Tasikmalaya – Gemamitra.com | Di tengah dinamika zaman yang terus bergerak cepat, organisasi perempuan Nahdlatul Ulama, Fatayat NU, terus menunjukkan eksistensinya sebagai wadah kaderisasi yang progresif, adaptif, dan berdampak nyata di tengah masyarakat.
Bertempat di aula Bappelitbangda Kota Tasikmalaya, momentum pelantikan pengurus menjadi bukti bahwa roda organisasi terus berjalan, tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga merespons tantangan masa depan.
Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Kota Tasikmalaya secara resmi melantik 10 Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan 62 Pimpinan Ranting (PR) se-Kota Tasikmalaya, Sabtu, 24 April 2026.
Pelantikan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat struktur organisasi sekaligus memastikan keberlanjutan kaderisasi di tingkatan kepengurusan.
Ketua PC Fatayat NU Kota Tasikmalaya, Nunun Nuraeni, M.Pd., dalam sambutannya menegaskan bahwa peringatan hari lahir (Harlah) Fatayat NU tahun ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum refleksi atas perjalanan khidmat selama satu tahun terakhir.
“Hari ini kita berkumpul bukan sekadar seremonial, melainkan untuk merefleksikan satu tahun perjalanan khidmat kita di Kota Tasikmalaya. Dalam setahun ini, alhamdulillah, PC Fatayat NU telah bergerak nyata. Mulai dari titik nol pelantikan, kita langsung tancap gas dengan launching Senam Fatayat untuk kesehatan, konsisten dalam pengajian rutin, hingga penguatan ekonomi melalui koperasi dan program pemberdayaan lainnya,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa Fatayat NU Kota Tasikmalaya terus berupaya adaptif terhadap perkembangan zaman, salah satunya melalui inovasi dakwah digital bertajuk “KURMA” yang digelar selama bulan Ramadhan.
“Kita tidak boleh gagap teknologi. Hadirnya Dakwah Digital ‘KURMA’ membuktikan bahwa Fatayat Tasikmalaya adalah kader yang siap menjawab tantangan zaman,” tambahnya.
Mengusung tema “Berdaya, Berdampak, Mendunia”, Nunun menekankan pentingnya penguatan kapasitas kader secara menyeluruh. Berdaya, menurutnya, mencerminkan kekuatan intelektual, sosial, dan finansial kader. Berdampak berarti kehadiran Fatayat harus dirasakan langsung oleh masyarakat, baik dalam lingkup domestik maupun sektor publik. Sementara mendunia mengandung makna bahwa kader harus memiliki wawasan luas tanpa meninggalkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah.
Namun, di tengah semangat tersebut, terselip duka mendalam atas wafatnya Ketua Umum PP Fatayat NU, Margaret Aliyatul Maimunah. Sosok almarhumah dikenang sebagai teladan kader perempuan NU yang mengabdikan hidupnya sejak masa pelajar hingga akhir hayat.
“Beliau adalah inspirasi bagi kita semua, bahwa menjadi kader perempuan NU adalah jalan pengabdian menuju rida Allah,” ungkap Nunun dengan penuh haru.
Lebih lanjut, ia memohon doa restu dan dukungan dari seluruh pihak agar kepengurusan yang baru dilantik mampu menjalankan amanah dengan baik. Kehadiran 10 PAC dan 62 PR ini diharapkan menjadi energi baru dalam menggerakkan program-program Fatayat NU di Kota Tasikmalaya.
Pelantikan ini juga menjadi bukti nyata hasil kerja keras bidang kaderisasi dan organisasi dalam merawat kesinambungan kepengurusan. Proses kaderisasi yang berjalan baik diyakini akan melahirkan kader-kader perempuan NU yang tangguh, berintegritas, dan siap berkontribusi bagi masyarakat serta bangsa.
Dengan semangat kebersamaan, Fatayat NU Kota Tasikmalaya berkomitmen untuk terus membangun peradaban melalui tangan-tangan perempuan yang lembut namun berpendirian kokoh, tetap berpijak pada prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah. (Pakesit)**


















