Gema Mitra – Kota Tasik
Akhir-akhir ini Hatedu/ Hari Teater Dunia banyak sekali diselenggarakan di seluruh Indonesia diantaranya di Lanjong-Kalimantan Timur, Surakarta-Jawa Tengah, Situbondo-JawaTimur dan tempat-tempat lainnya yang tak pernah henti menyemarakkan hari yang diperingati setiap tanggal 27 Maret itu.

Kota Tasikmalaya juga menyelenggarakan acara serupa bertempat di Kampus Universitas Perjuangan Tasikmalaya dengan mengundang sejumlah komunitas, sanggar, padepokan, juga seniman baik Kota maupun Kabupaten Tasikmalaya yang dimulai pada pukul 19.30 – 23.59 (26/03/19) lalu, “tadinya kita sudah mengkonsep acara tersebut full di outdoor dikarenakan turun hujan sejak sore, jadi acara dialihkan ke lapangan parkir yang beratap” penjelasan orock kappas salahsatu pembina rumpun sekaligus koordinator acara.

Dengan sigap panitia penyelenggara memindahkan panggung ke tempat yang aman/ ruang parkir beratap sebelum acara dimulai karena hujan tak henti-hentinya hingga reda sekitar pukul 22.30 WIB. Acara inipun diisi dari berbagai unsur kesenian dari mulai monolog yang dibawakan oleh Wit Jabo Dongkrak, Iksan Jimat 28 Unsil, dan Nova. Pun disusul perform baca puisi Wildan “Kappas” Agustin, Dance Theatre Galuh Pakuan Production, Music Theatre Sekar Pitaloka, Pementasan drama dari Teater Gema Universitas Perjuangan yang membawakan naskah karya Yoyo C. Durachman berjudul Dunia Seolah-olah.

Alt

Yang tak kalah menariknya di acara tersebut ialah di sela-sela acara tersebut acara ini Nunu Nazarudin Azhar diundang untuk mengisi sesi Solilokui Teater Tasikmalaya yang mana ia menitikberatkan dan menceritakan perkembangan teater di Tasikmalaya dari dulu hingga sekarang dengan penyampaian yang runtun dan detail.

Adapun tanggapan dari Agus AW selaku pembina UKM Seni Budaya sekaligus dosen di Universitas tersebut beliaupun menanggapi bahwa “ ketika ini sebuah pemula saya merasa bangga selaku pembina UKM seni budaya meskipun pembina rumpunnya itu adalah orock kappas. Kesan saya ternyata talenta-talenta mahasiswa yang dibawa dari awal selama 3 Tahun mereka tekuni ternyata dilihat dari pertunjukannya itu sangat fenomenal menurut saya”.

Perlu diingat bahwa Universitas Perjuangan Tasikmalaya adalah lembaga pendidikan non seni bisa menyelenggarakan Hatedu/ Hari Teater Dunia dan membuktikan bahwa Hatedu tidak hanya diselenggarakan oleh kalangan seniman saja tapi non seni bisa menyemarakkan acara tersebut di manapun berada. “karena mereka ini pemula meskipun bukan dari sekolah tertentu yang sifatnya teater, tapi mereka mampu memainkan naskah. Apalagi ini dipentaskan di Hari Teater Dunia”. Ujarnya kepada Gema Mitra malam itu.

Dan iapun berharap bahwasannya dunia teater bukan dunia vulgar, dunia teater itu bukan dunia yang dianggap orang lain itu menyesatkan. Tetapi dunia teater adalah dunia sosial, bagaimana dengan teater kita bisa berbudaya ramah, berbudaya santun. “Jadi saya minta kepada para pemuda siapapun baik yang sekolah maupun tidak sekolah ayo kita bermain teater sebagai implementasi ke diri, sehingga teater itu tidak dianggap negatif, apasalahnya termasuk dosen juga masyarakat ayo kita apresiasi’

Diakhir acara ada penyematan sekaligus peresmian UKM Teater Gema yang disaksikan seluruh tamu undangan yang hadir beliaupun menyimpan harapan untuk Teater Gema “Mudah-mudahan anak-anak kami bisa mampu, berani mementaskan dengan naskah-naskah yang baru, naskah-naskah yang ringan sampai naskah-naskah yang agak berat, kemudian saya harap mereka terpancing bisa ikut festival-festival teater baik di Jawa Barat maupun Nasional”. Pungkas Agus Aw. (Emrans)