Tasikmalaya, Gemamitra.com – Pemerintah Kota Tasikmalaya terus mengejar penyelesaian persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS). Dari 7.520 anak yang tercatat dalam data sementara, sebanyak 4.470 anak telah selesai menjalani verifikasi dan validasi (verval), sementara sekitar 3.050 anak masih harus dituntaskan.
Pemkot Tasikmalaya menargetkan seluruh proses verval tersebut rampung pada Oktober 2026. Target itu menjadi bagian dari upaya memastikan anak-anak yang masuk dalam data ATS tidak sekadar terdata, tetapi benar-benar mendapatkan penanganan dan kembali memperoleh hak atas pendidikan.
Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, mengatakan proses penanganan ATS telah berjalan sejak 7 Agustus 2026 dengan melibatkan Dinas Pendidikan serta unsur kewilayahan.
Menurutnya, progres verval dalam kurun waktu sekitar satu bulan menunjukkan perkembangan cukup signifikan. Dari total 7.520 anak yang harus diverifikasi, sebanyak 4.470 anak telah berhasil diverifikasi.
“Alhamdulillah, sebulan berprogres sudah terverifikasi sebanyak 4.470. Sehingga ada sekitar 3.050 yang tersisa yang harus diverifikasi,” ujar Viman saat ditemui di Kecamatan Bungursari, Selasa (1/9/2026).
Tak berhenti pada proses pendataan, hasil verval juga mulai menunjukkan adanya anak yang berhasil dikembalikan ke dunia pendidikan. Dari ribuan ATS yang telah diverifikasi, sebanyak 2.764 anak diketahui sudah kembali aktif bersekolah.
Viman menegaskan, proses verval harus dilakukan secara cermat karena kondisi anak yang masuk dalam daftar ATS tidak semuanya sama. Di lapangan, petugas menemukan berbagai persoalan, mulai dari anak yang belum tercatat dalam Dapodik, pindah domisili, hingga anak yang sudah bekerja atau berhenti sekolah akibat persoalan ekonomi.
Karena itu, menurut Viman, penyelesaian data ATS tidak bisa hanya dilakukan melalui pencocokan administrasi. Kondisi riil masing-masing anak harus dipastikan agar intervensi yang diberikan tepat sasaran.
“Kalau bulan Oktober progres ini membaik, ini akan jadi kado terindah bagi Kota Tasikmalaya,” katanya.
Salah satu wilayah yang dinilai menunjukkan progres cepat yakni Kecamatan Bungursari. Dari 185 anak yang masuk dalam data ATS, sebanyak 177 anak telah berhasil diverifikasi.
Bahkan, 11 anak di antaranya sudah disalurkan untuk kembali mendapatkan layanan pendidikan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
“Sudah ada 11 anak yang sudah tersalurkan ke PKBM (sekolah nonformal). Mereka perempuan semua, jurusannya tata rias,” ungkap Viman.
Ia menyebutkan, persoalan ATS tersebar di berbagai jenjang pendidikan dan hampir seluruh wilayah Kota Tasikmalaya. Namun, berdasarkan data sementara, jumlah ATS cukup banyak ditemukan di kawasan pusat kota, di antaranya Kecamatan Cihideung, Tawang dan Cipedes.
Viman mengakui, progres verval di Kecamatan Cihideung masih menjadi salah satu yang perlu mendapat perhatian lebih.
“Cihideung itu paling lambat progresnya,” ujarnya.
Untuk mengejar target penyelesaian pada Oktober, Pemkot Tasikmalaya akan memperkuat koordinasi antara Dinas Pendidikan dengan unsur kewilayahan, termasuk melibatkan tokoh masyarakat. Pembaruan data juga akan dilakukan secara rutin agar perkembangan penanganan ATS dapat dipantau dari waktu ke waktu.
“Saya yakin dengan timeline bulan Oktober itu beres. Nanti dengan intensitas update per minggu, dan ketercapaian itu akan terwujud,” tegas Viman.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya, Rojab Riswan Taufik, mengatakan percepatan penanganan ATS merupakan pekerjaan bersama. Pasalnya, persoalan yang menyebabkan anak tidak bersekolah sangat beragam dan harus dilihat berdasarkan kondisi masing-masing.
Dinas Pendidikan, kata Rojab, terus berkoordinasi dengan unsur kewilayahan untuk memastikan keberadaan serta kondisi anak yang tercatat dalam data ATS.
“Jadi memang harus kita lihat satu per satu kondisinya. Jangan sampai data yang ada ini kemudian tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan,” kata Rojab.
Hasil verval nantinya akan menjadi dasar bagi pemerintah dalam menentukan bentuk intervensi yang tepat bagi masing-masing anak. Tidak semua anak membutuhkan penanganan yang sama, sehingga data lapangan menjadi sangat penting dalam menentukan langkah selanjutnya.
Rojab memastikan Dinas Pendidikan akan terus mengejar penyelesaian verval di seluruh wilayah sesuai target yang telah ditetapkan Wali Kota.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa keberhasilan program penanganan ATS tidak cukup hanya dengan menyelesaikan angka dan data.
Lebih dari itu, pemerintah harus memastikan anak-anak tersebut benar-benar kembali memperoleh akses pendidikan sesuai kondisi dan kebutuhannya.
“Yang paling penting bukan hanya datanya selesai, tetapi anaknya juga bisa kembali mendapatkan hak pendidikan,” pungkas Rojab.**


















