Gema Mitra – Kota Tasik

Sanggar Sastra Tasik (SST) mengadakan lomba baca puisi se-jawa barat tingkat umum yang diadakan Sabtu-Minggu, 19-20 April 2019 yang berlokasi di universitas perjuangan kota tasikmalaya, lomba tersebut hanya boleh diikuti usia 17 tahun ke atas saja yang sudah terlaksana sejak tahun 1996 dan hingga kini walau ada jeda waktu sekitar 2 tahun karena satu dan lain hal.

Penyair-Perupa asal Tasikmalaya yang datang saat pelaksanaan adalah Sarabunis Mubarok, Affandi Choer, Acep Zamzam Noor, Jun Nizami, Amang S. Hidayat, Romli Burhani, Yusuf Kodir Munsyi, Nina Minarelli, Irvan Mulyadie, Hisyam Nasrulloh, Luki Lukita, Ucu Sunarya, Yadie Mafie, Ade Darlin, dan masih banyak lagi. Kegiatan tersebut bekerjasama dengan UNPER/ Universitas Perjuangan atas rekomendasi Agus Aw yang disetujui oleh Rektor, Wakil Rektor, Kurikulum dan Kemahasiswaan yang dibicarakan saat rapat besar dan perlu diingat kegiatan tersebut perdana dan pertamakali diadakan di Unper yang baru sekitar 4 tahun berdiri di gelantika pendidikan khususnya di Kota Tasikmalaya.

Kegiatan tersebut diikuti oleh kurang lebih 50-70 peserta yang berasal dari Bandung, Soreang, Cianjur, Kuningan, Cirebon, Majalengka, Ciamis, Rancaekek, juga tak ketinggalan tuan rumah Kabupaten/ Kota Tasikmalaya sendiri. Adapun juri sebagai tim penilai diundang panitia untuk menilai peserta ialah Wage Teguh Wijono (Purwokerto, Jawa Tengah), Eriyandi Budiman (Soreang, Jawa Barat), dan Soni Farid Maulana (Tasikmalaya, Jawa Barat) yang tentu berbeda dari tahun-tahun sebelumnya mengambil juri dari luar Jawa Barat dimaksudkan untuk menjaga objektifitas terhadap penilaian selama lomba berlangsung.

Dalam hal itu Saeful Badar sebagai koordinator lomba mengatakan bahwa “tahun ini kami ingin memasang formasi baru, juri-juri yang ada di Jawa Barat, dengan catatan bahwa juri-juri itu menurut pengamatan kami memiliki nilai objektif”, ungkapnya kepada Gema Mitra saat diwawancarai di depan teras Gedung Serbaguna/ Ormawa yang menjadi arena lomba sekaligus diadakannya pertemuan teknikal meeting mengenai teknis-teknis lomba, Minggu 23/4/2019.

Sementara Acep Zamzam Noor selaku Ketua SST mengatakan bahwa lomba baca puisi tingkat jawa barat sebenarnya sudah berlangsung sejak 28 tahun yang lalu. Hampir tiap tahun kami menyelenggarakan. Semenjak tahun 1996 dan alhamdullilah tahun ini kita bisa bekerjasama dan lebih meriah lagi karena digabungkan dengan kegiatan FLS2N yang merupakan kegiatan tahunan.

Lebih lanjut dikatakan, dalam lomba ini dewan juri menetapkan aturan-aturan yang siapa pemenangnya itu sudah ditentukan oleh rapat dan lewat pengamatan yang sangat ketat ketika lomba berlangsung. “Jadi sebelum juri mengumumkan pemenang saya harapkan tidak ada yang mengumumkan pemenang dari para peserta, karena pemenang ditentukan oleh pengumuman, oleh juri pada akhir, jadi ketika proses itu jangan dulu memproklamirkan diri sebagai pemenang. Menjadi bagian dari mental kita, bagian dari karakter kita dan itu menunjukkan karakter yang kurang bagus ya”, tuturnya.

Menurutnya, kegiatan lomba baca puisi se-jawa barat ini lebih menitikberatkan menjadi ajang silaturahmi. pendidikan mental dan pendidikan karakter yang harus siap menang dan siap kalah dan selalu di asah dalam proses. “Yang paling penting dari kegiatan ini adalah pendidikan karakter tadi, yang memang jadi misi utama dari pendidikan kita, bagaimana kita menerima kekalahan dengan legawo, bagaimana kita menerima kekalahan dengan lapang dada, begitu juga kita menerima kemenangan dengan wajar, menerima kemenangan dengan kegembiraan-kegembiraan bersama demi berlangsungnya acara ini”, pungkasnya. (M. Rizky Arbianto)