Sinergi Digitalisasi dan Pendidikan Inklusif: Melihat Semangat Belajar Guru di KKG Teuku Umar Kota Tasikmalaya

Penulis: Novi Indira Gandi, S.Pd. Pengawas SD Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya

Menjadi guru di era pendidikan yang terus berkembang menuntut kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi. Tantangannya bukan hanya bagaimana menguasai materi pembelajaran, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi, memahami kebijakan pendidikan, serta merespons keberagaman karakter dan kebutuhan peserta didik di ruang kelas.

Bacaan Lainnya

Semangat untuk terus belajar dan meningkatkan kompetensi tersebut menjadi bagian dari kegiatan rutin Kelompok Kerja Guru (KKG) Teuku Umar Kota Tasikmalaya.

Pada Selasa 22 September 2026, SD Negeri 2 Picungremuk menjadi tuan rumah pertemuan KKG Teuku Umar. Kegiatan diikuti sekitar 70 hingga 95 peserta, terdiri atas guru dan kepala sekolah dari enam satuan pendidikan, yakni SDN 1 Picungremuk, SDN 2 Picungremuk, SDN 3 Picungremuk, SD Sukasari, SD Bojongsari, dan SD IT Sukapala.

Pertemuan kali ini menjadi ruang belajar bersama dengan mengangkat dua hal penting yang sangat relevan dengan kebutuhan guru saat ini, yaitu pemanfaatan platform digital pendidikan dan penguatan kompetensi dalam pendidikan inklusif.

Platform Digital, Ruang Belajar Guru

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan kompetensi guru, pemanfaatan berbagai platform digital yang disediakan pemerintah perlu terus didorong.

Platform digital bukan sekadar tempat untuk memperoleh informasi, tetapi dapat menjadi ruang belajar yang memungkinkan guru memperbarui pengetahuan, mengikuti pelatihan, memahami kebijakan terbaru, sekaligus menemukan berbagai sumber yang dapat mendukung proses pembelajaran.

Karena itu, keberadaan platform seperti laman Kurikulum dan Ruang GTK perlu dimanfaatkan secara aktif oleh para guru.

“Platform digital yang disediakan pemerintah jangan hanya diketahui keberadaannya, tetapi harus benar-benar dimanfaatkan secara aktif,” ungkap Novi Indira Gandi, S.Pd., Pengawas SD Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya.

Melalui platform tersebut, guru dapat mengembangkan kompetensi secara mandiri sesuai kebutuhan. Berbagai pelatihan yang tersedia juga dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran berkelanjutan bagi pendidik.

Hal yang tidak kalah penting, pengetahuan yang diperoleh melalui platform digital tersebut diharapkan tidak berhenti pada guru secara pribadi, tetapi dapat diterapkan dalam pembelajaran dan dibagikan sebagai praktik baik di sekolah.

Dengan demikian, teknologi tidak hanya menjadi alat bantu, tetapi juga menjadi bagian dari budaya belajar guru.

Pendidikan Inklusif Membutuhkan Kesiapan Guru

Selain pemanfaatan teknologi, pendidikan inklusif menjadi bagian penting dalam pengembangan kompetensi guru.

Sekolah saat ini memiliki peserta didik dengan karakteristik, potensi, dan kebutuhan belajar yang beragam. Kondisi tersebut membutuhkan kesiapan pendidik dan tenaga kependidikan agar mampu memberikan layanan pembelajaran yang sesuai.

Karena itu, kompetensi di bidang pendidikan inklusif perlu terus diperkuat.

“Sebagai pendidik dan tenaga kependidikan, kita perlu terus meningkatkan pemahaman dan kompetensi di bidang pendidikan inklusif. Meskipun kita bukan guru pendidikan khusus, setidaknya kita perlu memiliki pemahaman dasar tentang karakteristik dan kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus, sehingga dapat memberikan pendampingan dan layanan pembelajaran yang tepat,” ungkap Lilis Herlina, S.Pd., Ketua KKG Teuku Umar.

Pemahaman tersebut penting agar pendidikan inklusif tidak hanya dipahami sebagai upaya memberikan akses pendidikan, tetapi juga bagaimana sekolah dan guru mampu memberikan layanan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing peserta didik.

Dari Identifikasi hingga Akomodasi Pembelajaran

Untuk memperkuat pemahaman tersebut, kegiatan KKG menghadirkan Asep Zuhairi Saputra, S.Pd., praktisi pendidikan inklusif sekaligus rekan sejawat.

Dalam materi yang disampaikan, pendidikan inklusif perlu dilaksanakan melalui proses yang sistematis. Guru perlu memahami peserta didik melalui proses identifikasi dan asesmen, kemudian menyusun perencanaan pembelajaran serta memberikan akomodasi belajar sesuai kebutuhan.

Setiap peserta didik memiliki karakteristik yang berbeda. Karena itu, pendekatan pembelajaran tidak dapat selalu diseragamkan.

Guru perlu memiliki kemampuan untuk menyesuaikan strategi, metode, media, maupun lingkungan pembelajaran sehingga setiap peserta didik memperoleh kesempatan untuk berkembang secara optimal.

Pendidikan inklusif pada akhirnya bukan sekadar tentang keberadaan peserta didik berkebutuhan khusus di kelas reguler. Yang lebih penting adalah bagaimana seluruh warga sekolah memiliki pemahaman dan kompetensi untuk menciptakan lingkungan belajar yang ramah, aman, dan mampu mengakomodasi kebutuhan peserta didik.

KKG sebagai Ruang Belajar Bersama

Pertemuan rutin KKG Teuku Umar menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana guru dapat terus menjaga budaya belajar dan berbagi praktik baik.

Dengan sistem pertemuan secara bergilir dari satu sekolah ke sekolah lainnya, kegiatan KKG tidak hanya menjadi agenda rutin, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun komunikasi, kolaborasi, dan penguatan kompetensi antarpendidik.

Bagi Lilis Herlina, S.Pd., pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan KKG harus dapat memberikan dampak nyata di sekolah.

“Ilmu yang didapat hari ini harus diaplikasikan di sekolah masing-masing. Guru tidak boleh merasa cepat puas dengan ilmu yang sudah ada. Kita harus terus menambah wawasan agar profesionalisme saat mengajar tetap terjaga,” pungkasnya.

Pada akhirnya, guru dituntut untuk terus bergerak mengikuti perkembangan zaman. Digitalisasi memberikan ruang belajar yang semakin luas, sementara pendidikan inklusif mengingatkan bahwa setiap peserta didik memiliki kebutuhan dan karakteristik yang perlu dipahami.

Melalui KKG, kedua hal tersebut dapat dipelajari, didiskusikan, dan diterapkan secara bersama-sama.

Sebab, pendidikan yang berkualitas tidak hanya membutuhkan guru yang mampu mengajar, tetapi juga guru yang mau terus belajar, terbuka terhadap perubahan, dan mampu memberikan layanan pembelajaran bagi setiap peserta didik.**

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *