Pangandaran, Gemamitra.com – Insiden Jembatan Gantung Pongpet di Dusun Mergajaya, Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, saat peresmian beberapa waktu lalu, menyisakan keprihatinan. Ketua DPRD Kabupaten Pangandaran, Asep Noordin, menyampaikan belasungkawa sekaligus turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi jembatan tersebut.
Asep hadir bersama anggota Komisi III DPRD Kabupaten Pangandaran, H. Adang dan Supratman, S.IP. Kehadiran jajaran DPRD tersebut menjadi bagian dari tindak lanjut atas rencana pengalihan penanganan pembangunan kembali jembatan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Asep mengapresiasi respons cepat Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) terhadap kebutuhan masyarakat Pangandaran, khususnya terkait akses Jembatan Pongpet.
“Atas nama Kabupaten Pangandaran, kami mengucapkan terima kasih atas respons cepat dari KDM, Gubernur Jawa Barat, terhadap kebutuhan masyarakat, khususnya di Kabupaten Pangandaran,” ujar Asep kepada awak media, Kamis (03/09/2026).
Menurutnya, rencana pembangunan jembatan yang disampaikan Gubernur Jawa Barat harus segera ditindaklanjuti Pemerintah Kabupaten Pangandaran. Terlebih, apabila jembatan baru nantinya dirancang agar dapat dilalui kendaraan roda empat.
Bagi Asep, jembatan tersebut bukan sekadar akses penghubung antarwilayah. Jika mampu dilalui kendaraan roda empat, keberadaannya berpotensi menjadi penggerak ekonomi masyarakat sekaligus membuka akses baru bagi pengembangan pariwisata di wilayah tersebut.
“Mudah-mudahan apa yang direncanakan Gubernur Jawa Barat bisa sukses tercapai. Nantinya jembatan ini tidak hanya dilalui kendaraan roda dua, tetapi juga bisa dilewati roda empat. Sehingga betul-betul menjadi akses perekonomian masyarakat sekaligus akses wisata bagi wisatawan yang berkunjung,” katanya.
Ia menilai kawasan sekitar Jembatan Pongpet memiliki potensi wisata yang cukup besar. Salah satunya Kampung Badud yang memiliki kekhasan tradisi masyarakat di wilayah Margacinta dan Cibunian.
Selain itu, aktivitas wisata body rafting juga dinilai memiliki peluang besar untuk terus dikembangkan.
“Saya optimistis dan yakin, kalau roda empat bisa masuk, Insya Allah ini akan menjadi jembatan ekonomi masyarakat. Potensi wisata di sini juga bisa berkembang dengan baik,” ungkap Asep.
Lebih lanjut, Asep menegaskan rencana pembangunan jembatan pada 2027 tidak boleh baru dipersiapkan ketika proyek akan dimulai. Pemerintah Daerah harus menangkap rencana tersebut sebagai peluang yang perlu dipersiapkan secara matang sejak sekarang.
Menurutnya, sejumlah pekerjaan pendukung harus mulai dipetakan, mulai dari pelebaran jalan, Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin), kesiapan badan jalan hingga pembangunan tembok penahan tanah (TPT).
“Yang disampaikan KDM selaku Gubernur Jawa Barat, rencananya akan dimulai tahun 2027. Maka dari itu saya mengajak Pemerintah Daerah untuk menangkap sinyal tersebut. Apa yang harus dilakukan mulai dari pelebaran jalan, Amdal Lalin seperti apa, kemudian persiapan teknis pembuatan jembatan,” jelasnya.
Asep juga menekankan pentingnya kajian teknis sebelum pembangunan dilakukan. Kondisi tanah dan struktur bebatuan di sekitar lokasi harus terlebih dahulu diuji untuk memastikan jembatan yang dibangun nantinya benar-benar aman, nyaman, dan sesuai dengan kondisi lapangan. “Secara prinsip harus dilakukan uji kelayakan terlebih dahulu terhadap kondisi tanah dan bebatuan. Saya kira ini menjadi rujukan untuk pembangunan tahun 2027,” tegasnya.
Ia menambahkan, kesiapan infrastruktur pendukung harus berjalan beriringan dengan rencana pembangunan jembatan. Jangan sampai jembatan selesai dibangun, tetapi akses menuju lokasi justru belum memadai. “Pemerintah Daerah harus mempersiapkan semuanya, termasuk badan jalan, TPT, dan sebagainya. Jadi ketika pembangunan jembatan dilaksanakan, seluruh infrastrukturnya sudah siap,” pungkasnya.**


















