Air Mata Bangga di Balik Denting Kendang, Alika Juara Jaipong Kota Tasikmalaya Bercita-cita Menjadi Guru Tari

Tasikmalaya – Gemamitra.com | Denting kendang mengalun mengiringi setiap gerakan yang ditampilkan seorang gadis kecil di atas panggung Pasanggiri Mandaka Jaipong yang digelar di area parkir belakang Asia Plaza, Kota Tasikmalaya, Kamis (2/7/2026).

Tepuk tangan penonton bergemuruh ketika penampilannya usai. Dengan wajah yang masih polos namun penuh percaya diri, Alika Nathania Lashira Shanuum sukses memikat perhatian dewan juri sekaligus ratusan pasang mata yang menyaksikan perlombaan.

Bacaan Lainnya

Siswi kelas III SDN 2 Sukamaju, Kelurahan Sukamajukaler, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya itu berhasil meraih Juara 1 Pasanggiri Mandaka Jaipong kategori SD Kelas 1–3 Pemula. Prestasi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri, mengingat ajang bergengsi itu diikuti sekitar 60 peserta dari berbagai jenjang pendidikan, mulai SD hingga SMA se-Priangan Timur.

Di kategorinya, Alika harus bersaing dengan 17 peserta lain yang memiliki kemampuan tak kalah baik. Namun, berkat ketekunan berlatih dan kecintaannya terhadap seni tari, ia mampu tampil memukau dan keluar sebagai yang terbaik.

Begitu iringan musik dimainkan, Alika menampilkan setiap gerakan dengan luwes dan penuh penghayatan. Jemarinya yang lentik, tatapan mata yang tajam, serta keluwesan tubuhnya seolah menyatu dengan alunan musik jaipong. Penampilannya bukan hanya menghadirkan keindahan tari, tetapi juga memperlihatkan semangat seorang anak yang mencintai budaya daerahnya dengan sepenuh hati.

Di balik penampilan memukau itu, tersimpan kisah yang tak kalah mengharukan. Di antara kerumunan penonton, Ridwan Ginansyah dan Eka Octa Muhartiasih berdiri menyaksikan putri semata wayang mereka tampil di atas panggung.

Saat nama Alika diumumkan sebagai juara pertama, keduanya tak mampu membendung air mata haru. Kebanggaan seorang ayah dan ibu tumpah menyaksikan buah hati yang selama ini mereka dampingi berlatih akhirnya mampu berdiri di podium tertinggi.

Bagi Ridwan dan Eka, kemenangan tersebut bukan sekadar soal piala atau piagam. Lebih dari itu, mereka melihat hasil dari proses panjang, kedisiplinan, kerja keras, dan doa yang terus mereka panjatkan untuk putri tercinta.

“Sebagai orang tua, kami berharap prestasi ini menjadi awal yang baik untuk Alika agar terus belajar. Jangan cepat puas, Nak. Tetaplah menjadi anak yang rendah hati dan pantang menyerah dalam mengejar cita-citamu,” tutur Eka Octa Muhartiasih dengan mata yang masih berkaca-kaca.

Alika sendiri mengaku masih diliputi rasa haru setelah dinobatkan sebagai juara. Dengan suara lirih dan senyum yang tak lepas dari wajahnya, ia mengatakan sangat bersyukur bisa mempersembahkan hasil terbaik.

“Saya merasa sangat senang, terharu, dan bangga pada diri sendiri. Saat menari, saya hanya memikirkan betapa saya mencintai tarian ini. Panggung ini adalah impian saya,” ucapnya.

Bagi Alika, menari bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang. Di balik setiap latihan yang dijalaninya, tersimpan sebuah cita-cita besar. Ia ingin menjadi seorang guru tari agar kelak dapat mengajarkan sekaligus melestarikan seni tradisional Sunda kepada generasi berikutnya. Di usianya yang masih sangat muda, ia telah memiliki tekad untuk ikut menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Prestasi yang diraih Alika pun mendapat apresiasi dari Kepala SDN 2 Sukamaju, Budiman, M.Pd. Menurutnya, keberhasilan Alika menjadi bukti bahwa usia bukanlah penghalang untuk meraih prestasi apabila disertai disiplin, kerja keras, dukungan keluarga, dan semangat belajar yang tinggi.

“Alika telah membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk mengukir prestasi. Ini adalah buah dari kedisiplinan, doa orang tua, dan kecintaan terhadap budaya bangsa. Kami di SDN 2 Sukamaju akan terus memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan bakatnya, baik di bidang akademik maupun nonakademik. Teruslah menari dan belajar, jadilah kebanggaan keluarga, sekolah, dan Kota Tasikmalaya tanpa pernah kehilangan kerendahan hati,” ujarnya.

Keberhasilan Alika menjadi pengingat bahwa panggung sederhana pun dapat melahirkan kisah yang luar biasa. Di balik piala yang kini digenggamnya, tersimpan perjuangan, doa orang tua, bimbingan para pelatih, serta semangat seorang anak yang mencintai budayanya. Dari jemari lentik seorang siswi kelas III SD, harapan untuk terus menjaga dan melestarikan seni tradisional Sunda kembali tumbuh, membuktikan bahwa warisan budaya akan tetap hidup selama ada generasi muda yang mau merawatnya dengan sepenuh hati.

Jika disesuaikan dengan ciri khas Gemamitra, naskah ini sudah lebih mengalir tanpa jeda antarbagian, dengan transisi yang halus dari suasana lomba, kisah keluarga, kutipan narasumber, hingga penutup yang menyentuh.**

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *