Tasikmalaya, Gemamitra.com – Keberadaan Aksara Sunda di kalangan generasi muda semakin memprihatinkan. Minat anak-anak untuk mempelajari, membaca, dan menulis aksara warisan leluhur tersebut dinilai terus mengalami penurunan.
Kondisi itu menjadi perhatian Hj. Aan, S.Pd., M.Si., Kepala SD Negeri 1 Urug, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, yang selama kurang lebih 14 tahun aktif menjadi juri berbagai perlombaan Aksara Sunda sekaligus melatih peserta didik hingga mampu berprestasi di tingkat Kota Tasikmalaya maupun Provinsi Jawa Barat.
Menurut Hj. Aan, saat ini diperkirakan hanya sekitar 10 persen anak-anak yang mampu membaca dan menulis Aksara Sunda. Ia menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius agar warisan budaya Sunda tidak semakin ditinggalkan oleh generasi penerus.
“Anak-anak zaman sekarang menganggap Aksara Sunda itu ribet. Padahal itu warisan leluhur kita sendiri. Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi?” ujarnya.
Hj. Aan berharap Pemerintah Kota Tasikmalaya melalui Dinas Pendidikan memberikan perhatian lebih terhadap upaya pelestarian Aksara Sunda. Menurutnya, dukungan dan apresiasi kepada guru maupun peserta didik dapat menjadi salah satu bentuk motivasi untuk terus menjaga budaya daerah.
“Saya mohon dukungan dari Dinas Pendidikan maupun Bapak Wali Kota Tasikmalaya. Agar Aksara Sunda tidak sampai punah. Berikan perhatian, dorongan, dan apresiasi kepada para guru maupun anak-anak yang berjuang melestarikannya,” ungkapnya.
Selama mengabdikan diri dalam pelestarian Aksara Sunda, Hj. Aan mengaku belum pernah memperoleh penghargaan, baik berupa piagam maupun penghargaan materi dari instansi terkait. Kendati demikian, hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk terus mengenalkan Aksara Sunda kepada generasi muda.
“Penghargaan bukan tujuan utama. Yang saya inginkan cuma satu: Aksara Sunda jangan sampai hilang,” katanya.
Hj. Aan juga mengungkapkan, sekitar empat tahun lagi dirinya akan memasuki masa pensiun. Karena itu, ia ingin meninggalkan pesan kepada para guru, peserta didik dan generasi penerus agar terus mencintai serta menjaga budaya sendiri.
“Kepada anak-anak, para guru, dan generasi penerusku: jangan sampai Aksara Sunda hilang. Jangan bangga dengan budaya orang lain tapi melupakan warisan sendiri. Aksara Sunda itu jati diri kita. Kalau hilang, kita kehilangan identitas,” tegasnya.
Ia berharap upaya pelestarian Aksara Sunda tidak hanya menjadi tanggung jawab guru atau sekolah, tetapi menjadi gerakan bersama antara pemerintah, pendidik, peserta didik, orang tua dan masyarakat.
“Cintailah budaya sendiri. Jangan sampai Aksara Sunda punah di tanahnya sendiri. Itu tanggung jawab kita bersama,” pungkas Hj. Aan. (Asep M)**


















