Gema Mitra – Kota Tasik

Pasca penilaian akhir sekolah (PAS), guru beserta seluruh siswa kelas VI SDN 2 Pengadilan telah merayakan hasil belajarnya dengan nonton bareng di dalam kelas. Kelas sebagai salah satu ruang belajar telah disulap seketika menjadi bioskop yang menyuguhkan tontonan sebagai tuntunan.

Perayaan ini tentunya tidak serta merta dibuat begitu saja. Namun dilakukan terlebih dahulu perencanaan bersama. Perencanaan ini dalam rangka mengkombinasikan kepemimpinan guru dan siswa sebagai bentuk tanggung jawab dalam menentukan sasaran yang akan dicapai.

Alt

Alhasil dari perencanaan tersebut sepakat untuk mempersiapkan hal yang dianggap perlu yaitu film yang akan ditonton. Tidak itu saja, dalam menambah semarak perayaan tersebut bendahara kelas siap menggelontorkan dana untuk berbelanja makanan mulai dari kelas berat sampai ringan termasuk cuci mulutnya yang sarat akan vitamin. Ditambah donatur makanan yang terus mengalir dari setiap siswa.

Sampai pada akhirnya bioskop kelas siap dibuat nyata, yaitu film yang disuguhkan adalah Taree Zameen Par (Seperti Bintang-bintang di Langit) tanpa teks. Seluruh siswa sangat antusias dan gembira d tambah sebelum pemutaran film beberapa siswa yang termasuk dalam organisasi kelas telah membagi-bagikan makanan yang sudah dipersiapkan oleh bendahara kelas beserta donatur lainnya.

Film Taree Zameen Par pun diputar dari awal sampai akhir dengan lancar. Kesuksesan sang sutradara Aamir Khan dalam meramu intrik emosional serta kental akan pesan moral dari novel yang ditulis oleh Amole Gupte patut diacungkan jempol karena telah mampu meluluh lantakan siswa berujung ledakan tangisan yang sulit untuk dihentikan ketika film beres diputar.

Selain itu, beberapa siswa mampu secara apik mempresentasikan kembali isi cerita yang terdapat dalam film tersebut dengan tepat. Tentunya, ini hal yang sangat menggembirakan, meskipun hanya dengan menyimak alur cerita dari awal sampai akhir kemampuan anak sudah luar biasa.

Alt

Sebagai bentuk pembuktian dari keyakinan penulis sebagai guru kelasnya bahwa pada dasarnya semua anak mempunyai keunikan, potensi dan kreativitas. Pun sengaja penulis memutar film tersebut tidak memakai teks bertujuan menyalakan percikan-percikan kreativitas pada seluruh siswa. Siswa diajak untuk bebas menuangkan berbagai fikirannya, membantu mengembangkan thinking skills (kemampuan berfikir), melangkah dari kongkrit ke berfikir abstrak sehingga mampu menghasilkan “loncatan intuitif”.

Dari hal tersebut, penulis mengajak kepada seluruh orang tua, guru dan masyarakat mari ciptakan dan sediakan lingkungan yang benar untuk melatih dan mengembangkan seluruh keunikan, potensi dan kreativitas anak-anak kita semua.

Semoga. (Ibud)