Oleh: Siti Khoerunisa, S.Pd., M.Pd. (Kepala SDN Saripin Kota Tasikmalaya)
Hari Raya Idul Adha 1447 H yang jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026, merupakan momen istimewa yang selalu dinantikan umat Islam. Setiap tahun, kaum Muslimin di seluruh dunia menyambut Idul Adha dengan penuh suka cita. Takbir berkumandang di masjid, musala, hingga rumah-rumah umat Islam sebagai ungkapan syukur dan pengagungan kepada Allah SWT.
Namun, Idul Adha bukan sekadar perayaan yang ditandai dengan penyembelihan hewan kurban. Lebih dari itu, Idul Adha merupakan momentum untuk memperkuat keimanan, menumbuhkan keikhlasan, serta menebarkan kepedulian dan kebaikan kepada sesama.
Ibadah kurban merupakan salah satu ajaran penting dalam Islam yang tidak hanya bernilai ritual, tetapi juga mengandung nilai-nilai pendidikan yang sangat tinggi. Dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam, kurban dapat menjadi sarana pembentukan karakter siswa. Nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah kurban, seperti keikhlasan, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kepedulian sosial, dapat memberikan pengaruh positif terhadap sikap dan perilaku peserta didik.
Di balik perayaan Idul Adha terdapat kisah keteladanan yang agung dan menjadi inspirasi sepanjang masa, yaitu kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Kisah tersebut mengajarkan beberapa nilai penting, antara lain:
- Ketaatan kepada Allah SWT: Ketika Nabi Ibrahim AS menerima perintah melalui mimpi untuk menyembelih putra tercintanya, beliau tidak membantah dan tidak menunda pelaksanaannya. Sebaliknya, beliau berusaha menjalankan perintah tersebut dengan penuh keyakinan dan ketundukan kepada Allah SWT.
- Kepatuhan dan Bakti kepada Orang Tua: Nabi Ismail AS menunjukkan sikap patuh dan hormat kepada ayahnya. Ia menerima perintah Allah SWT dengan penuh keikhlasan dan kesabaran.
- Keikhlasan dan Pengorbanan: Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS sama-sama mendahulukan perintah Allah SWT di atas kepentingan pribadi. Nilai inilah yang menjadi inti dari ibadah kurban.
Allah SWT berfirman: “Maka ketika anak itu sampai pada (umur) sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.’” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Kisah ini menunjukkan bahwa keimanan tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga dari sejauh mana seseorang taat kepada Allah SWT dalam berbagai keadaan. Nabi Ibrahim AS rela mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya demi menjalankan perintah Allah. Sementara itu, Nabi Ismail AS menunjukkan kesabaran dan ketundukan yang luar biasa.
Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita tidak diperintahkan untuk mengorbankan anak seperti Nabi Ibrahim AS. Namun, kita sering dihadapkan pada pilihan antara mengikuti perintah Allah SWT atau mengikuti hawa nafsu. Misalnya, orang tua yang mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya demi pendidikan anak-anaknya; siswa yang tekun belajar dan mengurangi waktu bermain demi masa depan; serta guru yang meluangkan waktu di luar jam pelajaran untuk membimbing dan membentuk karakter peserta didiknya. Demikian pula ketika seseorang berusaha mengalahkan ego dan memaafkan orang lain demi menjaga persaudaraan.
Ibadah kurban juga mengajarkan bahwa segala sesuatu yang kita miliki sejatinya merupakan titipan Allah SWT. Harta, jabatan, kesehatan, dan berbagai kenikmatan lainnya bukanlah milik mutlak manusia. Oleh karena itu, ketika Allah memerintahkan sebagian rezeki tersebut untuk dibagikan kepada orang lain melalui kurban, seorang Muslim hendaknya melaksanakannya dengan penuh keikhlasan. Allah SWT berfirman: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (QS. Al-Hajj: 37)
Dalam ibadah qurban terdapat nilai nilai pendidikan islam yang dapat di implementasikan dalam kehidupan.adapun nilainilai pendidikan Islam dalam ibadah qurban yaitu,
1. Nilai Pendidikan Ibadah, Ibadah menurut bahasa artinya taat, taat artinya patuh, tunduk dengan setunduk-tunduknya, artinya mengikuti semua perintah dan menjauhi semua larangan yang dikehendaki oleh Allah SWT. Artinya : “ wahai sekalian manusia, beribadahlah kepada tuhan kalian yang telah menciptakan kalian serta orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa.” Ibadah merupakan bukti nyata bagi seorang muslim dalam meyakini dan mempedomi Aqidah Islamiyah. Karena nilai ibadah yang didapat dapat menumbuhkan keyakinan kita terhadap kebenaran ajarannya. Ibadah juga merupakan penyerahan diri seseorang hamba kepada Allah SWT.,ibadah yang dilakukan secara benar sesuai syari‟at Islam merupakan implementasi secara langsung dari sebuah penghambaan diri pada Allah SWT. Semua ibadah
2. Nilai Pendidikan Sosial. Manusia adalah makhluk yang selalu berinteraksi dengan sesamanya. Manusia tidak dapat mencapai apa yang diinginkan dengan dirinya sendiri. Karena manusia menjalankan peranannya dengan menggunakan simbol untuk mengkomunikasikan pemikiran dan perasaanya. Manusia tidak dapat menyadari individualitas. Manusia dikenal dengan makhluk homo socius, yakni sebagai makhluk sosial yang senang bekerjasama, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan manusia lain, karena dapat dipastikan bahwa manusia tidak akan mampu untuk hidup sendiri.
3. Nilai Pendidikan Meneladani. Nabi Seorang tokoh yang diidolakan mendapat tempat tersendiri dikalangan masyarakat pengikutnya, tokoh itu akan disebut-sebut, riwayat hidupnya selalu diingat, jasa-jasanya selalu dikenang, tingkah laku dan pemikirannya pun diikuti serta diteruskan secara berkelanjutan. Rasul merupakan figur keteladanan dan soko guru bagi segenap umat manusia. seluruh ucapan dan tindakannya merupakan kualitas tutur kata yang terbaik, mengandung pengajaran dan pelajaran. Setiap tindakan dan ucapan Rasul selalu dalam bimbingan Allah swt. hal ini terdapat dalam AlQur‟an surah Al-Ahzab ayat 21 yang artinya: sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan ia banyak menyebut Allah.dalam ibadah.
Pendidikan qurban memiliki korelasi yang positif terhadap peningkatan nilai Karakter pendidikan siswa. Melalui nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, siswa tidak hanya mendapatkan pembelajaran agama, tetapi juga pembentukan karakter yang baik. Hal ini berdampak pada peningkatan sikap, sosial, dan prestasi belajar siswa di sekolah.
Marilah kita jadikan momentum Idul Adha sebagai sarana untuk memperbaiki diri, meningkatkan ketakwaan, dan memperbanyak amal kebaikan. Dengan berqurban, kita belajar untuk ikhlas memberi, peduli kepada sesama, dan semakin dekat kepada Allah SWT.
Semoga Allah menerima ibadah qurban kita dan menjadikannya sebagai amal yang membawa keberkahan di dunia dan akhirat. Aamiin Ya Allah Ya Robbal Alamiin “Qurban adalah bukti cinta kepada Allah, maka guru adalah bukti cinta kepada ilmu dan masa depan generasi”**


















