Oleh: Hj Siti Khoerunisa, S.Pd, M.Pd (Ketua PGRI Cabang Purbaratu Kota Tasikmalaya)
Dua puluh lima tahun bukanlah perjalanan yang singkat bagi sebuah kota. Sejak berdiri sebagai daerah otonomi pada 17 Oktober tahun 2001, melalui pengesahan undang-undang Nomor 10 tahun 20021, Kota Tasikmalaya telah melewati berbagai perubahan, tantangan, dan harapan. Pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, perkembangan teknologi, serta dinamika kehidupan masyarakat menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju kota yang semakin maju, ramah ,rukun,repeh rapih rancage,sehat jasmani Rohani,sosial spiritual serta iman dan taqwa sebagai kota santri
Namun, di tengah semarak peringatan Hari Ulang Tahun ke-25 Kota Tasikmalaya, ada satu pertanyaan mendasar yang patut kita renungkan bersama: sejauh mana kemajuan kota telah tercermin dalam kualitas pendidikan dan karakter generasi mudanya? Pertanyaan ini penting karena kemajuan sebuah kota tidak cukup diukur dari megahnya bangunan, panjangnya jalan, atau ramainya pusat perdagangan. Kemajuan sejati juga harus terlihat dari cara masyarakat berpikir, bersikap, menghargai perbedaan, menjaga lingkungan, serta mempersiapkan generasi penerusnya menghadapi masa depan. Pendidikan, dalam konteks ini, bukan sekadar urusan sekolah. Pendidikan adalah fondasi peradaban.
Pendidikan sebagai Ukuran Kemajuan Kota
Pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk manusia yang berpengetahuan, berkarakter, mandiri, dan mampu beradaptasi terhadap perubahan zaman. Kota yang memberikan perhatian serius terhadap pendidikan sesungguhnya sedang membangun masa depannya sendiri. Sekolah dasar, contohnya, merupakan gerbang awal bagi murid untuk mengenal ilmu pengetahuan, membangun karakter baik, mengembangkan rasa ingin tahu, dan belajar hidup bersama orang lain. Di ruang kelas yang sederhana, seorang guru tidak hanya mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga menanamkan kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kepedulian, Tut wuri handayani, Ingarso sungtulodo ,Ingmadyo Mangunkarso Nilai-nilai inilah yang kelak menentukan wajah Kota Tasikmalaya pada masa mendatang,yang akan menyinari dan memancarkan Cahaya indah di Kota Resik.
Di balik perubahan pendidikan, guru sebagai api penjaga peradaban tetap memegang peran yang sangat penting. Teknologi boleh berkembang, metode pembelajaran boleh berubah, dan sumber informasi boleh semakin mudah diakses. Namun, keteladanan, empati, dan sentuhan kemanusiaan seorang guru tetap memiliki tempat yang tidak tergantikan.Guru masa kini dituntut untuk terus belajar, beradaptasi dengan perkembangan teknologi, memperkuat kompetensi pedagogis, serta menghadirkan pembelajaran yang bermakna. Guru tidak lagi cukup hanya menyampaikan materi, tetapi perlu membantu peserta didik berpikir kritis, bekerja sama, berkomunikasi, dan menyelesaikan masalah.Tentu, tuntutan tersebut perlu diimbangi dengan dukungan yang memadai. Peningkatan kompetensi harus disertai kesempatan pengembangan profesional, kepemimpinan sekolah yang mendukung, sarana pembelajaran yang layak, serta tata kelola yang memberi ruang bagi guru untuk berfokus pada proses belajar
Ketika berbicara tentang pembangunan kota, pendidikan semestinya ditempatkan sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar urusan administratif atau program rutin tahunan, kekurangan guru bukan hanya catatan dan perbandingan statistik dari tahun ketahun tetapi harus ditindak lanjuti dengan kebijakan yang kongkrit,terukur dan berkelanjutan. Keberhasilan pembangunan pendidikan perlu dilihat dari perubahan nyata yang dirasakan murid apakah mereka semakin mampu memahami pelajaran, memiliki karakter yang baik, memperoleh kesempatan belajar yang setara, dan tumbuh menjadi pribadi yang siap menghadapi tantangan kehidupan.
Membaca Capaian, Berani Mengakui Tantangan Perjalanan pembangunan pendidikan tentu menghadirkan berbagai capaian yang patut diapresiasi. Berbagai upaya pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat telah menjadi bagian penting dalam memperluas kesempatan belajar serta meningkatkan kualitas pembelajaran.namun, perayaan seperempat abad juga harus menjadi momentum untuk membaca capaian secara jujur dan melihat tantangan secara terbuka. Apresiasi terhadap keberhasilan tidak seharusnya membuat kita berhenti melakukan evaluasi. Sebaliknya, pengakuan terhadap kekurangan tidak berarti meniadakan kerja keras yang telah dilakukan.Dokumen RPJMD Kota Tasikmalaya mencatat bahwa capaian numerasi jenjang sekolah dasar meningkat dari 74,64 pada 2024 menjadi 79,96 pada 2025. Pada periode yang sama, capaian literasi SD berubah dari 83,40 menjadi 81,56. Angka-angka tersebut menunjukkan adanya perkembangan yang berbeda pada masing-masing aspek pembelajaran dan menjadi alasan untuk terus memperkuat evaluasi berbasis data. Literasi tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan melafalkan tulisan, tetapi juga kemampuan memahami, menafsirkan, dan menggunakan informasi. Numerasi pun bukan sekadar keterampilan menghitung, melainkan kemampuan bernalar dan mengambil keputusan berdasarkan informasi kuantitatif. Di samping itu, persoalan pemerataan kualitas pembelajaran, pendampingan bagi peserta didik yang mengalami kesulitan belajar, kompetensi guru, pemanfaatan teknologi digital, serta keterlibatan orang tua perlu terus menjadi perhatian bersama. Kita tidak perlu menutup mata terhadap tantangan tersebut. Justru keberanian untuk mengenali persoalan secara objektif merupakan langkah awal menuju perbaikan yang lebih terarah.pepetah yang sering dikaitkan dengan Abu Tholib “didiklah anak -anakmu sesuai Zamannya”pendidikan di Kota Tasikmalaya tidak cukup hanya mempertahankan capaian hari ini tetapi harus berani menjawab tantangan masa depan.
Tasikmalaya yang Maju, Berkarakter, dan Berperadaban Seperempat abad Kota Tasikmalaya adalah momentum untuk menghargai perjalanan yang telah dilalui sekaligus memperbarui komitmen terhadap masa depan. Kita patut bersyukur atas berbagai capaian pembangunan. Namun, rasa syukur akan lebih bermakna apabila disertai motivasi, kemauan untuk terus berbenah.Kemajuan kota hendaknya tidak hanya terlihat pada perubahan fisik, tetapi juga pada meningkatnya kualitas manusia. Kita berharap lahir generasi yang religius, berprestasi, kompeten di era digital, peduli lingkungan, serta mampu menghargai keberagaman. Generasi yang cerdas dalam berpikir, santun dalam bertutur, jujur dalam bertindak, dan bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.Untuk mewujudkannya, pendidikan harus menjadi agenda bersama yang dijalankan secara konsisten, terukur, dan berkelanjutan. Keberhasilan tidak cukup dinilai dari banyaknya kegiatan yang diselenggarakan, tetapi dari dampaknya terhadap perkembangan peserta didik.
Pada usia ke-25, Kota Tasikmalaya memiliki kesempatan untuk menjadikan pendidikan sebagai salah satu cermin utama keberhasilan pembangunan. Perayaan hari jadi bukan hanya tentang mengenang sejarah, tetapi juga tentang menentukan Kompas perjalanan berikutnya.Dua puluh lima tahun ke depan akan menjadi milik generasi yang saat ini sedang duduk di bangku sekolah. Apa yang mereka pelajari hari ini, nilai apa yang mereka hayati, dan kesempatan apa yang mereka peroleh akan turut menentukan wajah kota pada masa mendatang,apa yang sekarang tanam tentunya nanti kita tuai.Sebagai pendidik, kita memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa setiap anak mendapatkan kesempatan belajar yang bermutu. Sebagai masyarakat, kita memiliki kewajiban untuk menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang mereka. Dan sebagai bagian dari Kota Tasikmalaya, kita perlu terus mendorong pembangunan yang menempatkan sumber daya manusia sebagai tujuan pembnagunan kota Tasikmalaya.Sebab, pada akhirnya, keberhasilan sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh seberapa jauh wilayahnya berkembang, tetapi juga oleh seberapa baik kota itu mendidik kualitas generasi yang akan menentukan wajah kota Tasikmalaya di masa depan.
Selamat Hari Jadi ke-25 Kota Tasikmalaya
Semoga seperempat abad perjalanan ini menjadi pilar dan pijakan untuk membangun kota yang semakin maju, masyarakat yang semakin berdaya, dan pendidikan yang semakin bermutu. Karena ketika pendidikan tumbuh, peradaban pun menemukan jalannya untuk terus berkembang. “Educating the mind without educating the heart is no education at all.” (Aristoteles).**


















