Pekan Kreativitas sebagai Wahana Mengasah 4C Skills di SDN Leuwikidang

Oleh: Nita Krismania, S.Pd (Guru Kelas 6 SDN Leuwikidang Kecammatan Bungursari Kota Tasikmalaya) 

Keterampilan Abad 21 atau yang dikenal dengan 4C Skill (critical thinking, collaboration, comunication and creativity) merupakan kompetensi yang wajib dimiliki oleh setiap peserta didik saat ini supaya mampu bertahan dan menaklukkan segala tantangan yang akan menghadang mereka di masa depan. Pentingnya meningkatkan skill demi masa depan bagi peserta didik adalah menciptakan generasi yang siap berkontribusi pada segala aspek kehidupan.

Read More

Dalam rangka meningkatkan keterampilan abad 21 kepada peserta didik, Dinas Pendidikan setiap tahunnya mengadakan event pekan kreativitas sebagai ajang penggalian bakat dan kemampuan yang dimiliki peserta didik. Event ini diadakan melalui tahap seleksi di setiap satuan pendidikan, kemudian dilanjutkan ke tahap penyeleksian di tingkat kecamatan, lalu tingkat kota/kabupaten, provinsi hingga ke tingkat Nasional.

Kegiatan seleksi di tingkat Kecamatan Bungursari akan diadakan pada bulan Februari-Maret 2023. Pekan Kreativitas Siswa akan dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan pada tanggal 9 Februari 2023 bertempat di SDI Al Istiqomah Hj. Aminah. Rangkaian kegiatan diawali dengan pelaksanaan KOSN dan KSN pada bulan Februari 2023 disusul FTBI, FLS2N dan Sapta Lomba PAI pada bulan Maret 2023. Untuk menghadapi perhelatan tersebut, setiap sekolah tentunya sudah mempersiapkan talenta-talenta dari sekolahnya masing-masing. Begitu juga yang dilakukan di sekolah tempat saya mengajar. Kepala Sekolah telah menugaskan beberapa guru sebagai koordinator untuk melakukan koordinasi pembagian tugas pembimbingan. Namun tujuan dari kegiatan pembimbingan ini bukan semata-mata ajang pencarian bibit calon juara. Meraih prestasi adalah bonus. Banyak hal yang lebih penting yang perlu kita tanamkan pada peserta didik melalui kegiatan tersebut. Diantaranya yaitu mengasah keterampilan Abad 21 peserta didik.

Kita ambil contoh kegiatan pembimbingan yang dapat meningkatkan collaboratif skill peserta didik diantaranya pada cabor boli voli dan bulu tangkis dalam Kompetisi Olahraga Siswa Nasional (KOSN), Pantomim dan Seni Tari (FLS2N), LCC, Qasidah Rebana, Gerakan Shalat (Sapta Lomba PAI). Kegiatan tersebut dapat meningkatkan kemampuan kerjasama karena dilakukan secara berkelompok. Untuk dapat unggul tentunya ada beberapa strategi yang perlu diterapkan yaitu bagaimana caranya meredam ego masing-masing agar kerjasama tim dapat berjalan dengan baik.

Kemudian kegiatan pembimbingan yang dapat meningkatkan Critical Thinking skill diantaranya Olimpiade Matematika dan Sains (KSN), dan nulis Carpon (FTBI). Dalam hal ini peserta didik dibimbing agar dapat melakukan pemecahan masalah (problem solving), menentukan unsur-unsur intrinsik cerita melalui gambar, membuat alur, menentukan kofliks hingga penyelesaian konfliks dari cerita yang akan dibuatnya.

Kegiatan pembimbingan yang dapat meningkatkan Communication skill diantaranya Pupuh, Biantara, Maca Sajak, Nulis Aksara Sunda dan Borangan (FTBI), Menyanyi Solo (FLS2N), Tahfidz dan MTQ (Sapta Lomba). Peserta didik dibimbing untuk dapat berbicara di depan orang lain (public speaking) dengan baik. Hal ini mencakup teknik-teknik menarik perhatian audiens, menguasai dan mempengaruhi audiens dengan apa yang mereka sampaikan.

Selain itu kegiatan pembimbingan yang dapat meningkatkan creativity skill diantaranya Gambar Bercerita dan Kriya Anyam (FLS2N) dan kaligrafi dalam ( Sapta Lomba). Peserta didik dibimbing agar memiliki daya cipta melalui proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan yang memiliki daya tarik tersendiri. Dimulai dengan menghubungkan beberapa hal yang sudah ada hingga menciptakan suatu hal yang baru. Biasanya yang hasil karya yang otentiklah yang unggul dibandingkan dengan hasil adaptasi atau modifikasi karya orang lain.

Ada satu hal yang tidak kalah penting untuk dijadikan tujuan kegiatan pembimbingan dalam menghadapi pekan kreativitas adalah melatih jiwa sportif siswa. Terdengar sederhana karena kata “sportif” sering kita dengan dalam kehidupan sehari-hari. Namun penerapannya masih jauh dari yang diharapkan. Dengan berbekal keterampilan Abad 21 yang dimiliki diharapkan peserta didik juga memiliki jiwa sportivitas. Sportif berarti dapat bersikap jujur, adil, menghargai atau mengakui keunggulan orang lain dan belajar menerima kekurangan diri. Karena tanpa adanya jiwa sportivitas maka bisa jadi peserta didik akan tumbuh menjadi orang merasa paling benar, tidak menghargai orang lain, merasa dirinya lebih baik dari orang lain, tidak mau menerima masukan/pendapat dari orang lain, dan tidak mau menerima kekurangan dan mengakui kesalahan dirinya sendiri. Peserta didik harus dapat menanamkan prinsip dalam dirinya bahwa dalam hidup kita boleh maju tanpa menyingkirkan, naik tinggi tanpa menjatuhkan, menjadi baik tanpa menjelekkan dan menjadi benar tanpa menyalahkan orang lain.***

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *