Rab. Jan 20th, 2021

    Gemamitra.com
    Hidup merantau tentu banyak suka dan dukanya. Seperti yang dialami oleh Cahya Nurdin, seorang penjual Telor Batu K. Ratu yang setiap harinya berjualan di area Gunung Tangkuban Perahu.

    “Alhamdulillah, namanya kita berjualan ada ramai dan sepinya,” tuturnya kepada Gema Mitra di kebun teh dekat Tangkuban Perahu.

    Ayah dari satu orang anak lelaki berusia 10 tahun ini pernah juga mencoba berjualan kerajinan Telor Batu di Tempat Wisata Gunung Galunggung, namun karena sepi pembeli akhirnya pindah lagi ke Gunung Tangkuban Perahu.

    “Kadang sehari bisa dapat 300-400 ribu, tapi kadang juga pulang dengan tidak membawa uang sepeserpun,” terangnya.
    Untuk diketahui, yang disebut kerajinan Telor Batu ini yaitu berupa aksesori gelang ukuran kecil dan besar, juga tasbeh kecil sampai besar dengan harga kisaran 25-50 ribu.

    Cahya Nurdin yang sudah 38 tahun berjualan Telor Batu ini mengeluhkan sepinya pembeli di kawasan wisata Gunung Tangkuban Perahu setelah peristiwa erupsi beberapa waktu lalu. dan sejak peristiwa 26 Juli, kawasan wisata Gunung Tangkuban Perahu belum dibuka untuk umum.

    Diceritakannya pula kejadian ketika erupsi itu terjadi bahwa dirinya hampir menjadi korban, karena pada saat letusan itu terjadi, dirinya sedang berada di depan pagar kawah.

    “Jelas sekali bedanya setelah peristiwa erupsinya kemarin (26/07/2019) berjualan pun otomatis tidak seperti biasanya, cenderung sangat sepi,” ungkapnya.

    Orang asli Wanaraja-Garut ini tidak putus asa dalam berjualan untuk menafkahi anak dan istrinya. Walaupun sepi tetap dia jalani, karena yakin bahwa rejeki sudah ada diatur.

    “Semoga Gunung Tangkuban Perahu bisa kondusif lagi, sehingga kami para penjual bisa kembali berjualan di area kawah gunung,” pungkasnya. (elhida)

    By gemamitra

    Portal media online gemamitra.com merupakan kepanjangan dari Majalah Gema Mitra yang ada di bawah naungan PT Gema Mitra Abatasa. Sarana informasi yang mengupas pemberitaan secara lugas, tegas dan berimbang serta menjunjung tinggi hati nurani.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *