji beberapa kitab kuning ala warga NU, ikutan tahlilan, baca Qunut bila salat Subuh, ziarah ke kuburan, dll, tapi dalam hati kecil saya tetap menolak bila saya dikait-kaitkan dengan organisasi Nahdlatul Ulama. Karena itu tadi, saya tidak pernah secara resmi bergabung (apalagi punya kartu anggota).
Ada pun jika saya sering hadir di acara-acara resmi NU, itu derajatnya sama saja dengan saya menghadiri acara-acara yang lainnya seperti datang ke acara pemerintahan maupun kondangan pernikahan. Tak lebih dan tak kurang, saya hadir hanya sebagai tamu undangan. Takut nanti disangka Ge-Er kalau saya ngaku-ngaku. Jadi berikutnya di dalam tulisan ini, saya tak akan lagi menyinggung soal NU. Karena memang bukan itu yang ingin saya bicarakan. Tapi soal Gusdur.
Konon, saya pernah bertemu dengan Gusdur. Pertemuan tersebut terjadi pada suatu saat di masa lalu, di pesantren (yang dulu saya pernah ‘nyantri kalong’) kisaran jalan Paseh Kota Tasikmalaya sedang mengadakan malam imtihan. Dalam rundown acara agak unik, karena selain pentas seni ala Santri dan tablig akbar, ada juga pemutaran film di layar tancap yang di antaranya ada film india. Suatu hal yang agak kontradiktif.
Nah, pertemuan saya dengan Gusdur ini, karena beliaulah pengisi utama acara tablig akbar tadi. Setelah menyampaikan materi dakwah, ketika waktunya akan pulang, mendadak kesehatan tubuhnya menurun. Gusdur yang selalu didampingi salah seorang anggota keluarga terdekatnya bila bepergian, tiba-tiba mampir ke rumah saya untuk istirahat. Dan diterima oleh bapak saya.
Singkat cerita, Gusdur meminta izin untuk istirahat selama sakitnya dan dirawat di rumah saya. Tak ada yang berani nolak. Dan tak boleh ada orang lain yang tahu keberadaannya saat dirawat di rumah saya. Beliau hanya berpesan agar semua ikhwan yang mengenalnya supaya berdoa bagi kesembuhannya.
Keluarganya lantas menitipkan dia dengan penuh perasaan cemas. Terus terang saya merasa sangat heran, kenapa orang sebesar Gusdur mau-maunya tinggal di gubuk kami?
Hampir seminggu Gusdur hadir di rumah saya. Kesehariannya dihabiskan di kamar saja dengan berbaring dan beribadah. Hingga pada saat terakhir, saya dikunjungi seorang teman yang sebenarnya sangat ngefans sama Gusdur. Suka cerita yang aneh-aneh mengenai kesaktian Gusdur yang seperti para wali. Tapi dia tidak pernah sekalipun bertemu langsung dengan Gusdur.
Nah, ketika berkunjung itulah, dia bertemu dengan seorang sepuh di rumah saya yang akhirnya ‘buka kartu’ mengenai identitasnya. Tapi apa yang terjadi? Kawan saya yang cerdas itu malah tertawa terpingkal-pingkal. Dia sama sekali tidak percaya. Mengejek seenak hati. Malah di ujung, dia marah besar karena Gusdur telah berani ngaku-ngaku sebagai Gusdur. Gusdur yang dia kenal dalam pikiran imajinatifnya. Gusdur yang agung. Yang tentu saja sangat tidak mungkin tiba-tiba ada di rumah saya.
Mengetahui hal ini saya sangat sedih. Perih. Tapi untuk marah di depan Gusdur tidak punya kemampuan. Saya peringatkan kawan saya ini dengan sangat keras, sambil memeluk tubuh Gusdur yang agak demam. Sang kawan mulai bingung, nampak sekali wajahnya pucat. Tapi Gusdur tidak marah. Justru dia yang berusaha menenangkan saya.
Beberapa saat kami dalam keheningan. Gusdur tertunduk. Saya tepat di belakangnya. Sementara kawan saya itu diam-diam beringsut, menghilangkan diri. Mungkin karena sangat merasa malu. Masih dalam keadaan memeluk dalam kondisi duduk, saya merasakan getaran tubuh Gusdur yang menangis. Tapi tertahan suaranya di kerongkongan. Beberapa butir airmatanya jatuh di punggung telapak tangan saya. Terasa hangat.
Saya lepaskan pelukan itu, dan membiarkan Gusdur menikmati tangisannya. Beberapa saat setelah itu, dengan suara tegas dia bicara pada saya. Kira-kira begini :
“Kesalahan besar bangsa ini adalah karena terlambat melahirkan generasi”
Kemudian, Gusdur menyuruh saya untuk mengumumkan pada sedikitnya 26 grup (atau komunitas?) akan keberadaan dan kondisinya saat itu. Setelah itu beliau mengajak bapak saya untuk salat berjamaah. Gusdur yang jadi imam, dan bapak menjadi makmumnya.
Saya masih dalam kebingungan menerima amanat ini. Saya juga tidak benar-benar faham akan maksud perkataan terakhirnya tentang bangsa yang terlambat melahirkan generasi. Generasi apa? Yang mana? Terus kepada 26 kelompok yang mana pesan itu harus disampaikan?
Dalam galau yang hakiki, perlahan, kesadaran saya mulai hadir. Tepat ketika Bhatary Poetry Annavhalyz, anak bungsu, memeluk pinggang saya dengan kakinya yang basah karena pipis di kasur. Saya langsung terbangun. Dan menyadari betapa ini hanyalah mimpi. Tapi mimpi yang terasa sangat nyata sekali.
Lalu di dalam ponsel pintar, saya tulis catatan ini. Sebelum lupa dan tertimpa mimpi lainnya. Share…!
Tundagan, 13/02/2019 Jam. 00.39 WIB


















