TASIKMALAYA, GEMAMITRA.COM — Malam semakin larut, namun semangat ratusan anggota Pramuka Kwarran Bungursari justru semakin berkobar. Nyala api unggun menerangi Lapangan SMP Negeri 16 Tasikmalaya, Jumat malam, 28 Agustus 2026, menjadi puncak kehangatan sekaligus penutup rangkaian kegiatan Pesta Siaga, Gladi Tangkas dan Lomba Tingkat II (LT-2) yang digelar Kwartir Ranting (Kwarran) Bungursari.
Di bawah langit malam yang cerah dengan cahaya bulan yang turut menerangi, kobaran api unggun berdiri di tengah lingkaran peserta. Deretan pohon kelapa dan pepohonan rindang di sekitar lapangan menambah suasana semakin khas dengan nuansa perkemahan Pramuka.
Ketika api mulai menyala, ribuan percikan bara tampak melesat ke angkasa. Cahaya api seakan menjadi simbol semangat persatuan dan kebersamaan para anggota Pramuka dari berbagai pangkalan sekolah se-Kecamatan Bungursari.
Ratusan peserta yang mengenakan seragam Pramuka lengkap berdiri membentuk lingkaran mengelilingi api unggun. Tatapan penuh antusias bercampur haru terlihat ketika kobaran api semakin membesar.
Di antara peserta, tampak para pembina, panitia pelaksana, serta para pendamping kegiatan turut mengikuti prosesi tersebut. Sejumlah pembina yang baru menyelesaikan Kursus Mahir Dasar (KMD) pada Juni 2026 juga hadir memberikan pendampingan kepada para peserta.
Ketua Pelaksana kegiatan, Ade Wowon, S.Pd., M.G., dalam sambutannya mengatakan, api unggun bukan hanya sekadar tradisi dalam kegiatan kepramukaan, tetapi memiliki makna yang mendalam tentang persatuan, kebersamaan dan pengabdian.
“Api unggun ini bukan sekadar nyala api di kayu yang terbakar. Ia melambangkan semangat—semangat persatuan, semangat kebersamaan, dan semangat pengabdian yang tak akan padam di dada kita,” ujarnya.
Menurutnya, keberagaman pangkalan dan sekolah bukan menjadi pembeda untuk membangun persaudaraan. Sebaliknya, perbedaan tersebut menjadi kekuatan dalam membentuk satu keluarga besar Pramuka.
“Seperti api yang menyatu dan berkobar kuat, demikian pula kita. Berbeda pangkalan, berbeda sekolah, tetapi satu jiwa Pramuka,” katanya.
Malam api unggun tersebut semakin semarak dengan berbagai penampilan seni dari peserta. Suara lagu-lagu kepramukaan menggema di tengah suasana malam, diselingi penampilan kreatif yang disambut tepuk tangan dan sorak semangat peserta lainnya.
Bukan sekadar hiburan, momen tersebut juga menjadi ruang bagi para peserta untuk membangun persahabatan, berbagi pengalaman, sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri dan kebersamaan setelah mengikuti rangkaian kegiatan selama beberapa hari.
Suasana khidmat dan meriah berpadu menjadi satu. Kobaran api yang terus menyala seolah menjadi penanda bahwa semangat kepramukaan tidak berhenti ketika kegiatan berakhir, tetapi diharapkan terus hidup dalam diri setiap peserta.
Ade Wowon menambahkan, acara api unggun menjadi penutup rangkaian kegiatan pada malam tersebut. Setelah itu, seluruh peserta dipersilakan beristirahat untuk mempersiapkan diri mengikuti agenda penutupan kegiatan pada Sabtu pagi, 29 Agustus 2026.
“Ini menjadi penutup rangkaian kegiatan sebelum seluruh peserta beristirahat dan melanjutkan acara penutupan pada Sabtu pagi, sekitar pukul 10.00 WIB,” pungkasnya. (Asep M)**


















