Gema Mitra – Kab. Tasikmalaya

Kendangers Singaparna unjuk gigi dalam acara HUT kendangers Bandung yang ke 2 tahun, bertempat di Taman Budaya Jawa Barat, Sabtu malam 23/11/2019.

“Ya, kemarin kami perform bersama dengan ratusana kendangers se Jabar dalam tema Padungdung to Unesco. Mereka tampak antusias dan bergairah. Kendangers tidak hanya di Jawa Barat, sekarang sudah terbentuk chapter  kendangers dunia seperti dari china, brunei, amerika, australi,” ungkap ketua Kendangers Singaparna Ahmad Greg.

Greg menuturkan, sekitar  300 kendangers dari 18 daerah di Jabar berkesempatan memainkan keahliannya bermain kendang secara Medley yang diakhiri dengan permainan kendangers Bandung. Mereka memainkan satu lagu dalam tiga pola. Lagu Walet asal Cirebonan dimainkan dengan tiga pola (wanda), yakni wanda Cirebonan, Penca silat dan jaipongan.

Alt

Pada kesempatan itu juga hadir Gilang Ramadhan dengan rythem sawah-nya, Berkolaborasi dengan Idea Percussion, menampilkan kebolehannya menggebug drum bernada tradisional. Bahkan untuk bisa menghadirkan drum bernuansa etnik, Gilang Ramadhan membuat dan mensetting peralatan Pribadinya dengan suara mirip kendang dan gamelan.

Tak hanya itu, suasana semakin panas dan kocak, dengan hadirnya Sule (Komedian), Ohang atau Pohang, Anton Abok dan Uci. Mereka menampilkan kebolehannya memainkan kendang dengan gaya masing-masing. Hal itu sontak membuat penonton bergemuruh. Celotehan dan gestur tubuh para Komedian ini cukup menghibur di tengah cuaca dingin Kota Bandung malam itu.

Alt

Kendangers Singaparna pimpinan Ahmad Greg saat proses latihan menjelang pentas.

“Alhamdulillah Kendangers Singaparna bisa ikut andil dalam acara yang luar biasa ini. Meski kami mengandalkan swadaya anggota untuk dana operasional dan sebagainya, tapi kami enjoy menjalaninya sebagai rasa kecintaan kami masyarakat Jawa Barat terhadap alat musik  kendang,” ujar Greg.

Ia juga sependapat dengan Riki Buroq ketua kendangers dan Ipo Cepe sekaligus ketua panitia 2nd Aniversary kendangers Bandung-Jabar yang mengharapkan peran serta pemerintah  untuk memperhatikan keberadaan kendang Sunda, karena ada jutaan orang yang bergantung hidupnya pada kendang. (Kesit)***