Bandung, Gemamitra.com – Bahaya narkotika tidak selalu hadir dalam bentuk ancaman yang terlihat. Ia bisa masuk melalui pergaulan, rasa penasaran, hingga keputusan yang dianggap sepele.
Bagi mahasiswa yang hidup jauh dari keluarga, kemampuan memilih lingkungan dan berani mengatakan tidak menjadi bekal penting untuk menjaga masa depan.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Penguatan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) yang digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Jawa Barat di Selah Hall – Piset Square, Kota Bandung, Kamis (27/8/2026).
Lebih dari 300 mahasiswa mengikuti kegiatan yang menghadirkan narasumber dari unsur pemerintah, Badan Narkotika Nasional (BNN) Jawa Barat, akademisi, hingga orang dengan HIV (ODHIV) yang memiliki pengalaman langsung terkait dampak penggunaan narkoba suntik.
Kegiatan dibuka Kepala Bakesbangpol Provinsi Jawa Barat, Drs. Wahyu Mijaya, S.H., M.Si. Para mahasiswa kemudian mendapatkan pemaparan dari Sesri Mayenti, S.E., M.M., Apt. Yohanes Eko Ariyanto, S.Si., M.Si., Dr. Deri Apriadi, S.E., M.E., serta Beri Rudiman.
Kehadiran sejumlah narasumber dari latar belakang berbeda membuat kegiatan tidak berhenti pada sosialisasi satu arah.
Mahasiswa diajak melihat persoalan narkotika dari berbagai sudut pandang. Mulai dari kebijakan pemerintah, pencegahan, pendekatan akademik, hingga pengalaman nyata seseorang yang merasakan langsung dampak penggunaan narkoba suntik.
Salah satu yang mendapat perhatian peserta yakni pemaparan Apt. Yohanes Eko Ariyanto, S.Si., M.Si., Kepala Tim Pencegahan BNN Jawa Barat.
Mahasiswa diberikan pemahaman bahwa pencegahan penyalahgunaan narkotika tidak cukup hanya dengan mengetahui jenis dan bahayanya. Lebih dari itu, diperlukan kewaspadaan, kemampuan membaca risiko, serta keberanian mengambil keputusan yang tepat ketika berhadapan dengan lingkungan pergaulan.
Generasi muda sendiri menjadi salah satu kelompok penting dalam upaya pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika. Mahasiswa juga didorong tidak sekadar menjadi sasaran edukasi, tetapi dapat mengambil peran sebagai bagian dari gerakan pencegahan di lingkungannya.
Perspektif akademik turut diberikan Dr. Deri Apriadi, S.E., M.E. Mahasiswa diajak memperkuat kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terbawa pengaruh lingkungan sosial maupun pergaulan.
Namun, suasana kegiatan berubah lebih personal ketika Beri Rudiman, ODHIV akibat penggunaan narkoba suntik, membagikan pengalaman hidupnya.
Kisah tersebut menjadi gambaran nyata bahwa penyalahgunaan narkotika bukan hanya persoalan hukum atau kesehatan, tetapi dapat membawa konsekuensi panjang terhadap kehidupan seseorang.
Pengalaman langsung tersebut membuat pesan bahaya narkotika terasa lebih dekat dengan kehidupan mahasiswa.
Terlebih bagi mahasiswa perantauan yang tinggal jauh dari keluarga. Kemandirian dalam memilih teman, menentukan lingkungan pergaulan, menjaga kesehatan, dan mengambil keputusan menjadi bagian penting dalam menjaga masa depan.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang sesi pemaparan dan dialog. Sejumlah mahasiswa mendapatkan wawasan baru mengenai cara mengenali risiko, menghindari penyalahgunaan narkotika, serta membangun lingkungan pertemanan yang lebih sehat dan positif.
Para peserta juga mengapresiasi Bakesbangpol Jawa Barat yang menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang.
Pertemuan langsung dengan unsur pemerintah, BNN, akademisi, serta ODHIV membuat materi P4GN tidak sekadar menjadi teori. Mahasiswa dapat melihat persoalan narkotika dari sisi kebijakan sekaligus pengalaman manusia yang pernah mengalaminya secara langsung.
Pesan pencegahan kemudian dikaitkan dengan pembangunan karakter Panca Waluya, yakni Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer.
Kelima nilai tersebut menekankan pentingnya hidup sehat, membangun hubungan sosial yang baik, menjaga integritas, memiliki kecerdasan dalam mengambil keputusan, mampu berkolaborasi, serta berani melakukan tindakan positif.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak lagi ditempatkan hanya sebagai penerima informasi.
Mereka diharapkan mampu menjadi bagian dari lingkungan sosial yang saling menjaga dari penyalahgunaan narkotika.
Di tengah Kota Bandung sebagai salah satu pusat pendidikan dan aktivitas generasi muda di Jawa Barat, penguatan kesadaran P4GN menjadi langkah penting untuk membangun lingkungan yang mendukung mahasiswa agar tetap sehat, produktif, kritis, dan bertanggung jawab dalam menentukan masa depannya.**


















