Gemamitra.com
Pendidikan Nasional dalam rangka menghadapi tantangan abad 21 bertujuan untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia yaitu menjadikan masyarakat Indonesia yang sejahtera dan bahagia, dengan kedudukan yang terhormat dan setara dengan bangsa lain dalam persaingan dunia global.

Salah satu caranya melalui pembentukan masyarakat yang berkualitas dan memiliki keperibadian mandiri, berkemauan dan berkemampuan untuk mewujudkan cita-cita bangsanya.

Tujuan Pendidikan Nasional yang telah tercantum dalam Undang-undang tersebut tentu saja dapat terwujud apabila dilakukannya upaya-upaya perbaikan di berbagai sektor pendidikan yang didalamnya termasuk perbaikan kualitas layanan terhadap peserta didik.

Kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini telah mengubah gaya hidup manusia dalam berbagai aspek kehidupan termasuk dalam bidang pendidikan. Untuk itu pendidikan saat ini harus berupaya menyiapkan peserta didik dalam menghadapi tantangan abad 21 dengan memberikan mereka bekal keterampilan yang meliputi keterampilan berpikir kritis dan memecahkan masalah (critical thinking and problem solving); (2) kreativitas dan inovasi (creativity and innovation); (3) komunikasi (communication); dan (4) bekerjasama (collaboration).

Guru sebagai ujung tombak keberhasilan pendidikan dituntut untuk melakukan perbaikan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Guru perlu mengaplikasikan berbagai multimetode, multistrategi, dan multimedia dalam pembelajaran. Salah satu strategi pembelajaran yang sedang marak diperbincangkan dalam dunia pendidikan saat ini adalah dengan mengimplementasikan pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).

STEM merupakan pendekatan pembelajaran yang di dalamnya mengajarkan ilmu sains, teknologi, teknik, dan matematika dalam satu kegiatan pembelajaran. Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan STEM merupakan suatu pembelajaran yang bersifat kontekstual, dimana peserta didik diarahkan untuk memahami gejala-gejala atau fenomena-fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan dekat dengan diri peserta didik. Menurut Morrison dalam Stothlmann, Moore, & Roehrig, (2012:29) beberapa manfaat yang dihasilkan dari pendekatan STEM adalah membuat peserta didik mampu memecahkan masalah menjadi lebih baik, menjadi inovator, inventors, berpikir logis, mandiri dan menguasai literasi teknologi.

STEM pertama kali diluncurkan oleh National Science Foundation AS pada tahun 1990-an sebagai sebagai tema gerakan reformasi pendidikan dalam keempat bidang disiplin tersebut untuk menumbuhkan angkatan kerja bidang-bidang STEM, mengembangkan warga negara yang melek STEM, serta meningkatkan daya saing global AS dalam inovasi IPTEK (Hanover Research, 2011). Gerakan reformasi STEM ini didorong oleh laporan-laporan studi yang menunjukkan terjadi kekurangan kandidat untuk mengisi lapangan kerja dalam bidang-bidang STEM, tingkat literasi yang signifikan dalam masyarakat tentang isu-isu terkait STEM, serta posisi capaian siswa sekolah menengah AS dalam TIMSS dan PISA (Roberts, 2012).

Dewasa ini komitmen AS terhadap gerakan STEM diwujudkan dalam bentuk dukungan anggaran dari pemerintah, dukungan kepakaran dari banyak perguruan tinggi, serta dukungan teknis dari dunia industri, bagi pengembangan dan implementasi STEM.

Pendekatan STEM memberikan peluang kepada guru untuk memperlihatkan kepada peserta didik betapa konsep, prinsip, dan teknik dari sains, teknologi, enjiniring, dan matematika digunakan secara terintegrasi dalam pengembangan produk, proses, dan sistem yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Oleh karenanya, Reeve (2013) mengadopsi definisi pendidikan STEM sebagai pendekatan interdisiplin pada pembelajaran, yang di dalamnya peserta didik menggunakan sains, teknologi, enjiniring, dan matematika dalam konteks nyata yang mengkoneksikan antara sekolah, dunia kerja, dan dunia global, sehingga mengembangkan literasi STEM yang memampukan peserta didik bersaing dalam era ekonomi baru yang berbasis pengetahuan.

Pada jenjang sekolah dasar, sebenarnya pendidikan STEM sejalan dengan aplikasi Kurikulum 2013 yang mengisyaratkan pendekatan tematik terpadu dalam pembelajaran. Pendekatan tematik berarti memadukan beberapa muatan pembelajaran yang seide dalam suatu tema tertentu sehingga pemisahan antarmuatan pelajaran tidak terlihat. Tanpa siswa sadari, mereka belajar banyak muatan pelajaran dalam sekali waktu. Tiadanya pemisahan ini menghapus terkotak-kotaknya pengetahuan siswa sebagaimana konsep pembelajaran pada kurikulum-kurikulum sebelumnya.

Kurikulum 2013 yang baru saja diluncurkan tidak akan dapat mengatasi permasalahan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia Indonesia yang berdaya siang global, jika tidak secara sistematik menyiapkan mereka mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang disyaratkan dunia kerja Abad ke-21, sebagaimana diwujudkan dalam Pendidikan STEM.

Untuk mengatasi hal tersebut Pendidikan dengan pendekatan STEM bisa menjadi kunci bagi menciptakan generasi penerus bangsa yang mampu bersaing di kancah global. Oleh sebab itu, Pendidikan STEM perlu menjadi kerangka rujukan bagi proses pendidikan di Indonesia ke depan. Sesuai dengan karakteristik implementasi pendidikan STEM, penilaian hasil belajar dalam konteks pembelajaran sains berbasis STEM perlu lebih menitikberatkan asesmen otentik, khususnya asesmen kinerja (performance assessment).

Pembelajaran berbasis STEM menuntut pergeseran metode penilaian, dari penilaian konvensional yang bertumpu pada ujian dengan tes ke arah penilaian otentik yang bertumpu pada penilaian kinerja. Penilaian kinerja dengan menggunakan rubrik yang terancang baik perlu dilakukan guru, teman, serta peserta didik sendiri terhadap kinerja peserta didik selama aktivitas belajar serta produk hasil kerja kolaboratif untuk mengungkap ketercapaian standar hasil pembelajaran.

Pengembangan STEM di Indonesia diperlukan waktu yang lumayan panjang sehingga terobosan ini dapat memberikan wajah baru pendidikan di negara kita, oleh karena itu diperlukan dukungan dari berbagai pihak dan pemerintah sendiri tentunya sebagai penanggungjawab utama sistem pendidikan di Indonesia. semoga saja berhasil!

Oleh : Deni Komarudin, M.Pd. (Guru SDN Pangauban, Kabupaten Bandung Barat)