Gemamitra.com – Kota Tasikmalaya
Komunitas pecinta alam yang tergabung dalam Rami Jenggala menggelar road show yang diberi nama Munggah Méré.

Acara tersebut merupakan respon kemanusiaan dalam rangka memutus mata rantai pandemi covid-19 yang semakin mewabah di kota Tasikmalaya.

Ketua pelaksana kegiatan Sandi Setiadi mengatakan, bahwa acara dilaksanakan selama tiga hari mulai tanggal 20 – 22 April tahun 2020.

Dituturkan Sandi, pada acara baksos ini ada dua kegiatan utama yaitu pembagian 500 masker secara bertahap selama 3 hari dengan cara menyusuri jalan hingga ke Pasar Cikurubuk.

Kemudian yang kedua penyemprotan disinfektan di wilayah Kp. Sukahening RT 02 Kelurahan Cigantang, serta tempat-tempat yang baru di semprot sekali atau belum pernah di semprot sama sekali yang memang belum ada respon dari pihak Kelurahan.

Di hari terakhir, Rabu 22/04/2020, penyemprotan dilanjutkan di Kelurahan Sukamulya, Kecamatan Bungursari tepatnya di Kp. Rancageneng.

“Setelahnya kami melakukan pembagian masker ke sejumlah jalan vital seperti. Jln. Cieunteung, Pusat Kota, Jl. Mitra Batik, Pool Budiman, dan Transmart dengan sasaran diutamakan para pedagang (PKL) tukang beca, para petugas kebersihan dan lain sebagainya,” terang Sandi.

Ia berharap dengan adanya kegiatan ini masyarakat sadar akan pentingnya penggunaan masker dan menjaga polah hidup bersih dan sehat (PHBS). “Sehingga penyebaran pandemi di Indonesia segera berakhir,” harapnya.

Sandi menjelaskan, kegiatan munggah méré ini diikuti oleh sembilan orang yang turun ke lapangan dan di dukung oleh Go-Jek Swadaya, Farid dari Airlight Bandung, teman-teman kami seperti Habib dan Tiara.

“Kami membuka kesempatan kepada siapapun yang akan masuk menjadi donatur, tapi kami tidak menerima dalam bentuk uang, melainkan berupa barang yang memang diperlukan ditengah kondisi saat ini,” ungkap Sandi.

Adapun rencana ke depan, lanjut Sandi, memasuki bulan ramadan mungkin Rami Jenggala akan memberikan sembako. Tapi ya seadanya, siapapun boleh menjadi bagian, karena kita cuma bisa membantu dengan tenaga dalam pembagiannya.

“Karena Rami Jenggala itu berkaitan dengan Alam dan Lingkungan. Dan kami juga tidak berharap orang lain akan ikut, tapi mari kita jangan hanya berbicara, tetapi kita lebih kepada gerak,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan semacam ini bukan memanfaatkan momen atau apapun itu, akan tetapi menjadi panggilan jiwa.

“Untuk itu dalam acara Munggah Méré ini kami berusaha menjadi bagian bagaimana caranya menjadi Media Kontemplatif bahan perenungan bersama,” pungkas Sandi, ditemui seusai acara berlangsung, Rabu 22/04/2020. (M. Rizky Arbianto)***