Gemamitra.com – Kota Tasikmalaya

SMP Negeri 5 Tasikmalaya yang berada di Jl.RE. Martadinata No. 85 Kec. Cipedes, Kota Tasikmalaya telah mengadakan workshop validasi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan strategi pembelajaran di masa pandemi. Hal itu bertujuan untuk memfasilitasi siswa belajar dengan mudah dan menyenangkan.

Kepala SMPN 5 Tasikmalaya Yuyun Siti Nooerhaesih, S.Pd., M.Pd, sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. Dia mengatakan bahwa kuota yang diterima di sekolahnya sebanyak 352 siswa. Saat ini pihak sekolah sedang berupaya untuk memberikan pembekalan kepada guru dalam penggunaan optimalisasi media sarana untuk pembelajaran terhadap siswa dengan narasumber yang berkompeten dibidangnya masing-masing.

Dia berharap tujuan pembelajaran bisa tercapai, anak mampu mengikuti pembelajaran secara maksimal, guru-guru dapat mentransfer ilmunya dengan baik dan adanya kerjasama yang baik dengan pihak orang tua.

“Semoga segala upaya, program yang sedang dijalankan dapat berjalan dengan lancar dan kondusif demi mewujudkan siswa-siswi yang unggul, berprestasi dan berakhlakul karimah,” harapanya, ditemui Gemamitra.com di Sekolah, Kamis 16/7/2020.

Sementara Wakasek Humas Yayan Saofyan Saury, S. Pd., M. Pd, bahwa dalam workshop kali ini sesuai arahan dari Kepala Sekolah Hj. Yuyun Siti Nooerhaesih, S.Pd., M.Pd, yang intinya membahas strategi pembelajaran, tapi ada juga pengantarnya yaitu membahas dulu RPP daring yang disesuaikan dengan kebijakan surat edaran no. 14 Tahun 2019 dari Menteri Pendidikan yang menjadi landasannya.

“Intinya ada tiga hal yaitu kegiatan pembelajaran, tujuan pembelajaran, dan penilaian kalau yang lain-lainnya disesuaikan dengan keperluan dan kepentingan. Di RPP dibahas juga berbagai hal kaitannya dengan Peraturan Menteri yang kaitannya dengan standar prosesnya, standar penilaiannya, dan banyak payung hukumnya yang masih mengacu kepada kurikulum 2013 dan surat edaran no.14 Tahun 2019,” terang Yayan.

Yayan menjelaskan, kami menitik beratkan kepada metode atau strategi pembelajaran di masa pandemi, diantaranya kami mencoba mengedepankan teknik-teknik pembelajaran daring, tapi tidak menutup kemungkinan kamipun harus menggunakan teknik yang lain seperti bertemu dengan siswa yang tidak mempunyai perangkat, misalnya tidak mempunyai perangkat android maka kami tetap fasilitasi.

Sekolah sudah menyiapkan tiga kelas untuk anak-anak, yang pertama anak-anak yang bisa digiring ke Google Classroom misalnya di kelas 9 saja itu alhamdullilah ada 27-28 siswa yang mengikuti aplikasi google classroom, sementara untuk yang lainnya ke whatsapp dengan pembelajaran yang sama. Kemudian ada juga yang perangkat whatsapp nya tidak ada, kami tetap melayani dengan membuat modul yang disesuaikan dengan materi yang ada di google classroom dan whatsapp.

“Jadi insya alloh semuanya sama, semuanya terfasilitasi dan untuk modul permateri yang dibahas cuma 50 persen tatap muka, yang tadinya 4 jam menjadi 2 jam dalam seminggu. Begitupun materinya juga esesial dan simpel yang kita pilah-pilah, menganalisa dari yang biasanya seabreg kita sederhanakan, dengan pemetaan materi sampai kurun waktu tertentu dan oleh karena itu si materinya paling satu atau dua lembar,” papar Yayan.

Lebih lanjut dikatakan, sebetulnya kami menunggu sekali arahan dari Dinas Pendidikan sebelum pelaksanaan belajar, tapi mungkin Dinas juga banyak hal yang harus mereka hadapi, tetapi kami sebelumnya berinisiatif sendiri cari tahu sekolah-sekolah lain dari daerah-daerah lain terkait pembelajaran masa sekarang. Alhamdullilah sebelum ada informasi dari Dinas kami sudah mempersiapkan dan ke sini-sininya ada informasi dari Dinas tentang pengelolaan pembelajaran daring, dan kurang lebihnya sama dengan apa yang kami rencanakan,” papar Yayan.

Rencananya kemarin kami untuk MPLS kelas 7 masuk, tapi karena mungkin zonanya mau biru terus hijau bahkan mengarah ke kuning pada akhirnya tim gugus tugas covid-19 tidak memberi izin kepada kami untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut, otomatis strategi kami langsung berbalik 180 derajat.

“Jadi yang asalnya anak-anak dikasih kesempatan mengikuti kegiatan MPLS kelas 7nya saja, tapi karena situasi dan kondisi tidak memungkinkan, maka kami melakukan persiapan-persiapan untuk memberikan informasi mengenai wawasan wiyata mandala, kondisi sekolah, guru-guru dan lain sebagainya melalui daring,” ujar Yayan.

Peran Sekolah dalam Menghadapi Pandemi

Keluarga besar SMPN 5 Tasikmalaya sangat responsif untuk membantu terdampak pandemi khususnya para peserta didik di sekolah mengingat kondisi orang tua mereka yang terkena dampak, akhirnya alhamdullilah kami berembug dan menyelenggarakan bansos dengan donatur yang tidak terikat dari manapun.

“Donatur kebanyakan dari keluarga sekolah baik itu dari guru-guru, keluarga guru-guru, dan perusahaan yang tidak mengikat,” kata Yayan.

Bantuan tersebut, lanjut Yayan, diutamakan untuk orang tua siswa, baik yang dekat maupun yang jauh berupa sembako plus transport, karena kami berpikir paling tidak mereka tidak harus bingung lagi dengan pengeluaran biaya berangkat ke sekolah.

“Sekitar 240 bingkisan waktu itu, bulan April yang lalu, sudah tersalurkan kepada yang berhak, termasuk kepada tetangga yang ada dilingkungan sekolah,” papar Yayan.

Prestasi Sekolah, Program CI Hantarkan Siswa Masuk Fakultas Kedokteran Termuda

Dalam bidang prestasi SMPN 5 Tasikmalaya cukup membanggakan, baik itu guru maupun peserta didik. Hal itu terbukti, salah seorang guru ada yang menjadi ikon prestasi tingkat Nasional yaitu Hj. Atin Sumartini yang memang telah berkiprah di berbagai kejuaraan dan juga sering menulis buku.

Disamping itu, beberapa guru SMPN 5 juga ada yang terlibat dengan kegiatan jadi guru pembelajar PKB dan PKP. “Seperti halnya penyelenggaraan daring ini, kami sudah mempunyai link karena kami berhubungan dengan guru nasional,” ujar Yayan.

Kemudian, untuk prestasi peserta didk juga alhamdullilah di tahun kemarin juara UN tertinggi se-Kota Tasikmalaya, juara 1 storytelling tingkat Kota, pelajaran Matematika masuk ke tingkat nasional yang diselenggarakan di surabaya tahun 2019, kemudian alumni SMPN 5 juga di SMA nya itu banyak menuai prestasi, dan tercatat sebagai Mahasiswa kedokteran termuda di Unpad usianya 15 tahun bernama Rein.

“Rein asal kelasnya juga dari kelas Cerdas Istimewa (CI) yaitu kelas istimewa atau akselerasi 2 tahun. Masuk SMAN 1 juga di kelas akselerasi dan alhamdullilah di usianya yang baru menginjak 15 tahun bisa masuk kedokteran,” pungkas Yayan.  (Tatang RA)***